Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
69. Terimakasih Niel...


__ADS_3

°°°


Pertemuan ayah dan anak itu sungguh mengharukan. Daniel saja sampai menyeka sudut matanya berkali-kali. Beruntungnya dia mempunyai ayah yang bertanggung jawab pada keluarga dan sangat menyayangi ibunya. Meski hubungan dengannya tidak terlalu baik karena perbedaan pandangan tapi Daddy Alex sebenarnya menyayangi Daniel.


Mia, wanita itu begitu kelihatan dingin, tegas dan berani tapi Siapa sangka kalau hidupnya dulu pernah berada dititik yang sulit. Hidup di keluarga yang serba kekurangan, ayahnya hanya tau judi dan bersenang-senang, ibunya sakit dan dia harus berjuang keras demi keluarganya.


"Sekarang papah makan, biar Felice yang suapi." Felice mengambil makanan yang ada di atas meja lalu menaruhnya di piring. Dia lebih akrab dan tidak begitu canggung pada papahnya, berbeda dengan Mia yang masih menjaga jarak.


Hal itu bisa dimaklumi, mengingat siapa yang membentuk karakter Mia hingga jadi seperti ini.


"Kalian juga makan ya, ayo kita makan sama-sama. Anda juga nak Daniel, ayo tidak usah sungkan." Dia begitu bersemangat, senyum di wajahnya pun terus mengembang sejak tadi. Hanya ini yang ia harapkan, bisa kumpul lagi bersama keluarganya. Setelah ini dia iklhas kalau pun takdirnya tidak lama lagi.


"Baiklah pah, aku tidak akan sungkan kalau begitu."


Papah Willy cukup terkejut saat Daniel memanggilnya dengan sebutan papah. Termasuk Mia dan Felice juga. Tapi kemudian pria itu tersenyum, mungkin ia baru ingat kalau Daniel adalah calon suami dari putrinya.


Tidak ada salahnya bukan, dia sudah mendapatkan restunya, memanggil papah bukannya lebih baik.


Felice pun tampak setuju dengan hal itu, dia bahkan tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada calon kakak iparnya. Sementara Mia, dia tidak memberi tanggapan tapi pipinya merona. Itu sudah cukup menunjukkan kalau dia juga setuju.


"Baiklah, ayo kita makan."


Suasana makan siang itu begitu hangat, Willy dan kedua putrinya saling berbagi cerita saat mereka terpisah. Walaupun belum pasti apa yang membuat Willy berubah menjadi lebih baik, atau memang selama ini ia hanya berpura-pura jadi ayah yang jahat.


Yang pasti sekarang mereka sepakat untuk menutup buku yang kemarin. Dan membuka cerita yang baru, memberikan kenangan manis untuk kedua putrinya. Hingga saat kematiannya tiba dia tidak lagi merasa bersalah.

__ADS_1


"Apa Papah mau pindah ke kota, biar bisa lebih dekat dengan Mia dan Felice?" Pertanyaan Daniel membuat Willy diam sejenak lalu menggeleng pelan.


Felice yang sempat berharap bisa dekat dengan papahnya pun harus menelan kekecewaan.


"Papah disini saja, rumah ini terlalu banyak keuntungan untuk ditinggalkan."


Mungkin bagi kedua putrinya hanya ada kenangan buruk di tempat itu. Tapi bagi Willy di rumah itu banyak sekali kenangan indah, terutama bersama mantan istrinya. Pertama kali mereka pindah melalui hari bersama, suka dan duka. Saat pertama kali istrinya hamil dan melahirkan anak pertama mereka yang kini sudah besar. Ya awalnya semua berjalan normal bahagia. Dia bahkan tidak mengingat mulai kapan dia menjadi berubah.


"Apa kau tidak ingin dekat dengan kami pah? Kita bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama kalau dekat Pah," bujuk Felice, dia baru saja menemukan sosok papahnya dan tidak ingin jauh darinya.


"Felice benar Pah, kita juga bisa sering memantau kondisi Papah nantinya." Daniel bisa saja menyewakan perawat untuk papah Willy, tapi tetap saja di rumah itu sangat jauh dari rumah sakit. Bagaimana kalau kondisi laki-laki itu tiba-tiba drop.


