
°°°
"Kau sangat mempesona Mia. Aku ingin menjadi kan mu milikku satu-satunya. Aku harap benihku sudah mulai tumbuh di dalam rahimmu, kalaupun belum aku bersedia menanamnya lagi."
Daniel menyentuh perut rata Mia, rencananya kalau sudah tidak ada acara lagi. Ia akan membawa istrinya untuk mengecek ke dokter kandungan. Besar harapannya, mengharapkan benihnya sudah tumbuh menjadi janin.
"Aaa... Niel, kau mau membawaku kemana?" Mia memekik saat tubuhnya tiba-tiba melayang, pelakunya tentu saja Daniel.
"Kita pindah tempat yang lebih nyaman."
"Turunkan aku Niel! Sudah cukup! Aku tidak mau lagi." Mia memukul da-da Daniel. Tapi pria itu sama sekali tidak menghiraukannya, dia terus berjalan membawa tubuh Mia ala bridal style.
Sampai di dekat ranjang, Daniel baru menurunkan tubuh Mia di atas kasur dengan sangat hati-hati. Seolah tubuh sang istri harus ia jaga sepenuh hati, tidak boleh lecet barang sedetikpun.
"Niel kau mau apa, sebentar lagi kita harus bersiap." Mia waspada saat Daniel merangkak naik ke atas kasur. Dia berusaha menutupi kedua bagian tubuhnya.
"Tidak akan lama, cuma sebentar."
"Jangan macam-macam Niel, aku tidak mau." Mia menyilangkan keduanya.
"Tapi sepertinya tubuh mu yang menginginkannya," bisik Daniel saat tubuhnya sudah berhasil menindih tubuh Mia. Secepat kilat dia kembali mencicipi bi-bir yang semakin sek-si karena bengkak akibat ulahnya.
"Emm..." Mia berontak dan tidak mau membuka mulutnya. Bi-birnya sudah terasa kebas akibat serangan berkali-kali dari Daniel.
Daniel terus menggoda istrinya agar mau membuka mulutnya. Dengan lihai dia berhasil menerobos masuk. Bertukar sali-va pun terjadi lagi. Tidak ada kata bosan yang ada ketagihan. Mau lagi dan lagi.
"Akhh... Niel.. jangan, stop it!" Mulut boleh berkata jangan tapi tubuh malah ingin melanjutkan. Seperti Mia yang berkata jangan saat Daniel menyapukan li-dah di lehernya, tapi tubuhnya justru tidak singkron. Dia malah mendongakkan kepalanya, membuka ceruk lehernya lebar.
"Aku suka aroma mu, wangi yang membuat ku rindu." Daniel menghirup aroma sabun yang ada di tubuh Mia. Bukan sabun mahal tapi ia suka. Harum buah-buahan yang membuatnya ingin terus menikmati nya.
"Akhh Niel..."
__ADS_1
"Biarkan aku menikmati ini." Daniel masih belum mau beranjak dari area itu.
"Kau membuat ku kotor lagi Akhh..." Ya Daniel sudah melumuri wajah, telinga dan leher Mia dengan lidahnya yang basah. Belum lagi keringat akibat kegiatan mereka. Percuma dia mandi tadi.
"Tenang saja, nanti kita mandi bersama."
Bibir Daniel semakin turun kebawah, pada belahan da-da yang selalu menggoda iman. Ukurannya yang di atas rata-rata membuat siapa saja ingin menja-mahnya. Itulah yang membuat Daniel kesal saat di acara tadi. Bagaimana mata para pria menatap istrinya dengan tatapan yang menjijikkan, bahkan di antaranya laki-laki tua.
Kalau saja itu bukan pesta pernikahan nya pasti sudah ia hancurkan dan mengusir semua orang pergi dari sana. Tak rela rasanya saat miliknya di tatap oleh orang lain dengan tatapan penuh na-fsu.
Sekarang benda berharga dan indah itu ada di hadapannya, miliknya seorang, dan hanya dia yang berhak menikmati nya.
Daniel menggigit bongkahan daging yang menyembul itu dengan gemas. Bagaimana istrinya bisa memiliki da-da besar dan indah itu. Seperti belum pernah terjamah siapapun. Memang benar karena malam itu Daniel lah yang berhasil mengoyak se-la-put da-ranya pertama kali.
Mia mer-emas seprei di sekitarnya, menjadikannya pegangan saat tubuhnya bergetar terkena badai yang hebat. Daniel baru melakukan itu saja, dia sudah mau meledak lagi.
