Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
47.


__ADS_3

°°°


Daniel tetap bersikekeuh dengan pernyataannya tentang hubungannya dengan Mia. Sementara Mia pun tetap menyangkal.


Sampai akhirnya Emma menyuruh mereka berdua membicarakan hal ini berdua, tapi dalam lubuk hatinya berharap kalau memang benar mereka saling suka.


"Mah mereka romantis ya." ujar Felice, Ini lagi satu anak. Kakak nya sedang berdebat dengan Daniel malah dibilang romantis.


"Romantis bagaimana, Fel. Mereka sedang bertengkar," sanggah Emma yang memang tidak melihat keromantisan yang dimaksud putrinya.


"Ihh... mamah si nggak pernah lihat drama. Ya memang begitu pasangan yang satu ngambek yang satunya membujuk." Felice terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.


"Kamu itu ada-ada saja." Emma geleng-geleng kepala.


"Eh Mah, tapi menurut mamah kak Mia sama dokter Daniel itu sebenarnya ada hubungan atau tidak?" tanya Felice. Sebenarnya ia bisa melihat raut wajah mamahnya yang terlihat bahagia saat mendengar penuturan dokter Daniel.


"Mamah tidak bisa menebak, kakakmu tidak pernah cerita apa-apa pada mamah. Tapi kalau melihat kedekatan dan keakraban mereka sepertinya memang mereka cukup dekat." Hanya itu yang Emma tangkap.


"Jadi mamah setuju kalau mereka bersama?" harap Felice. Ia yakin kalau mamahnya sepemikiran dengannya.


"Mamah setuju saja asal kakakmu bahagia dan tidak lagi memikirkan semuanya seorang diri," ujar Emma.


"Mamah tenang saja, kalau kak Mia sudah menikah nanti aku akan cari kerja untuk menghidupi kita. Biarkan kak Mia merasakan kebahagiaannya." Felice menghambur ke pelukan mamahnya. Dia sudah bertekad untuk segera menyelesaikan kuliahnya agar bisa membantu sang kakak. Dia juga mau kalau nanti giliran dirinya yang menjadi tulang punggung, Felice sama sekali tidak keberatan.


Emma mengusap lembut kepala putrinya, ia sangat bersyukur karena mempunyai dua anak yang sangat menyayangi keluarga.


,,,


Di ruangan Daniel.


Dua mata manusia saling tatap dengan tajam. Belum ada titik terang dalam masalah mereka. Keduanya sama-sama punya keinginan yang berbeda.

__ADS_1


"Apa mau anda sebenarnya Tuan? Bukankah sudah saya katakan kalau saya tidak mau menikah. Seharusnya anda senang kan, seperti di novel-novel para pria menyuruh wanita yang sudah ditidurinya agar tidak minta pertanggungjawaban." Mia tetap pada keputusannya.


Daniel menghela nafasnya panjang, menghadapi Mia sungguh menguras energinya. Kenapa dia tidak meniduri gadis lugu yang penurut saja. Kenapa harus wanita keras kepala seperti sekretaris daddy nya.


"Mia... mau sampai kapan? kau akan terus menolakku. Apa sampai perutmu besar dan membuat mamahmu kecewa karena kau hamil tanpa suami?"


Mia seperti tertampar oleh ucapan Daniel, benar juga dirinya tidak memikirkan sampai sejauh itu. Dia selalu yakin jika hamil nanti bisa mengurus anaknya sendiri tapi bagaimana dengan mamahnya. Pastilah dia akan sangat kecewa.


Eh tunggu, kenapa pembicaraan mereka selalu seputar kehamilan.


"Saya kan belum tentu hamil Tuan, lagi pula saya bisa mengurus anak saya sendiri nanti. Kalau anda mau bertanggungjawab tidak perlu dengan menikahi saya," lugas Mia, sungguh Mia tidak ingin menikah hanya karena rasa tanggung jawab.


"Apa kau tidak memikirkan perasaan mamahmu? Saat mendengar kalau kita mempunyai hubungan, beliau juga terlihat sangat bahagia," tutur Daniel.


"Tuan, pernikahan bukan untuk main-main dan saya juga ingin menikah hanya sekali seumur hidup. Sementara anda pasti akan menceraikan saya kalau nantinya saya tidak hamil seperti dugaan anda," sanggah Mia. Dia bukan artis yang bisa seenaknya kawin cerai lalu kawin lagi. Dia ingin bahagia dengan pernikahannya, sampai maut yang memisahkan.


