
°°°
Semakin hari keadaan Zoro semakin membaik. Namanya anak-anak mau sakit ataupun apa tetap saja suka mainan. Seperti saat ini, dia sangat senang dengan begitu banyaknya mainan dari aunty-aunty nya. Siapa lagi kalau bukan Mia dan Felice yang memanjakan bocah itu.
Meski mereka baru pertama bertemu dengan Zoro tapi mereka langsung menyayanginya. Untunglah kamar rumah rawat yang ditempati luas, jadilah ada tempat untuk bocah itu bermain-main dengan mainan yang tentunya tidak pernah sekalipun ia impikan. Mobil-mobilan, robot, dan masih banyak lagi.
"Sayang, sudah dulu ya mainnya. Kamu belum boleh terlalu lelah nak." Lucy mencoba membujuk putranya karena sudah terlalu lama bermain.
"Zo mau nan... nan Zo anyak mi.. "
"Iya sayang, Zoro senang ya punya banyak mainan. Maafkan mami ya karena tidak pernah memberikan kamu mainan yang bagus seperti ini." Lagi-lagi Lucy hanya bisa menatap nanar pada putranya, sebagai ibu dia merasa tidak becus hanya mengurusi satu anak saja dia tidak mampu membuat nya bahagia.
"Mami no no no, no angis..." Bocah itu menggelengkan kepalanya melihat ibunya bersedih.
"Tidak sayang, Mata mami hanya kelilipan debu tadi. Kamu lanjut main ya, mami siapkan obat kamu dulu." Lucy mengusap kepala putranya lembut lalu beranjak dari sana.
Ya dia hanya mengurusnya sendirian, ibunya tidak memungkinkan untuk ikut menjaga Zoro. Sesekali Felice ataupun Mia datang untuk menemaninya dan mengajak Zoro bermain. Felice selalu ingin menginap tapi Lucy tidak pernah mengijinkan. Keluarga itu sudah banyak membantu nya, Lucy tidak ingin merepotkan lagi.
Semua fasilitas dan biaya operasi saja Mia lah yang menanggung nya. Tapi Lucy berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan menabung sampai bisa mengganti itu semua. Kalau pun tidak, dia juga bersedia mengabdikan hidupnya untuk keluarga itu.
"Sayang, minum obat dulu ya," ujar Lucy sambil membawa satu sendok sirup obat ditangannya.
"No... Zo Ndak mau mi."
Siapa sih anak kecil yang suka obat, termasuk Zoro juga. Dia paling susah kalau disuruh minum obat.
__ADS_1
"Katanya Zo mau sembuh, mau main ke rumah Aunty Felice yang besar kan? Nah kalau Zo mau cepat sembuh harus minum obat," bujuk Lucy tak hilang akal.
"No..." Bocah itu menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Sayang... ayo buka mulut nya."
Lama Lucy membujuk, sampai bocah itu meraung-raung tidak mau. Dia pun akhirnya menyerah karena tidak ingin membuat pasien yang lain terganggu oleh suara tangisan anaknya.
"Ada apa ini..." Daren yang kebetulan lewat dan mendengar suara tangisan dari bocah laki-laki itu pun langsung menghampiri mereka. Dilihatnya bocah itu sedang menangis dan memberontak di pelukan ibunya.
"Maaf Dok, tadi saya mau memberinya obat tapi dia tidak mau malah menangis. Maafkan anak saya karena sudah membuat keributan." Lucy merasa bersalah, dia pasti sudah mengira akan ada yang datang menegurnya seperti biasa.
Pernah dia merasa ingin pulang saja dan merawat Zoro di rumah tapi Daniel, Mia dan yang lainnya tidak setuju.
"Maaf Dok..." lirih Lucy.
"Hai boy...," sapa Daren pada bocah yang masih menangis itu. Dia tersenyum ramah.
Mendengar ada suara orang, Zoro pun mengintip sedikit karena dia adalah tipe anak yang takut pada orang asing.
"Hai... boleh uncle berkenalan dengan mu. Nama uncle Daren, namamu siapa anak tampan?" Daren coba mendekat.
Zoro yang memang takut dengan orang asing itu pun menyembunyikan wajahnya ke dalam dekapan ibunya. Tapi untungnya tangisnya sudah berhenti sejak tadi, hanya tinggal terisak sedikit.
"Sayang... itu dokter nya mau kenalan sama Zoro, ayo sayang, tidak boleh gitu kalau ada orang yang mau kenalan." Bisik Lucy pada putranya.
__ADS_1
Zoro pun mulai mengintip lagi, biasanya kalau yang dia tidak suka pasti akan langsung menjerit dan menolak bertemu. Tapi kali ini dihatinya ada sedikit rasa penasaran pada pria itu. Kenapa rasanya dia seperti kenal dekat dengan pria berjas putih itu, ingin mendekat tapi takut kalau dokter itu menyuntiknya.
"Zo, atut di cus mi..." Sambil memperagakan jarinya seolah jarum suntik lalu mengarahkan nya pada lengannya.
"Tidak apa-apa nak, dokter Daren tidak bawa suntikan. Iya kan dokter?" Lucy memberi isyarat agar Daren mengiyakan perkataan nya.
"Eehh iya tampan, aku tidak membawa apapun. Lihatlah, tangan ku kosong kan?"
Zoro kembali mengintip, dilihatnya memang pria itu tidak membawa suntikan yang bisa menyakiti nya seperti biasa.
Beberapa saat kemudian.
Zoro sudah mau bermain bersama Daren, bocah itu sangat antusias menunjukkan mainan barunya pada pria yang baru dikenalnya itu. Zo juga tidak sungkan-sungkan meminta peluk dan duduk di pangkuan Daren sesekali. Sampai Lucy merasa tidak enak sendiri pada pria itu.
"Sayang, mainannya lanjut dengan mami ya. Dokter mau mengobati pasien," ujar Lucy.
Bocah itu langsung menggeleng dan berlari ke pelukan Daren. "Zo, mau ama angkel dotel aja."
"Sayang...," gelisah Lucy.
"Tidak apa-apa, kerjaan ku juga sudah selesai." Daren meyakinkan Lucy.
"Maaf merepotkan Anda." Lucy sebenarnya juga tidak nyaman karena Zoro putranya pasti akan susah lepas dari Daren kalau sudah terlalu akrab. Mungkin karena anak itu tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya jadi kalau dekat dengan pria dewasa akan susah lepas.
"Uncle mau main sama Zoro tapi ada syaratnya. Zoro harus minum obat dulu biar cepat sembuh, kalau tidak uncle tidak mau main-main sama Zoro lagi." Daren pura-pura merajuk.
__ADS_1
Bocah itu pun panik saat mendengar pria itu tidak mau main dengan nya lagi. "Angkel dotel dangan pelgi, Zo mau num obat..." lirih, terdengar sangat lirih. Selalu seperti ini saat ada pria yang membuatnya nyaman, mereka hanya sebentar datang lalu pergi lagi meninggalkan Zoro yang kesepian.