Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
53.


__ADS_3

°°°


Dan saat ini dua pria itu saling menatap tajam. Yang satu dengan gemuruh dalam dadanya karena merasa punya saingan sedangkan yang satu karena sudah mengganggu waktunya.


"Kenapa harus dia, apa tidak ada yang lain?" Daren akui kalau gampang bagi Daniel jika mau wanita yang seperti apapun, lalu kenapa harus menyukai wanita yang sama dengannya. Pantas saja selama ini sepupunya itu tidak pernah mau membantunya untuk mendekati Felice, ternyata ada niat terselubung di dalamnya.


"Dia?? Dia siapa? Apa maksudmu? Kau menarikku kemari hanya untuk bertanya seperti itu." Jengah rasanya menghadapi tingkah sepupunya.


"Tidak pura-pura tidak tau, aku bisa melihatnya kalau kau juga menyukainya?" Tunjuk Daren pada dua kakak beradik itu.


Daniel menyerngitkan dahinya, saat Daren menunjuk Mia yang masih memeluk sang adiknya.


"Kenapa kau bisa tau," ujar Daniel, tentu yang ia maksud adalah perasaannya pada Dokter pada Mia.


"Tentu aja aku tau, dari caramu menatap saja tidak biasa," ujar Daren.


"Mereka memang kakak beradik yang manis." Daniel memamerkan gigi putihnya.


"Berhenti menatapnya! Kau berikan penjelasan atau aku akan berbuat nekad. Katakan sebelum habis kesabaran ku," ancam Daren dengan rasa cemburu yang membuncah.


"Aku tidak punya alasan, ini memang sudah takdirnya. Heeh... kenapa juga aku harus menjelaskannya padamu. Mau aku memilih siapa yang akan menjadi istri ku itu tidak ada hubungannya dengan mu." Daniel baru saja melangkah pergi tapi Daren sudah lebih dulu mencegahnya.


"Apa kau bilang istri? Apa maksudmu istri?? Kau langkahi mayat ku dulu kalau mau menikahi nya," tantang Daren.


"Kau yakin? Kau mau jadi mayat sekarang? Kau bahkan belum menikah dan mempunyai anak," pancing Daniel agar sepupu konyolnya tidak menghalanginya lagi.


"Aku tidak peduli, untuk apa aku masih hidup kalau gadis yang aku sukai direbut oleh orang lain. Aku sudah tidak punya semangat lagi untuk hidup." Seharusnya hal itu terdengar menyedihkan tapi bagi Daniel justru aneh.


Apalagi kalau sang ayah yang mendengar putranya berkata seperti itu hanya dengan wanita. Bisa habis Daren oleh ayahnya.


Sebuah ide terlintas dipikiran Daniel agar bisa lepas dari sepupunya itu. Dia memandang ke arah lain seolah-olah ada orang disana.


"Paman... apa kau sudah lama di sana?" ujarnya.


Benar saja kalau Daren langsung lari dan bersembunyi begitu mendengar ayahnya disebut. Berharap apa yang tadi dia ucapkan tidak di dengar oleh pria tua itu.

__ADS_1


Sementara Daniel tertawa puas melihat sepupunya yang ketakutan, padahal tadi dia tampak sangat berani tapi baru menyebutkan paman saja sudah lari seperti melihat hantu.


Daniel segera menghampiri Mia dan Felice yang masih sedang melihat keadaan mamahnya lewat jendela kaca yang di sediakan karena memang pasca operasi belum boleh dijenguk.


"Mungkin butuh waktu untuk beliau sadar dari operasi yang panjang. Kalian beristirahatlah, akan ada perawat khusus yang menjaga mamah kalian. Nanti kalau sudah dipindahkan aku akan mengabari kalian segera," ujar Daniel.


"Dokter, terimakasih kami sudah banyak merepotkan Anda," ujar Mia. Mungkin memanggil dokter tidak buruk juga.


"Tidak perlu sungkan," jawab Daniel.


"Terimakasih kakak ipar," goda Felice lagi. Dia punya hobi baru sekarang, yaitu menggoda pasangan yang masih canggung itu.


"Kami permisi dulu, maaf dia memang suka asal bicara." Mia pergi dari sana dengan menarik tangan adiknya. Sepertinya adiknya itu harus sedikit diperingati agar tidak asal bicara, bagaimana kalau yang dipanggil kakak ipar itu tak suka dengan panggilan itu.


Kau salah Mia. Justru Daniel sangat suka. Pria itu bahkan mengulum senyumnya sejak mendengar panggilan itu.


"Kak, kenapa kau menarikku?" protes Felice.