"Aku juga serius, terlepas dari rasa tanggungjawab ku. Aku juga ingin kita menjalani pernikahan dengan tidak main-main. Kita akan belajar saling mengenal dan memahami satu sama lain. Kalaupun nanti kau tidak hamil, kita akan tetap menjalani pernikahan kita seperti biasanya. Tidak akan ada perceraian." Daniel serius dengan ucapannya, toh selama ini dia juga tidak pernah bisa membuka hati pada wanita lain yang mendekatinya. Tapi pada Mia entah kenapa dia merasa berbeda.


"Bagaimana??" tanya Daniel menunggu jawaban.


"Tapi bagaimana bisa kita tinggal satu atap bahkan satu kamar dengan orang yang tidak kita cintai?" Mia tetap memikirkan hal-hal kecil setelah pernikahan nanti.


"Kita jalani saja, tidak ada salahnya satu kamar kan kita sudah menikah. Aku juga tidak akan menyentuh mu, sebelum ada perasaan di antara kita. Kau mau kan?" Daniel meyakinkan Mia lagi.


Mia mengetukkan jarinya pada meja, mungkin memang menikah dengan Daniel adalah pilihan yang terbaik dan tidak ada ruginya. Namun, rasanya masih berat untuk menerimanya. Dia masih ingin menjalani pernikahan dengan cinta. Membayangkan menikah dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita sungguh sangat membahagiakan. Pastinya juga tidak akan ada orang ketiga kalau saling mencintai.


"Bagaimana kalau saat kita menjalani pernikahan itu, salah satu dari kita jatuh cinta pada orang lain?" tanya Mia ragu.


"Sebenarnya aku sangat benci perselingkuhan, kalau nanti kau jatuh cinta pada orang lain maka bicaralah. Aku akan melepasmu," ujar Daniel bersungguh-sungguh.


Mia cukup tersentuh dengan ucapan Daniel, dia juga sepemikiran. Mia tidak ingin ada perselingkuhan dalam sebuah hubungan.

__ADS_1


"Saya akan memikirkannya lagi," ujar Mia. Dia baru saja mau mengangkat tubuhnya dari kursi tapi Daniel kembali bersuara.


"Ada yang mau aku tanyakan." Mia pun kembali duduk.


"Ada apa?" singkatnya.


"Apa kau sudah menstruasi bulan ini?" tanya Daniel serius.


Deg. Pertanyaan Daniel membuat Mia terdiam. Banyak nya masalah membuatnya lupa akan hal penting itu. Dia pun mengingat kapan terakhir dia mendapatkan tamu bulanannya.


"Saya biasanya dapat tamu bulanan di akhir bulan. Jadi memang belum waktunya," terang Mia sedikit gugup.


"Apa saat kita melakukannya kau baru selesai menstruasi?" tanya Daniel lagi, dia harus memastikan kemungkinan benihnya tumbuh sedini mungkin.


"Kenapa anda banyak bertanya Tuan," ketus Mia.


"Bukan seperti itu, aku hanya ingin memastikan dan menghitung kemungkinannya. Kalau ia mungkin waktu itu kau dalam masa subur dan kemungkinan kamu hamil juga semakin besar. Sebenarnya saat ini pun kamu sudah bisa melakukan tes kehamilan untuk memastikan."


"Untuk apa melakukan tes kehamilan, aku tidak merasa sedang hamil. Tubuhku juga biasa saja dan aku tidak merasakan apapun." Tentu saja Mia bersikeras karena memang tidak ada yang ia rasakan.


"Aku hanya mengingatkan dan kalau kau hamil maka tidak ada lagi alasan untuk kamu menolak pernikahan yang akan terjadi di antara kita," tutur Daniel.


"Sudah saya katakan saya akan memikirkannya, keputusan ada ditangan saya. Anda tidak bisa memaksa!" sentak Mia. Setelah berkata seperti itu dia pun segera pergi dari sana.


Mia berjalan pelan, entah kenapa ucapan Daniel tentang kehamilan membuatnya berpikir keras. Apa mungkin ia sudah hamil saat ini tapi tidak ada yang ia rasakan. Mia meraba perutnya, masih rata seperti biasanya, dia pun tidak ada mual atau tanda-tanda apapun.


Aku tidak mungkin hamil kan?


to be continue...


°°°

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️❤️


__ADS_2