
°°°
Mia sudah bisa membaur dengan baik hanya dalam waktu singkat. Mungkin karena sosok nyonya Glace yang begitu ramah padanya. Dalam waktu singkat pula dia berhasil bersekutu dengan nyonya Glace untuk meledek Daniel.
Laki-laki itu pun frustasi saat nyonya Glace terus-terusan membicarakan hal yang memalukan tentangnya saat masih kanak-kanak.
"Oh bibi, berhentilah membicarakan kejelekan ku. Bagaimana kalau Mia karena hal itu, Mia jadi tak mau menikah dengan ku," ucap Daniel memohon. Dia merasa seperti sedang ditelan jan ngi oleh mereka berdua. Bagaimana tidak, kalau masa kecilnya yang nakal dan penuh tingkah sekarang sedang dibocorkan pada calon istrinya.
"Tentu saja harus, Mia harus tau bagaimana saat kau masih kecil. Sangat nakal dan suka mengganggu orang lain, apalagi saat di rumah sakit. Daniel suka sekali membuat masalah untuk kakeknya." Nyonya Glace tertawa saat mengingat masa-masa itu. Dulu dia amat menyayangi bocah yang nakal itu, baginya Daniel kecil bukannya nakal tapi dia hanya banyak rasa penasarannya.
"Yang ada nanti Mia ilfil duluan bi." Daniel mengerutkan hidungnya dan melirik Mia yang tengah tertawa. Jantung Daniel berdebar kencang saat melihat Mia tertawa dengan sangat natural. Bukan tawa palsu yang biasanya ia tampilkan di depan rekan kerjanya.
"Sudah sudah melihatnya, awas saja kalau kau tidak bisa menahan diri saat berdua nanti," seloroh nyonya Glace yang membuat mereka berdua terkesima. Wanita itu seperti bisa menebak apa yang terjadi di mobil tadi.
Hmm... Daniel sampai membasahi tenggorokannya yang terasa kering seketika.
"Oh ya bibi, aku kesini mau meminta kau membuatkan gaun pengantin untuk calon istriku. Pernikahan kami kurang dari seminggu lagi, apa bibi bisa?" tanya Daniel sungguh-sungguh. Ia berharap dihari bahagianya nanti bibi Glace bersedia ikut andil.
"Hmm sepertinya kalian salah kalau datang kemari untuk itu. Bibi sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu dalam waktu yang singkat. Membuat gaun tentu butuh waktu yang lama," ujar bibi Glace tampak menimbang permintaan Daniel.
"Aku mohon bi, bukannya bibi sendiri yang bilang dulu kalau aku menikah akan membuat kan calon istri ku gaun yang indah. Aku yakin bibi pasti bisa, nanti aku akan kirimkan orang kemari untuk membantu bibi," mohon Daniel dengan mengatupkan kedua tangannya penuh harap. Dia percaya dengan wanita yang pernah menjadi bagian masa kecilnya ini.
__ADS_1
"Hmmm... baiklah bibi memang tidak bisa ingkar janji padamu." Bibi Glace menyetujui permintaan Daniel.
Pria itu memeluk bibi Glace penuh haru, baginya bibi Glace sudah seperti ibunya sendiri. Daniel pun begitu menyayangi wanita itu, sayang dulu wanita itu menolak untuk tetap tinggal di massion nya. Dengan alasan ingin bebas dan tidak bergantung pada orang lain.
Bibi Glace mengusap lembut kepala Daniel, anak nakal yang dulu selalu membuatnya repot. Tidak menyangka dia sudah sebesar ini sekarang. Semoga saja Daniel masih seperti Daniel lima belas tahun silam saat terakhir mereka bertemu. Daniel yang baik, menyayangi keluarga dan peduli pada orang lain. Tapi ia bangga karena anak yang dulu ia asuh kini sudah berhasil menggapai impiannya.
