Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 2 Rencana Calvin


__ADS_3

°°°


Saat ini Felice dan Calvin duduk berhadap-hadapan dengan dibatasi sebuah meja di antara mereka. Sungguh di situasi itu, Felice merasa sangat canggung. Apalagi sejak tadi sang atasan memandangi wajahnya dalam diam. Tapi ada satu hal yang dia tau, kalau ternyata dilihat dari dekat pria itu semakin tampan. Sepertinya dia akan betah bekerja sebagai sekretaris pria itu.


Kalau bos nya tampan begini, aku betah lama-lama di kantor. Hihi... Felice terkikik geli sendiri.


Oh ya ampun, kenapa dia terus memandangi wajah ku. Atau ada yang salah di wajahku, jangan-jangan alisku miring sebelah lagi.


Gadis itu sibuk berspekulasi sendiri. Tidak tau kah dia kalau saat ini Calvin sedang mengamati setiap inci wajahnya, wajah yang bahkan baru pertama kali ia lihat secara langsung karena saat di pesta waktu itu mereka sama-sama menggunakan topeng. Tidak menyangka kalau gadis itu terlihat imut dan manis, juga apa adanya.


"Permisi Tuan? Apa pekerjaan ku hanya duduk seperti ini?" tanya Felice yang sudah ingin ke toilet untuk melihat keadaan alisnya, takut tidak simetris katanya.


Hmmm... Lagi-lagi pria itu hanya berdehem membuat Felice berpikir apakah pria tampan itu bisu.


Bagaimana ini? Apa dia bisu dan tidak mengerti apa yang aku bicarakan. Apa aku harus menggunakan bahasa isyarat.


Felice menarik nafasnya panjang. Belum apa-apa dia harus menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan atasannya. Dia pun mulai menggerakkan tangannya, entah apa maksudnya, orang bisu sekalipun pasti juga akan kebingungan mengartikan nya.


"Kau sedang apa?" tanya Calvin menyerngitkan dahinya heran.


"Ehh... jadi anda bisa bicara? Syukurlah."


"Maksud mu?" menaikan nada bicaranya.


"Tadi saya kira tuan ini tidak bisa berbicara jadi saya menggunakan bahasa isyarat."


Calvin melotot tajam, Bagaimana bisa gadis di depannya mengira dirinya bisu hanya karena diam sejak tadi. Astaga... Apa Calvin terlalu berekspektasi terlalu tinggi pada gadis itu.


"Jadi Tuan, apa yang harus saya kerjakan sekarang? Apa hanya duduk sambil tatap-tatapan seperti ini." Felice menyangga kepalanya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja lalu ikut menatap mata Calvin yang menurutnya sangat menarik bagi Felice.

__ADS_1


Sepertinya mendapatkan serangan keimutan dari Felice dengan posisi seperti itu, Calvin pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Mejamu di sana, kau pelajari berkas-berkas yang ada di atas meja." Tunjuk jari Calvin pada meja kecil yang ada di sudah ruangannya.


"Ehh ... Kenapa mejaku tidak di depan ruangan ini? Bukannya seharusnya sekretaris ada di sana. Nanti kalau ada yang masuk ke sini kan harus ijin sekretaris lebih dulu." Felice yang sudah sering melihat adegan sekretaris dan bosnya di dalam drama pun mempertanyakan hal itu.


"Meja mu di situ agar aku mudah kalau membutuhkan sesuatu dan minta tolong padamu. Lebih dekat juga untuk mengajarimu. Kalau diluar pasti susah dan memakan waktu, aku juga harus teriak memanggil mu."


"Dan, tugas yang seperti kau katakan tadi itu sudah ada Sam yang melakukan nya. Apa kau paham?"


Felice tampak mengangguk mengerti.


"Ya sudah, kau bisa kembali ke meja mu. Ada beberapa tugas mu juga yang lain, nanti Sam akan memberitahu mu," imbuh Calvin.


Felice pun berjalan ke arah meja yang katanya akan menjadi tempat kerjanya mulai sekarang. Diletakkannya tas kecil yang ia bawa, lalu ia duduk di kursinya.


,,,


Calvin senang akhirnya gadis yang ia tunggu akhirnya datang juga padanya. Mengenai gadis itu yang magang di kantor nya sama sekali bukan rencananya. Hanya saja selama ini memang Dia menyuruh orang untuk mengawasi gadis itu, jadi begitu Felice datang dia sudah menyiapkan semuanya termasuk sudah memindahkan sekretaris nya yang lama ke tempat lain. Agar Felice bisa menggantikan nya.


Akhir-akhir ini dia sangat sibuk memajukan perusahaan nya yang benar-benar memulai dari nol lagi setelah hampir bangkrut. Dengan kepintarannya dia sudah berhasil mengembangkan beberapa produk baru dan mendapatkan investor.


Calvin juga tidak terlalu pandai mendekati wanita. Dia terlalu kaku dalam hal itu, makanya ibunya selalu khawatir memikirkan putranya yang tak kunjung dekat dengan wanita. Sementara Calvin yang merasa umurnya masih muda tidak pernah ambil pusing mengenai wanita. Toh kalau dia sudah jadi pengusaha sukses nanti banyak wanita yang akan datang padanya.


Tapi sekarang berbeda, rasanya dia ingin lebih mengenal gadis yang saat ini ada dalam jangkauan nya.


"Hmm... Felice... bisakah kau membuat kan ku kopi? Takarannya kau tanyakan pada Sam," ujar Calvin.


"Sebentar Tuan, aku sedang membaca ini...." Serius membaca berkas.

__ADS_1


Calvin mengerutkan keningnya, bagaimana bisa seorang bawahan menunda perintah atasannya.


"Sekarang Felice... aku mau kopinya sekarang," titah Calvin mengulangi perkataan nya lagi.


Brakk... Felice meletakkan berkas-berkas yang ia pegang ke atas meja dengan sedikit membantingnya.


"Iya iya... saya akan buatkan sekarang." Bangun dari duduknya dan langsung keluar.


Gadis itu... Calvin memijit pelipisnya.


,,,


"Tuan Sam!" hentak Felice memanggil assisten bosnya itu.


"Iya Nona, apa kau membutuhkan sesuatu?" Sam segera menghampiri Felice.


"Bukan aku tapi si bos minta kopi. Dimana pantry nya?" tanya Felice.


"Ohh... ikuti saya nona. Saya akan menunjukan nya."


Mereka pergi ke pantry, Sam mengajarkan bagaimana membuat kopi untuk atasannya termasuk takarannya.


"Bukannya ada mesin pembuat kopi, kenapa tidak menggunakan itu saja," protes Felice yang melihat betapa ribetnya membuat kopi untuk atasannya.


"Tuan Calvin tidak suka kopinya menggunakan mesin itu. Anda harus meracik dan membuatnya menggunakan tangan nona."


Astaga, ribet sekali pria itu. Untung tampan.


°°°

__ADS_1


__ADS_2