"Kau jangan sembarang memanggil orang begitu, bagaimana kalau dia tidak suka dan merasa terganggu. Kakak juga belum menikah dengannya jadi jangan memanggil nya begitu."


"Kenapa Kak? Dokter Daniel saja tidak masalah, kenapa kakak yang protes. Lihatlah calon suami kakak itu masih menatap kakak bahkan dari jauh, manis sekali...," Felice malah gagal fokus karena Daniel yang terus memperhatikan kakaknya.


"Diamlah Fel, jangan menggoda kakak lagi. Intinya, kakak tidak mau mendengar kamu memanggil nya seperti itu lagi." Mia yang tidak ingin terus digoda pun memilih pergi. Demi kesehatan jantungnya juga yang berdegup kencang sejak tadi.


"Kak, kau mau kemana. Tunggu aku!" Felice sedikit berlari mengejar kakaknya.


,,,


Kini Emma sudah dipindahkan ke ruangan rawat. Mia dan Felipe pun bisa leluasa untuk melihat dan menemani mamahnya.


Perlahan mata wanita yang terbaring lemah itu mengerjap. Jari-jarinya pun bergerak saat berada pada genggaman Mia yang sedang disampingnya.


"Mamah... mamah sudah bangun?"


Mendengar sang kakak mengatakan jika mamah mereka sudah bangun pun Felice mendekat.

__ADS_1


"Mah... apa mamah mendengar suaraku?" tak menyerah Mia. Dia berusaha memanggil mamahnya. Dia sudah rindu pada wanita yang telah melahirkannya itu. Padahal belum juga sehari mereka berpisah.


Sang mamah pun mulai membuka matanya. Dan yang pertama ia lihat adalah kedua putrinya, putri-putrinya yang amat sangat berharga untuknya. Tuhan masih begitu baik padanya karena sudah memberikan kesempatan padanya untuk melihat mereka lagi.


"Mia... Felice..."


"Maamaah...," keduanya menghambur memeluk mamah Emma.


"Apa kalian mau membuat mamah sesak nafas," ujar Emma untuk mencairkan suasana haru itu.


Mereka pun segera melepaskan diri, hampir saja mereka melukai mamahnya sendiri. Bisa-bisa besok ada artikel yang berjudul 'Seorang Ibu Meninggal Karena Dipeluk Anaknya' kan tidak lucu kalau beneran terjadi.


"Maaf Mah, kami terlalu senang melihat mamah sudah sadar."


"Oh iya aku lupa, aku akan panggilkan dokter sebentar," ujar Felice, tapi belum juga ia keluar dari kamar itu. Daniel sudah datang bersama beberapa perawat dan satu dokter lagi yang Felice tau kalau dia tak sehebat dokter Daniel.


"Silahkan masuk dokter, baru saja saya mau memanggil anda dan mengatakan kalau mamah saya sudah sadar." Felice mempersilahkan dokter Daniel dan yang lainnya masuk. Untunglah dia bisa menempatkan diri disaat situasi seperti itu dia tidak asal memanggil kakak ipar. Karena jika itu terjadi pasti sekarang akan banyak pertanyaan dari beberapa orang yang mendengar.


Mia juga sudah menyingkir agar dokter bisa memeriksa keadaan mamahnya.


Daniel terlihat begitu profesional meski yang ia periksa kini adalah calon ibu mertuanya. Meski ada rasa gugup tapi dia tetap harus menutupinya.


"Semuanya cukup baik Nyonya, anda terlihat lebih baik dari sebelumnya."


"Itu karena putriku memberi kabar baik," ujar Emma, membuat Mia dan Daniel hampir merona.


"Hmmm.... apa ada yang tidak nyaman di bagian kepala atau yang lain saat ini?" tanya Daniel.


"Tidak ada Dok."


"Baiklah kalau ada yang anda rasakan harus segera memberi tau putri-putri anda, jangan lagi disembunyikan karena hanya akan membuat putri-putri anda merasa bersalah."


"Saya tidak akan melakukan hal itu lagi Dok."


"Kalau begitu saya permisi, beristirahatlah jangan dulu banyak bergerak."

__ADS_1


Daniel melirik Mia sekilas sebelum akhirnya dia melangkah keluar. Diikuti pada perawat dan Daren yang masih merasa kesal.


"Terimakasih kakak ipar," iseng Felice saat Daniel melewatinya. Tapi sebenarnya dia sengaja, jika tadi dia ingin semua orang fokus untuk mengurus mamahnya kini dia ingin hubungan dokter yang paling tampan di rumah sakit ini diketahui banyak orang. Karna Felice tau banyak sekali para perawat dan dokter muda yang berlomba-lomba mendekati Daniel.


__ADS_2