"Terimakasih nak, tapi tidak perlu. Papah bisa menjaga diri disini. Kalian tidak perlu khawatir."


Willy memegang tangan putrinya lalu mengangguk.


Setelah itu mereka tak lagi memaksa. Mereka menghargai keputusan yang papah Willy ambil. Mungkin benar kalau rumah sendiri lebih nyaman walaupun jelek.


"Kau tidak ingin membujuk papahmu untuk pindah?" Daniel mendudukkan tubuhnya di samping Mia. Mereka saat ini sedang di halaman rumah yang sebagian besar tertutup tanaman. Ada pohon besar juga di sana. Pohon maple yang sering Mia ambil daunnya untuk ia simpan.


"Dia punya keinginannya sendiri, aku tidak mau memaksa. Kalau di rumah ini dia bisa lebih nyaman kenapa harus memaksanya pergi." Mia menengadahkan kepalanya ke atas menatap cerahnya langit di sore itu.


"Apa ada rencana untuk mempertemukan nya dengan mamah?"


"Dia akan memintanya kalau mau. Mereka sudah lebih dewasa, jadi lebih tau apa yang mereka butuhkan." Mia bukan tidak mau tinggal dekat dengan papahnya tapi ada hal yang ia lihat dari papahnya yang begitu berat untuk meninggalkan rumah ini.

__ADS_1


"Apa kau, Felice dan mamah Emma juga tidak nyaman dengan rumah itu. Maaf kalau daddy memaksa kalian untuk pindah," Ujar Daniel.


"Tidak, kami senang karena rumah dari daddy lebih besar dan nyaman." Mia tersenyum tipis, walaupun awalnya dia merasa tak enak tapi melihat mamahnya tiap pagi bisa berjalan-jalan dihalaman dan memandangi bunga yang ada di taman rasanya menyenangkan. Hal yang tidak pernah mereka temui saat tinggal di apartemen.


"Niel... terimakasih..."


"Hah... kau bilang apa tadi." Daniel meminta Mia untuk mengatakannya sekali lagi.


"Terimakasih untuk semuanya Niel. kalau bukan karena kau mungkin keadaan mamah semakin memburuk sekarang dan jika bukan karena mu aku masih menyimpan rasa benci ku pada papah." Walaupun rasanya menyebalkan saat mengenal Daniel dan semua yang mereka alami hingga memutuskan untuk menikah. Kini Mia menyadari kalau kehadiran Daniel membawa banyak perubahan dalam hidupnya dan perubahan itu dalam hal yang lebih baik.


"Kau tidak perlu berterimakasih, karena ini adalah bentuk kesungguhan ku dalam hubungan kita. Kita menikah bukan hanya karena tanggungjawab tapi aku ingin pernikahan kita nanti bukan hanya sebatas itu. Aku akan belajar menerima mu dan menjadi suami yang baik. Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama."


"Tapi Niel. Kau berhak mendapatkan wanita yang lebih pantas suatu saat nanti. Tidak seperti ku..."


Perkataan Mia terputus saat jari telunjuk Daniel menempel di bibirnya.


"Bukan kau atau orang lain menilai pantas atau tidak pantas. Aku lebih tau dari siapapun. Jangan pikirkan hal seperti itu lagi, aku juga ingin hanya menikah sekali seumur hidup. Jadi belajarlah mencintai ku mulai sekarang karena kita akan menghabiskan waktu bersama selamanya."


Mereka saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Jantung mereka berdua pun sudah berdetak kencang. Mungkinkah mereka sudah mulai membuka hati.


Tangan Daniel yang tadi ia gunakan untuk menghentikan ucapan Mia kini berpindah ke pipi lembut Mia. Sementara bola mata Daniel sudah berpindah ke pipih pink yang waktu itu dia kecup dalam keadaan sadar. Dan saat ini dia menginginkan hal itu lagi. Wajahnya mendekat hingga hanya beberapa centi saja.


Bukankah Ini terlalu dekat, ini terlalu berbahaya. Mia menjauhkan kepalanya tapi tangan Daniel menarik tengkuknya hingga bibir mereka menempel.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2