Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
84. Terlambat


__ADS_3

°°°


Bocah kecil yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan aunty nya pun menyela antrian begitu saja. Sampai sang ibu dan ayahnya merasa tak enak pada semua orang.


"Ya ampun, Kenan. Ayo nak turun dulu. Kau tidak boleh menyerobot antrian nak." Catty mengacungkan telunjuknya di depan wajah putranya.


"Sayang, sabar. Tidak enak dilihat banyak orang." Tentu saja Jimmy yang begitu sabar menghadapi putra dan istrinya.


"Sudah tidak apa-apa Catt, biar Kenan disini saja dengan ku." Mia yang tidak tega dengan bocah itu pun menggandeng Kenan untuk bersamanya.


"Maafkan aku Mia, dia sungguh keras kepala."


"Ya bukankah itu seperti mu," ejek Mia.


"Huu... kau selamat kali ini bocah nakal. Ingat jangan menyusahkan aunty Mia. Mengerti?" Catty memperingati putranya yang sedang bersembunyi dibalik gaun Mia. Kenan pun mengangguk kecil, meski masih bersembunyi di sana.


"Maafkan Kenan." Kali ini Jimmy yang meminta maaf.


"Tidak apa-apa kak, dia anak yang penurut. Tidak akan membuat masalah bersamaku. Kalian nikmati saja makanannya." Mia mengusap lembut kepala Kenan yang masih bersembunyi dibalik gaun nya.


"Selamat ya untuk kalian, aku senang karena akhirnya temanku laku juga." Catty melirik Mia.


"Catt!"


"Hehehe... maaf." Catty menyengir kuda.


Mereka pun berpelukan erat. "Apa kau tidak ingin memperkenalkan ku pada suamimu."


"Aahh ya maaf, perkenalkan ini Catty temanku yang paling merepotkan."


"Tidak bisakah kau memujiku dihadapan suamimu." Catty tidak terima.


Daniel pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan teman istrinya. Bisa ia tebak jika wanita yang ada di depannya itu adalah teman baik sang istri. Karena sejak tadi baru wanita yang bernama Catty itu yang diperkenalkan dengan nya.


"Terimakasih sudah menjaga istri ku selama ini," ujar Daniel. Mia pun tersipu malu.


"Tentu saja Tuan, kau tidak perlu sungkan."


"Panggil saja Daniel. Tidak perlu terlalu formal. Aku bukan atasan kalian."


Mia yang melihat interaksi Daniel dan temannya pun merasa senang. Tidak menyangka kalau sang suami akan memperlakukan temannya dengan baik.


"Terimakasih kalian sudah datang."

__ADS_1


"Tentu aku harus datang menyaksikan temanku mengakhiri masa lajangnya."


Kehadiran Catty sedikit mengalihkan rasa lelah Mia.


Acara terus berlanjut, kini giliran para tamu menikmati hiburan dari artis-artis papan atas yang dad Alex undang. Hal itu digunakan Mia dan Daniel untuk duduk sebentar, setelah dirasa tidak ada tamu lagi yang datang untuk bersalaman.


"Sayang, apa kau mau makan. Biar aunty ambilkan untuk mu," ujar Mia pada Kenan yang duduk ditengah-tengah mereka. Bocah itu hanya mengangguk, dia masih canggung pada Daniel.


"Baiklah, kau tunggu disini."


"Kau mau kemana?" tanya Daniel yang melihat istrinya berdiri.


"Mau mengambil makanan untuk Kenan."


"Kau duduk saja biar aku yang ambilkan," titah Daniel. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya yang memakai gaun panjang itu berjalan-jalan, pasti akan sulit untuknya.


"Hai jagoan, kau mau makan yang mana biar uncle ambilkan." Daniel mengusap lembut kepala Kenan. Dia mungkin tidak pandai dekat dengan anak kecil, tapi dia tau bagaimana bersikap dihadapan anak-anak.


Kenan pun menunjuk makanan yang ia mau.


"Ok, kau tunggu sebentar disini," ujarnya lagi.


"Apa kau juga ingin makan?" Daniel bertanya pada istrinya yang diam-diam sedang memperhatikannya.


"Tidak, aku mau minum saja," ujar Mia.


Daniel pun beranjak dan mengambil pesanan mereka.


Kenapa dia bersikap sangat manis dan perhatian begitu. Bola mata Mia terus mengekor kemanapun suaminya melangkah.


,,,


Disudut ruangan.


Justin, laki-laki itu memilih menepi dari teman dan istrinya. Pandangan nya sejak tadi tertuju pada satu orang yang menjadi pusat perhatian.


