
°°°
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dihalaman rumah. Mia sudah tidak sabar bertemu keluarganya. Beruntungnya dia punya suami yang begitu pengertian. Tidak mempermasalahkan harus tinggal dimana setelah menikah.
Para penjaga dengan sigap membukakan pintu untuk mereka. Senyum sumringah langsung terbit di bibir indah Mia. Ehh tunggu, tapi kenapa di depan rumah ada sesuatu yang besar lalu ditutupi kain. Ada apa dibalik kain itu? Mia saat melihat kotak hadiah yang tadi sudah ditutup dengan kain hitam.
"Ada apa?" tanya Daniel saat istrinya hanya diam saja.
"Itu..." Mia menunjuk kotak yang tadi. "Apa itu, kenapa ada disini?"
Daniel mengerti dan sudah tau isinya apa tapi itu kejutan untuk istrinya dari daddy Alex jadi dia tidak memberitahu nya. "Entahlah, kita masuk saja nanti tanyakan pada orang rumah. Bukannya kau sudah rindu dengan mamah."
Mia menurut saat mendengar nama mamahnya, dia memang sudah sangat rindu. Digenggamnya tangan Daniel, lalu ia berjalan masuk.
Begitu membuka pintu rumah ternyata semua orang sudah menunggu mereka. Termasuk Felice yang sudah siap dengan terompet dan segala pernak-perniknya, heboh sendiri.
"Mereka sudah datang...," bisik Felice setelah mengintip dari lubang pintu.
Dann...
Preeeetttt... preeeetttt... Suara terompet yang Felice tiup benar-benar memekikkan telinga. Sampai Daniel dan Mia pun menutup telinga mereka rapat-rapat.
"Selamat datang pengantin baru." Setelah itu taburan pernak-pernik bertebaran di atas kepala Mia dan Daniel.
"Selamat datang kembali kakakku tersayang dan kakak ipar." Felice tersenyum memamerkan deretan giginya, tanpa rasa bersalah telah membuat gendang telinga mereka berdua hampir pecah dan sudah mengotori rambut dan pakaian mereka juga.
"Kau itu masih saja seperti anak kecil. Mana ada menyambut pengantin seperti acara ulangtahun seperti ini." Mia menggerutu.
"Sudah sayang, adikmu itu niatnya baik," bujuk Daniel. "Iya kan adik ipar," ujarnya pada Felice.
"Iya kak, kakak ipar benar. Biar ramai, hehehe..."
__ADS_1
Para orang tua yang melihat mereka hanya tertawa, tingkah mereka memang selalu bisa menghibur.
"Sudah-sudah, ayo masuk. Kami sudah menunggu kalian untuk sarapan bersama." Dad Alex menyuruh anak-anak untuk menyudahi keributan kecil mereka.
,,,
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Menu sarapan kali ini benar-benar sangat lengkap, Ada makanan kesukaan Mia dan Daniel juga di sana.
"Nah sayang, ini makanan kesukaan Daniel kalau di rumah. Mommy mau mau memperkenalkannya padamu, tapi sebenarnya suamimu itu tidak begitu pemilih jadi suka makan apa saja kalau di rumah." Mommy Tania menjelaskan pada Mia.
"Tapi Mom, aku..."
"Sssttt... mommy tau kamu tidak begitu pandai memasak, tidak masalah kau juga harus bekerja pasti lelah kalau memasak juga. Mommy menyampaikan ini supaya kamu bisa memesan pada bibi apa saja yang harus dimasak. Begitu kira-kira, tapi kalau kamu mau belajar masak dan memasak untuk suami mu sesekali, mommy akan sangat senang." Mom Tania tersenyum teduh. Tidak ada paksaan apapun, semuanya terserah menantunya.
Toh jaman sekarang memang wanita karir lebih menjamin masa depan dari pada yang cuma duduk di rumah dan menghabiskan waktu di depan kompor, mau menyambut suaminya pulang baunya tidak karuan tapi kalau istri tidak masak dibilangnya di rumah tidak ngapa-ngapain. Lebih bagus lagi kalau bisa seimbang antara berkarier dan keluarga.
"Terimakasih Mom."