Ya bibi Glace adalah pengasuh Daniel sewaktu masih kecil, dulu mereka sangat dekat. Karena Daniel lebih banyak menghabiskan waktu dengan sang pengasuh. Kemana-mana maunya dengan bibi Glace. Sampai saat dirasa Daniel sudah mandiri dan tidak butuh pengasuh disekitarnya lagi. Bibi Glace memutuskan untuk berhenti. Meski keluarga besar kakeknya Daniel menahan bahkan diiming-imingi gaji yang besar. Bibi Glace tetap memilih untuk berhenti.
Dulu Daniel sampai demam beberapa hari saat ditinggal bibi Glace. Tapi tekad wanita itu sudah bulat, ia tidak ingin anak asuhnya manja dan ketergantungan dengannya. Meski ia sendiri begitu berat untuk meninggalkan Daniel pada saat itu. Dan kakeknya Daniel pun memberikan pesangon yang banyak yang akhirnya ia gunakan untuk membuka toko pakaian dengan hasil jahitannya sendiri.
"Terimakasih bibi, kau selalu mengerti apa yang aku mau."
Mia begitu tersentuh melihat mereka berdua, Pantas saja banyak anak orang kaya yang lebih dekat dengan pengasuhnya ketimbang dengan ibunya sendiri. Kalau pengasuh nya sangat tulus dan baik seperti bibi Glace.
"Bibi, aku hanya terlalu bahagia bi," elak Daniel sambil menghapus sisa-sisa air mata yang menggenang di sudut mata. Tak ingin Mia melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Pertemuan mereka dilanjutkan dengan bibi Glace yang mulai mengukur tubuh Mia dengan meteran yang ada di lehernya. Dia mengukur dan mencatat dengan cekatan, dari bahu, lengan hingga kaki Mia. Bibi Glace juga menanyakan detail tema pesta pernikahannya, konsep dan rincian lainnya.
Mia tebak mungkin untuk menyesuaikan dengan gaunnya nanti.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup, bibi Glace mulai mengambil pensil dan kertas, lalu mulai menarik garis hingga membentuk sebuah desain gaun yang sangat indah. Mia bisa melihat keindahannya walaupun masih dalam bentuk coretan tangan.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kau suka?" tanyanya pada Mia.
"Ini indah Nyonya, aku menyukainya." Mia terpana dengan gaun itu. Membayangkan tubuhnya memakai pakaian yang pas di badannya membuatnya malu karena selama ini dia selalu memakai pakaian yang longgar.
"Tenang saja, ini tidak akan terlalu terbuka. Hanya bagian pundak yang sengaja dibuat turun untuk memperlihatkan lehermu yang indah. Bibi tau kau menyembunyikan keindahan itu sendiri selama ini. Tapi bibi ingin kau tunjukkan keindahan itu pertama kali pada suamimu di hari pernikahan nanti," ujar bibi Glace dengan idenya.
"Anda bahkan memikirkan hal seperti itu Nyonya, anda pasti sangat berbakat," puji Mia pada ide bibi Glace.
"Tentu, gaun pengantin bukan hanya untuk indah di pandang tamu undangan tapi juga untuk pasangan. Bibi yakin Daniel tidak akan berkedip saat melihat mu memakainya nanti."
Bibi Glace melempar senyum teduhnya pada Mia yang kini tersipu. Tapi bahkan ia tak yakin kalau Daniel akan terpana. Pasti di pernikahan mereka nanti akan banyak gadis yang jauh lebih muda dan cantik.
"Aku menantikannya bi, hari dimana aku tidak bisa berpaling dari istriku," ujar Daniel.
Mia tak boleh terlalu percaya diri, mungkin saja Daniel mengatakan hal itu hanya untuk membuat bibi Glace merasa senang. Iya Mia terus meyakinkan hatinya agar tidak jatuh terlalu dalam di dalam hubungan yang mungkin hanya sementara itu.
"Tidak perlu ragu pada Daniel, dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Dia pasti bisa membahagiakan mu." Bibi Glace seperti bisa menebak apa yang sedang Mia pikirkan.
"Nyonya..."
"Panggil aku bibi seperti Daniel."
__ADS_1
to be continue...