
°°°
Di dalam ruangan Daniel yang terdiri dari dua ruangan di dalamnya. Satu meja kerja dan di dalamnya ada ruang istirahat.
Daniel sedang melamun memikirkan Mia. Sampai saat ini dia belum punya cara untuk menanyakan lagi soal mereka. Setiap kali tidak sengaja bertemu atau berpapasan pasti wanita itu akan menghindarinya.
Tiba-tiba dia terpikir mengenai alasan Mia kenapa menolak pertanggungjawabannya.
Cinta?? Sepertinya wanita itu sangat mementingkan perasaan. Tidak bisakah dia menerima saja, toh saling menguntungkan juga untuk kita.
Menurut Daniel cinta bisa di pupuk dengan berjalannya waktu. Cinta bisa datang karena terbiasa. Yang penting sekarang bagaimana kalau wanita itu hamil. Daniel tidak akan membiarkan anaknya lahir tanpa ayah dan kalaupun dia tidak hamil lalu di saat berjalannya hubungan pernikahan, dia menemukan cintanya. Tidak masalah untuk Daniel kalau akhirnya mereka berpisah.
Saat sedang asyik melamun, seseorang datang tanpa mengetuk pintu.
"Niel... Daniel... woy!!" seru Daren karena sang sepupu tidak merespon kedatangannya.
Daniel yang sadar pun langsung membenarkan posisi duduknya. Lalu menatap malas pada Daren.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk!"
"Itu tidak penting, ada hal yang jauh lebih penting yang mau aku tanyakan padamu," ujar Daren tak memperdulikan kekesalan sepupunya.
"Katakan! Awas saja kalau tidak penting." Daniel menata beberapa berkas milik pasiennya .
"Ini penting karena menyangkut masa depanku," ujar Daren tapi sama sekali tidak membuat Daniel tersentuh dengan perkataannya.
"Apa kau sudah memeriksa kamar nomor 116?" tanya Daren.
Sudah Daniel duga pasti yang akan dibicarakan sepupunya hanya masalah wanita. Kalau masalah medis justru tidak pernah ia tanyakan.
"Sudah," jawab Daniel singkat.
"Kenapa kamu tidak menungguku ? Hilang lagi kesempatan ku untuk mendekati gadis itu." Nadanya terdengar kesal.
"Kau tinggal datang ke sana, tidak perlu bersamaku," ujar Daniel.
"Itu masalahnya, ayah tidak mengijinkan ku untuk mendekati wanita sebelum aku ada peningkatan. Kalau sampai ketahuan bisa habis riwayat ku." Daren sangat frustasi karena tidak bisa bersenang-senang lagi seperti dulu. Padahal dulu dia sangat sering pergi ke club' malam.
Daniel tersenyum kecil tapi sebenarnya di dalam hatinya dia tertawa puas melihat sepupunya menderita. Karena dia juga sependapat dengan pamannya yang ingin Daren berubah, tidak hanya tau bersenang-senang saja.
"Kau kan yang akan menangani operasi ibunya gadis itu. Jadi kau harusnya cukup dekat dengan mereka, bagaimana kalau sesekali kita mengunjungi mereka selain untuk memeriksa," saran Daren. Sepertinya terdengar bagus, Daniel tidak pernah terpikirkan untuk mendekati keluarga Mia. Mungkin saja dengan begitu wanita itu mau menikah dengannya.
"Bagaimana, ide bagus kan?" tanya Daren dengan wajah yang penuh harap.
"Jangan harap! Sudah sana keluar, kau itu datang bukannya untuk belajar tapi malah urusan wanita. Apa perlu aku katakan pada paman kalau kau ingin kembali ke UGD."
Aku memang mau mendekati mereka tapi tidak bersamamu. Hanya aku sendiri.
__ADS_1
Aku tidak akan membiarkan kau jadi adik ipar ku.
"Kenapa kau tega sekali padaku, kita ini saudara. Tidak bisakah kau membantuku sekali ini saja." Daren memohon pada sepupunya.
Ini demi gadis itu aku merendahkan harga diriku didepan sepupu lucnut ini.
"Tidak! cepat keluar!" usir Daniel tapi sepupunya itu tetap memohon.
Sampai batas kesabaran Daniel habis, dia berniat menelpon pamannya untuk mengadu.
