Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
148. Memulai Pencarian


__ADS_3

Dad Alex pergi kemarin ke kota A, untuk melihat sendiri bagaimana proses pencarian putranya. Awalnya Mia bersikeras mau ikut dan terus memohon pada dad Alex tapi tentu saja semua orang tidak mengijinkan. Selain karena berbahaya, keadaan tubuh Mia juga begitu lemah dan bisa membahayakan calon anaknya. Ditambah sejak kemarin dia tidak mau makan , hanya mau makan buah itupun hanya sedikit dan harus dipaksa.


Satu hari paska kepergian dad Alex, suasana di rumah tampak begitu sunyi. Semua orang ikut bersedih. Canda tawa Felice yang biasanya memenuhi seisi rumah pun kini tak terdengar. Semua pelayan pun ikut merasa iba pada musibah yang menimpa keluarga majikannya. Padahal Daniel dikenal sebagai majikan yang baik, sering membagikan makanan pada para pelayan dan semua yang bekerja di rumah itu. Sering memberikan bonus juga kalau misal ada acara di rumah dan para pelayan bekerja ekstra.


"Kasihan sekali ya tuan Daniel dan nona Mia, mereka baru saja akan merasakan kebahagiannya tapi malah dapat cobaan yang begitu berat," komen salah satu pelayan.


"Iya, orang sebaik tuan Daniel masa iya umurnya sangat pendek. Mana nona Mia sedang hamil muda."


"Lebih baik kita ikut mendoakan saja agar tuan Daniel selamat dan bisa kembali ke rumah."


Mereka pun dengan suka rela mendoakan majikan mereka yang begitu baik. Beruntungnya mereka bisa mendapatkan majikan seperti keluarga Mia dan Daniel. Biasanya mereka bekerja pada majikan yang pelit atau galak.


Sementara Mia, dia jadi sering melamun sekarang. Pandangan matanya terlihat seperti kosong sambil melihat kearah pintu masuk. Tentu dalam hatinya berharap kalau semua ini hanyalah mimpi buruk sesaat lalu tiba-tiba dia bangun dan melihat suaminya datang membuka pintu. Lalu dia akan memberi tahu laki-laki itu saat ini dirinya sedang mengandung anaknya. Lalu ada satu hal lagi yang ingin dia sampaikan juga  pada sang suami, yaitu tentang perasaannya yang sesungguhnya yang baru ia sadari dan ia yakini kalau perasaan itu adalah perasaan cinta.


Dia ingin mengatakan  kalau dia mencintai Daniel suaminya.

__ADS_1


"Sayang, kau belum makan sejak kemarin. Bagaimana kalau sekarang kau makan sedikit saja," bujuk mom Tania yang memutuskan menginap di rumah itu. Pulang pun percuma karena dia sendirian dan pasti akan terus memikirkan putra, suami dan menantunya.


Mia menggeleng lemah, Dia sama sekali tidak ingin makan.


"Setidaknya pikirkan calon anakmu, nak. Dia butuh makan untuk tumbuh sehat, Daniel juga akan sangat kecewa kalau tau kamu tidak memikirkan anak kalian." Tidak menyerah. Sementara mamah Emma dan Felice melihat dari kejauhan tak lupa juga berdoa agar Mia mau mendengarkan apa kata Mom Tania.


"Bagaimana aku bisa makan kalau aku belum tau kabar suamiku mom, Bagaimana kalau dia sekarang sedang kelaparan dan kedinginan.Mana mungkin aku bisa enak-enakan makan di sini." Kembali Mia meredup, matanya sayu dan menghitam karena kurang tidur juga.


"Tapi calon anak mu tidak akan mengerti akan hal itu, yang dia pikirkan kenapa ibunya begitu tega padanya, membiarkannya kelaparan dan bersedih sepanjang hari. Kau tau kalau janin bisa merasakan apa yang ibunya rasakan, kalau kamu sedih, anakmu juga akan sedih, kalau kau banyak pikiran dia juga akan merasakannya."


Dengan sedikit memaksakan lidah dan mulutnya untuk mengunyah makanan, akhirnya Mia mau makan juga. Meski tidak banyak tapi setidaknya ada makanan yang masuk dalam perutnya. Dokter juga rutin menyuntikan vitamin karena kalau kondisi si ibu terlalu stres bisa berakibat fatal pada janin. Jadi harus terus di tambah dengan vitamin dan penguat kandungan juga.


,,,


Sementara di kota A.

__ADS_1


Upaya pencarian terus dilakukan oleh tim penyelamat dan orang-orang yang mau membantu juga dipersilahkan. Termasuk dad Alex membawa banyak bantuan.Medan yang dilalui cukup sulit, harus menggunakan alat berat untuk membuka jalan. Untung saja bantuan terus berdatangan sehingga mereka tidak kekurangan itu semua.


"Bagaimana? Apa masih jauh lokasinya?" tanya dad Alex.


"Sebenarnya kalau jalannya mudah di akses hanya butuh lima belas menit untuk ke lokasi. Tapi karena kendala medan yang tertutup tanah berlumpur jadi cukup lama."


Dad Alex menggeram kesal. Kalau saja bisa menggunakan helikopter pasti dia sudah menggunakannya, tapi seperti yang dibilang tadi kalau, longsoran tanah itu berupa lumpur dan tanah lembek karena sejak beberapa hari belakangan kota itu selalu diguyur hujan deras. Dan hal itu tentu saja tidak memungkinkan untuk mendarat helikopter atau sejenisnya.


"Apa tidak ada cara lain yang bisa lebih cepat?" tanya dad Alex lagi.


"Tidak tuan, kita memang harus sabar."


Sontak saja hal itu memancing amarah seorang Alex Starles yang sangat menakutkan. Dia mencengkeram kaos pemuda itu yang sedang menyetir mobil sejenis of road itu hingga terhuyung ke sandaran kursi.


"Apa maksudmu sabar hah!!! Putraku ada di sana dan mungkin dia selamat tapi bagaimana kalau kita terlambat datang dan dia malah mati kelaparan atau karena terluka dan tidak segera diobati!!"

__ADS_1


Bawahan yang lain tampak panik melihat pemuda itu hampir kehilangan nafasnya tapi mereka juga tidak bisa berbuat apapun kalau atasannya sudah marah.


__ADS_2