Di saat tamu yang lain bersalaman dengan pengantin, Justin tidak melakukannya. Dia terlalu malu untuk bertemu mantannya yang ternyata mempunyai suami yang jauh lebih hebat darinya. Kalau sudah seperti itu, dia sudah tidak punya kesempatan untuk bersama dengan Mia lagi.


Justin sungguh menyesal, apalagi melihat betapa cantiknya Mia hari ini.


Shiiittt... kenapa aku baru sadar kalau Mia sangat cantik. Bahkan bentuk tubuhnya sangat indah dibandingkan dengan Laura. Dan yang pasti dia masih perawan.


Justin menenggak minuman nya sampai habis. Sekarang dia baru menyesal, tapi dulu dia begitu menggilai tubuh Laura yang selalu memberi nya kepuasan saat mereka masih menjadi pasangan selingkuh.

__ADS_1


"Apa kau sudah puas memandangi mantanmu?" kesal Laura karena sejak tadi sang suami entah pergi kemana. Tau-tau malah sedang memandangi wanita yang sudah membuat nya marah hari ini.


"Pergilah! aku tidak ingin diganggu." Daniel kembali mengambil gelas yang berisi.


"Kau itu sungguh memuakkan. Kau membiarkan istrimu malu mendengar cibiran orang-orang. Malah sibuk memandangi wanita itu."


"Diamlah, kau itu yang memuakkan. Selalu saja berteriak padaku dan suka memerintah." Justin yang sudah sedikit dikuasai minuman tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


PLAK!!


Satu tamparan mendarat di pipi Justin. Laura pelakunya. Pria yang sudah ia pilih menjadi suaminya dan ia cintai malah mencibirnya begitu dihadapan banyak orang.


Mendengar hal itu para tamu pun menonton pertengkaran mereka. Sementara para petugas keamanan dengan sigap mendekati mereka.


"Maaf Tuan dan nona. Kalau kalian masih ribut, kami tidak akan segan menyeret kalian dari sini!" Sebuah peringatan untuk mereka. Berani-beraninya mereka membuat keributan di pesta tuan Alex. Mereka kira mereka siapa.


Laura yang kesal langsung pergi dari sana. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Biasanya dia yang menjadi pusat perhatian dan dipuja semua orang.


Sementara Justin masih tidak beranjak. Dia hanya memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan dari istrinya.


"Dasar orang-orang kampung, bisanya bikin ribut." Cibiran pun mulai terdengar untuk mereka.


Ya memang tidak selamanya sesuatu yang dulunya dipuja akan tetap dipuja kalau mereka terlalu terbuai dengan semua itu dan merendahkan orang lain.


,,,


Kini giliran nyonya Rose dan putrinya mendekati pengantin baru yang sedang berlanjut menyalami para tamu.


"Selamat ya nak Daniel, Tante tidak menyangka kalau kau yang akan lebih dulu menikah. Padahal dulu kau dan Zoya terlihat begitu akrab dan tidak terpisahkan. Tante kira kalian akan bersama setelah dewasa, mungkin karena Zoya datang terlambat," Nyonya Rose terkekeh sendiri.


"Terimakasih Tante dan Zoya sudah menyempatkan datang kemari." Daniel sama sekali tidak menanggapi apa yang Rose katakan. Dia juga melihat Zoya datar.


"Maaf Niel, mami memang suka bercanda. Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku dengar kau juga sudah berhasil menjadi dokter yang hebat seperti impianmu dan kau masih tampan seperti dulu." Zoya bersalaman dengan Daniel.


"Terimakasih, selamat juga karena kau sudah berhasil menjadi desainer ternama."


"Tidak juga Niel, kau lebih hebat. Sepertinya kita harus makan bersama lain kali, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama. Apa kau ingat dulu kita pernah berjanji akan bertemu di tempat persembunyian kita saat sudah dewasa nanti dan kau mau melamar ku di sana."


"Kau masih mengingat hal itu, maaf mungkin dulu kita masih kecil dan terlalu implusif. Oh iya perkenalkan ini istriku." Daniel menarik pinggang ramping Mia hingga menempel padanya.


"Oh iya maaf, kita memang selalu lupa pada semuanya kalau sudah asyik mengobrol. Perkenalkan aku Zoya, aku dan Daniel dulu teman kecil." Zoya pura-pura merasa bersalah karena telah mengabaikan Mia, padahal ia sengaja melakukannya.


Mia hanya tersenyum tipis, menanggapi ibu dan anak itu. Dia tidak ambil pusing dengan mereka, mau berteman sejak dalam kandungan juga percuma, kalau yang menjadi istri Daniel saat ini adalah dirinya. Benar bukan?

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2