"Kalau tidak keluar sekarang aku akan menelepon paman sekarang juga!" ancam Daniel, dia sudah memegang ponselnya dan saat itu juga Daren segera pergi dari sana.
Baru juga Daniel bernafas lega saat tidak ada yang mengganggunya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Mommy? ada apa dia menelepon," gumamnya.
"Hallo Mom."
š"Sudah Daddy duga, kalau menelepon menggunakan nomor mommy pasti kau akan langsung mengangkat nya."
Daniel malas sekali mendengar suara itu, sudah berapa hari di sengaja tidur di rumah sakit itu agar bisa menghindari daddy nya.
"Ada apa Dad?" tanya Daniel dengan nada malas.
š"Pulanglah malam ini, ada hal penting yang mau Daddy bicarakan. Kalau kau tidak pulang, Daddy akan pastikan rumah sakit itu akan ditutup selamanya."
Daniel menggeram kesal, belum sempat ia menolak sang Daddy sudah menutup telponnya.
,,,
Jam makan malam pun tiba.
Daddy Alex sudah menunggu seseorang di ruang tamu.
"Dad, sebenarnya ada apa? Apa yang mau kau bicarakan lagi dengan putra kita?" tanya mommy Tania. Dia ikut duduk menemani suaminya.
"Nanti mommy juga tau apa yang sudah putra mommy perbuat. Daddy ingin lihat apa mommy masih membelanya kalau dia melakukan kesalahan," ujar Daddy Alex.
"Apa yang sudah Daniel perbuatan Dad? Apa kesalahan itu sangat fatal." Mommy Tania mulai khawatir, takut kalau nantinya terjadi perselisihan lagi antara putra dan suaminya.
"Nanti tunggu mereka berdua datang."
"Berdua Dad?? Siapa yang satunya." Tanda tanya mulai memenuhi kepala mommy Tania tapi suaminya tetap bungkam tidak mau mengatakan apa-apa.
"Permisi Tuan, di depan ada nona sekretaris." Salah satu pelayan rumah itu menyampaikan kedatangan Mia.
"Suruh dia masuk," perintah Daddy Alex.
__ADS_1
"Untuk apa Daddy memanggil Mia, apa masalah pekerjaan?" tanya mommy Tania.
Beberapa saat kemudian, Mia pun masuk ke dalam rumah itu setelah mendapat ijin.
"Selamat malam Tuan, Nyonya...," sapa Mia seraya membungkukkan tubuhnya.
"Malam, baguslah kau datang tepat waktu," ujar Daddy Alex.
Mia menatap melihat wajah atasannya tidak seperti sedang marah tapi malah tersenyum.
Sebenarnya apa keputusan tuan Alex.
Tidak lama kemudian, datanglah seseorang lagi yang sedang ditunggu.
"Malam Dad, Mom...," sapa Daniel.
Kenapa dia juga datang? bingung Mia.
Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini.
Daniel pun sama, sejak memasuki rumah itu dia menatap punggung Mia dan bertanya dalam hati. Mengapa wanita itu juga datang ke rumahnya.
"Karena sudah datang semua, sekarang kita makan malam dulu," ujar Daddy Alex seraya bangun dari duduknya. Sementara semua orang menatapnya bingung.
"Kenapa diam saja Mom, ayo suruh pelayan untuk menyiapkan makan malam sekarang," ujar Daddy Alex pada istrinya yang mematung.
"I... iya , aku akan menyiapkan makan malamnya sekarang." Mommy Tania pun bergegas masuk ke dalam.
Sementara Mia dan Daniel masih berdiri di tempat dengan wajah bingung.
"Ada apa Daddy menyuruh ku pulang?" tanya Revan dengan satu tangan ada di dalam sakunya. Dengan pakaian casual seperti itu dia terlihat lebih muda dan tampan.
"Apa kau tidak ingin makan malam bersama orangtuamu lebih dulu. Kita bicarakan nanti. Sekarang kita makan malam dulu, Daddy sudah kelaparan karena menunggu kalian."
"Kau juga ikut makan malam bersama kami Mia, ayo...," ajak Daddy Alex.
"Maaf Tuan saya menunggu disini saja, kebetulan saya sudah makan malam."
Bagaimana mungkin aku makan bersama keluarga atasan ku sendiri. Pasti canggung sekali rasanya.
to be continue...
°°°
LIKE KOMEN DAN BINTANG LIMA š
Gomawo ā¤ļøā¤ļø
__ADS_1