"Nah itu juga bagus, tidak harus apa-apa wanita kan jadinya." Mom Tania setuju saja.
"Apa kau bisa memasak nak?" tanya mamah Emma.
"Bisa Mah, Daniel selalu ingat kata kakek kalau masakan di rumah adalah yang paling sehat. Jadi saat di luar negeri aku belajar masak makanan dari berbagai negara. Setelah sedikit bisa jadi tidak perlu lagi beli di luar."
"Hebat sekali, sambil belajar, bekerja, masih mau memasak sendiri," puji mamah Emma pada menantunya.
"Wahh sepertinya kakak ipar sudah jadi menantu kesayangan mamah nih sekarang," Ledek Felice yang melihat interaksi mereka.
Semua orang jadi tertawa bersama.
"Ok, sekarang kita sarapan saja dulu jangan sampai terlewat. Bukannya begitu pak dokter?" tanya dad Alex pada putranya.
__ADS_1
"Iya iya, sebaiknya kita sarapan sekarang."
Para istri lebih dulu melayani suami mereka barulah memikirkan dirinya sendiri, lalu Felice juga sama dia mendahulukan mamahnya. Saat sarapan berlangsung hanya ada celotehan Felice sesekali, yang terus memuji masakan mommy Tania. Aa... Mia jadi iri, sayang sekali dari dulu yang ia pikirkan hanya bekerja dan bekerja jadi tidak punya waktu untuk belajar memasak. Urusan masak memasak juga sudah ada mamah Emma yang memegang.
Tapi kalau urusan beberes, Mia sudah pasti bisa. Kalau ada sedikit saja yang tidak sesuai dengan tempatnya saat masih di apartemen, Mia langsung membereskannya.
"Mia, apa besok kau mulai masuk kerja atau mau libur lagi?" tanya dad Alex.
"Sudah terlalu lama aku libur Dad, aku akan masuk bekerja lagi besok." Sudah mulai terbiasa dengan panggilan Dad. Entah kalau di perusahaan dia harus memanggil apa di hadapan karyawan lain.
"Baiklah, tapi kalau kau masih lelah libur lagi saja."
"Tidak Dad, Daniel juga besok sudah mulai bekerja jadi lebih baik aku bekerja juga dari pada di rumah."
"Kau sudah tau profesi Daniel seperti apa, kadang waktu kerjanya tidak menentu dan bisa saja sewaktu-waktu panggilan darurat menelepon nya. Daddy harap kau bisa mengerti nantinya. Itulah kenapa Daddy tidak setuju Daniel menjadi dokter bedah, seperti kakeknya yang jarang punya waktu untuk keluarga."
"Aku mengerti, Dad. Daniel juga sudah membicarakannya pada ku," ujar Mia.
"Tapi Daddy sudah mengingatkan suami mu agar tidak terlalu mengabaikan keluarga nantinya. Harus bisa mengatur waktu juga dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga." Dad Alex memberikan sedikit semangat.
"Apa yang kalian bicarakan, ada Daddy membicarakan kejelekan ku dihadapan istri ku." Daniel baru saja datang dari dalam, saat melihat istri dan daddy-nya sedang mengobrol di teras belakang.
"Untuk apa membicarakan kejelekan mu. Nanti Mia juga tau sendiri tanpa Daddy kasih tau." Dad Alex bangkit dari duduknya, berlalu begitu saja padahal putranya sedang penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Sayang, apa Daddy bicara macam-macam. Jangan percaya kalau dia menjelekkan ku ya." Daniel yang sudah duduk dihadapan Mia mencoba mencari tau.
"Kami hanya membicarakan kerjaan, Niel. Kenapa kau itu selalu berprasangka buruk pada Daddy."
"Bukan begitu sayang, itu karena Daddy memang suka seperti itu."
Mia hanya menggeleng heran, lalu matanya kembali melihat laptopnya yang masih menyala. Melihat apa saja pekerjaan yang belum terselesaikan oleh penggantinya selama kurang lebih hampir dua Minggu karena sebelum menikah juga Mia sudah mulai libur. Ternyata tidak terlalu banyak. Mungkin orang yang dad Alex rekrut memang orang yang terlatih dan berpengalaman.
__ADS_1
to be continue...