Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 45. Kami Pergi


__ADS_3

Lucy merasa terasingkan dalam sekejap. Dia merasa bukanlah siapa-siapa saat ini. Ia cukup sadar diri kalau kehadiran dirinya dan sang putra dalam hidup Daren lah yang membuat semuanya seperti ini.


Dia sangat sakit saat melihat suaminya terpuruk tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan berani untuk menenangkannya saja tidak. Rasanya dia terlalu takut dan belum siap kalau Daren menyalahkan nya. Meski ia sangat sadar kalau dirinya yang menyebabkan semua itu.


Saat semua orang mendekat dan mengelilingi brangkar. Lucy lebih memilih putranya untuk menepi dari sana. Di sisi yang mungkin tidak terlihat oleh ayah mertuanya. Ia takut kalau kehadirannya justru akan menambah masalah.


Sebenarnya dia ingin menunggu di luar saja, tapi Felice dan juga mamah Emma terus membujuk nya untuk masuk. Alhasil, dia tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam ruangan itu terasa penuh sesak. Terlebih saat melihat interaksi antara suami dan ayahnya.


'Maafkan aku tuan, maaf karena saya. Anda jadi seperti ini. Saya harap anda bisa bertahan dan terus menemani Daren. Saya berjanji akan mengikuti mau anda, meninggalkan Daren dan pergi ke tempat yang sangat jauh.'


"Mi, apa itu kakek. Kenapa kakek ditempelin banyak alat seperti itu."


"No sayang, jangan panggil beliau Kakek. Apa kau lupa dengan pesan mami?" Lucy memperingati putranya. Bukan tanpa alasan, tapi hal itu ia lakukan karena ayah mertuanya yang tidak ingin mendengar Zoro memanggilnya kakek. Itu dulu saat Lucy dan Daren belum menikah , paman Sam sempat datang ke apartemen yang ditempatinya.

__ADS_1


Saat itu Zoro kecil tidak sengaja memanggilnya kakek, paman Sam yang saat itu masih tidak suka dengan mereka pun langsung melototi Zo kecil dan memperingati Felice serta mendiang mamahnya. Tapi Felice tidak pernah sekalipun bercerita pada Daren mengenai apasaja yang ayah mertuanya lakukan.


Zoro paham, dia juga masih ingat akan pengalaman menyakitkan itu. Karena itulah dia enggan kalau diajak menemui ayah dari papinya.


Sementara Daren dan semua masih berusaha untuk membujuk paman Sam agar mau melakukan operasi.


"Tidak nak, biarkan ayah menemui ibumu."


Mereka saling menggenggam tangan dan enggan untuk berpisah. Kalau saja waktu bisa diputar, Daren akan jadi anak yang patuh agar ayah nya tak salah jalan karena terlalu khawatir.


Lucy semakin menunduk, tak sanggup lagi ia berada di sana dan melihat orang yang ia cintai begitu terpukul tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tak pantas ada di sana, karna dialah semua ini terjadi.


"Zo... ayo kita pergi. Mami akan membawa Zo jalan-jalan, Zo mau kan?" tanya Lucy begitu lirih tanpa ada yang mendengar kecuali Zoro.

__ADS_1


Zoro tidak begitu paham dengan apa yang terjadi, tapi dia bisa merasakan bagaimana dirinya dan maminya seperti tidak di harapkan di sana. Dia juga begitu kecewa saat tadi ia sempat mencoba berbicara pada Papinya, tapi laki-laki yang selama ini selalu bersikap baik dan sayang padanya malah seperti enggan melihatnya.


"Ayo mi... " Daren menautkan tangannya pada tangan sang mami. Lucy pun tersenyum dalam kepahitan. Lalu menuntun putranya keluar dari ruangan itu.


Semoga setelah kami pergi ayah mertua mau melakukan operasi dan kalian bisa berkumpul kembali. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua yang tersisa, Daren. Jangan kecewakan ayahmu lagi. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan mu.


Kami pergi... Terimakasih atas kebahagiaan yang sudah kamu berikan padaku dan Zoro. Terimakasih sudah memberi Zoro kesempatan untuk merasakan kasih sayang seorang ayah. Terimakasih atas benih yang sudah kau titipkan di rahimku. Aku berjanji akan menjaga anak kita dengan baik. Terimakasih Daren...


Lucy membawa Zoro semakin menjauh, kakinya terus melangkah dengan segala kepedihannya.


Di ruangan.


Sama sekali tidak ada yang menyadari kepergian Lucy. Mereka terlalu sibuk dengan memikirkan paman Sam yang tetap kekeuh dengan keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2