"No Niel... cukup! Akkhhh... ini gilaa... aku tak tahan."
Daniel tak mengindahkan peringatan Mia. Dai terus memainkan pa-yu-da-ra itu dengan tangannya, dan sesekali memberikan gigitan kecil di pu-c-uk yang sudah mene-gang.
"Aakhh... apa kau anggap itu mainan, jangan me-re-mas nya terlalu keras." Mia menahan sakit saat tangan Daniel semakin diluar kendali. Da-da nya tentu saja itu asli, bukan hasil operasi apalagi suntik solihin. Mia juga sempat heran kenapa bisa mempunyai ukuran da-da yang begitu besar. Karena itulah ia menutupinya dengan selalu berpenampilan tertutup agar tak mengundang syah-wat laki-laki yang melihatnya.
"Maaf, aku terlalu gemas dengan ini." Masih sibuk me-mi-lin dan meng-hi-sap are-ola bergantian karena kini tali lingerie yang ada di pundak Mia sudah ia tarik ke bawah. Kini benda bulat itu nyata sudah terpampang indah itu di depan matanya.
"Niel, jangan melihatnya seperti ini." Mia merona saat Daniel tak berkedip melihat bu-kit kem-barnya. Tangannya pun terulur, berusaha menutupi walau percuma karena da-da besarnya mana muat tutupi pakai tangan.
"Jangan ditutup, biarkan aku melihatnya. Dulu aku belum sempat memperhatikan keindahan ini. Sungguh milikmu sangat indah," puja Daniel, dia juga berusaha menyingkirkan tangan Mia. Tak ingin kehilangan momen luar biasa itu begitu saja.
Mia semakin merona dibuatnya, Daniel benar-benar memuja miliknya saat ini dan ia merasa senang. Benda yang selama ini ia anggap memalukan karena baginya terlalu besar kini bisa membuat suaminya senang.
Mia yang semula menolak pun pasrah, meski sesekali masih mengungkapkan apa yang ia rasakan. Dia ingin menyudahi semua itu tapi tubuhnya malah menginginkan sentuhan Daniel lagi dan lagi. Mungkinkah di umurnya yang sekarang membuat li-bi-donya mudah naik dan terbakar.
__ADS_1
"Ohhh... Niel ... pelan sedikit." Mia merancau tak karuan, tubuhnya meliuk-liuk seiring dengan sentuhan tangan Daniel yang gemas dengan mi-liknya. Begini kah rasanya, pantas saja banyak orang yang ketagihan setelah mencobanya.
"Astaga... lepas Niel... aku mau ke kamar mandi."
Mia berusaha menjauhkan kepala Daniel dari da-danya. Rasanya aneh, dia ingin sekali ke kamar mandi tapi mulut pria itu masih saja menempel pada pu-c-uk yang mengeras. Meng-hi-sap nya seperti bayi kehausan dan memutar-mutar li-dahnya menggoda.
Mia sudah tidak tahan, rasanya sesuatu ingin meledak. Ia melengkungkan tubuhnya keatas sehingga da-danya yang besar semakin menantang Daniel untuk bermain lebih gilaa.
"Niel... stop!! Aku mau ke kamar mandi." Mia merengek meminta ampun. Tubuhnya sudah bergetar hebat.
"Disini saja sayang, keluarkan lah."
Apa-apaan laki-laki itu malah tersenyum menyeringai, sambil tangannya yang tidak berhenti me-re-mas dan dua jarinya di gunakan untuk me-mi-lin.
"Akhh... Niel... Kau jahat, kau gilaaa...!" Segala umpatan Mia layangkan pada laki-laki yang tidak memberinya ampun. Dia tidak bisa kabur dari sana.
Daniel kembali me-ma-gut bi-bir Mia kasar, sambil tangannya yang terus bekerja. Sampai tu-buh Mia bergetar hebat dan tangannya mencengkram lengannya erat.
Duarr ... Mia sudah tidak tahan lagi dan menumpahkannya di sana. Seiring tangannya yang mulai mengendurkan cengkraman nya.
Apa itu tadi. Aku barusan melayang...
to be continue...
°°°
Aku kasih bonus untuk hari ini ya BESTie 🎉🎉🎉
Jangan lupa Like komen dan bintang lima, kalau mau vote juga boleh banget dongggh 😝
Jangan lupa mampir ke novel baru othor ya.
__ADS_1
Judul Nikahi Aku, Kak!