Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
150. Bertahanlah Sampai Bantuan Datang


__ADS_3

Hari ketiga.


Anjing pelacak mulai di kerahkan untuk mencari korban yang ada di bawah lumpur. Lumayan juga untuk mempercepat evakuasi, Jadi alat berat bisa mencari jalan yang memang di bawahnya tidak ada mayatnya.


"Lapor tuan, tenda pengungsian diperkirakan jaraknya sudah semakin dekat.'


Dad Alex pun senang mendengarnya. Tidak percuma dirinya semalaman curhat dengan foto mendiang kakeknya lalu tiba-tiba saja dia mempunyai ide untuk mendatangkan anjing pelacak. Sekarang tim penyelamat terbagi jadi beberapa tim, ada yang fokus mencari korban yang mungkin tertimbun dan ada yang fokus mencari korban selamat seperti dad Alex dan timnya.


"Bagus, teruskan pencarian dan sedikit percepat. Kalau perlu kita datangkan lagi bala bantuan dari berbagai negara yang sudah lebih berpengalaman," perintah dad Alex. Dia yang pandai dalam taktik bisnis ternyata bisa juga dalam urusan seperti itu.


"Siap laksanakan, Tuan."


Alat-alat berat terus bergerak cepat memecah kubangan lumpur dan batuan besar yang berasal dari reruntuhan bukit yang dulunya begitu indah dan menjadi ikonik kota A. Sebagai destinasi wisata juga. Kini malah menjadi momok yang menakutkan bagi kota A, Sebagian bukit yang tersisa juga terlihat menakutkan, satu gempa lagi pasti bisa membuatnya runtuh. Usut punya usut ternyata di bawah perbukitan itu dijadikan lokasi pertambangan berbagai macan hasil bumi yang ada di sana dikeruk habis-habisan. Tidak hanya itu, kota A juga ternyata surga tersembunyi bagi kaum yang yang hanya menyukai surga dunia. Banyak tempat penjajakan wanita malam dan juga surganya bagi kaum penyuka se-sa-ma je-nis juga. Lalu ju-di dan juga minuman keras adalah makanan sehari-hari. Jangan lupa kejahatan kriminal yang juga bertebaran dimana-mana.


Mungkin itulah mengapa sang pencipta murka, sudah buminya dirusak, tempatnya pun dijadikan tempat mak-si-at dan berbuat dosa. Sebelum ada gempa pun penduduknya sudah tercemar dengan penyakit menular sek-su-al. Beruntungnya para petugas medis yang kemarin jadi relawan sangat memperhatikan kebersihan dan selalu menggunakan masker dan sarung tangan saat mengobati korban.


,,,

__ADS_1


"Sa-kit...."


"Ma-kan... la-par..."


"Ha...-us... sakit..."


"To-long sakit sekali."


Orang-orang korban gulungan lumpur tanah dan bebatuan besar saling bersahutan meminta pertolongan dan meminta makanan.


Ya mereka adalah orang-orang yang saat itu ada disekitar tenda. Dan ikut menjadi korban. Kebanyakan adalah penduduk asli di sana. Sebagian relawan medis.


"Bagaimana ini? Keadaan mereka semakin parah?" panik tentu saja, melihat orang kesakitan mungkin sudah biasa bagi petugas medis tapi yang membuat mereka panik adalah mereka tidak bisa mengobati mereka karena tenda persediaan obat dan alat medis sudah hilang terbawa lumpur.


"Entahlah, aku pusing. Tubuhku saja lemas, dari kemarin cuma makan daun dan minum air. Perutku rasanya seperti diaduk-aduk," keluh rekannya. Bagi yang tidak biasa memakan daun-daunan mentah dan minum air hujan pastilah sangat menyiksa. Tapi mau bagaimana lagi, hanya satu-satunya cara agar mereka bertahan hidup sampai bantuan datang.


"Kapan bantuan datang, aku juga sudah tidak tahan dengan bau busuk mayat-mayat di luar." Keluh yang lainnya lagi.

__ADS_1


Tidak ada alat untuk mencangkul tanah, membuat mereka kesulitan untuk menguburkan jenazah yang berserakan diluar. Para warga yang awalnya masih selamat tapi akhirnya meninggal juga karena keterbatasan keadaan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi oleh sisa tenda yang rusak. Beruntung tidak ada lalat karena ada salah satu dokter forensik disana yang tau caranya merawat jenazah.


"Ayo kita cari makanan lagi, sebelum gelap dan banyak binatang liar datang," ajaknya.


Mereka pun mengangguk lalu meninggalkan para penduduk yang mengaduh kesakitan. Lebih memilih mencari makanan dari pada mendengar kan rintihan mereka karena di sana pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kalian mau kemana?"


Suara seseorang yang sangat mereka segani membuat mereka berhenti melangkah dan berbalik.


"Kami mau mencari dedaunan, Dok," jawab salah satu dari mereka berempat.


Orang itu tersenyum kemudian berkata, "Bawalah obor dan korek api bersama kalian karena sebagian hewan liar takut dengan api. Dan berhati-hatilah, jangan sampai kemalaman. Sebelum matahari terbenam sebaiknya sudah kembali kesini."


Mereka manggut-manggut mengerti, awalnya mereka tidak mau melakukan hal itu tapi setelah merasakan bagaimana rasanya daun-daun yang ada di hutan rasanya tidak begitu buruk dan bisa mengganjal perut mereka dari kelaparan. Semua itu berkat ajaran orang yang ada di depan mereka saat ini. Walaupun dia lulusan luar negeri tapi pengetahuannya sangat luas, itu karena dia sering menghabiskan situasi seperti itu saat menjadi relawan juga.


Dia memandang rekan-rekannya yang semakin menghilang masuk ke dalam hutan. Untunglah kalau ilmu dia punya bisa membantu sesama dan membuatnya bertahan hidup. Kemudian berbalik kembali masuk ke dalam tenda khusus para relawan.

__ADS_1


"Bertahanlah, bantuan pasti segera datang." Berucap pada semua orang.


__ADS_2