Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
141. Tidak Apa-apa


__ADS_3

°°°


Pagi itu, tubuh Mia terasa sangat lemas. Matanya berkunang-kunang dan lidahnya terasa pahit lalu lambungnya terasa nyeri. Aneh, apa mungkin dia terkena maag tapi bukannya dia selalu makan tepat waktu dan banyak pula sejak kemarin.


"Ohh sakit sekali..." Mia memang punya riwayat penyakit lambung tapi sudah lama tidak kambuh karena dia berhasil menjaga pola makannya. Kecuali kopi, dia tidak pernah bisa menghindari minuman yang satu itu.


Apa mungkin karena dari kemarin dia makan sembarangan. Apa saja makanan yang ia lihat langsung ia beli dan makan. Akhir-akhir ini memang dia merasa selalu lapar.


Mia mencari obat maag yang selalu ia stok di lacinya. "Untung masih ada." Segera ia memakannya, karena memang obat lambung baik di makan sebelum makan.


Setelah itu buru-buru dia ke kamar mandi untuk mandi. Dia tidak bisa ijin hari ini karena ada rapat penting pagi ini. Mungkin setelah rapat dia akan minta ijin pada Daddy Alex.


Beberapa saat kemudian.


Selesai bersiap dan menyiapkan berkas-berkas yang semalam ia bawa pulang. Mia turun ke bawah untuk sarapan bersama.


"Pagi Mah," sapanya pada sang mamah.


"Pagi sayang, ehh... kenapa wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" cemas Emma melihat wajah putrinya yang terlihat pucat dan tidak secerah biasanya.


"Tidak apa-apa Mah, mungkin karena kecapean." Mia mendudukkan tubuhnya dia kursi. Sesekali dia memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.


"Benar kau tidak apa-apa? Kenapa kau tidak ijin saja hari ini, istirahat lah di rumah." Mamah Emma mengusap lembut kepala putrinya.


"Tidak bisa Mah, hari ini ada rapat penting. Tapi nanti kalau sudah selesai aku akan meminta ijin pada Daddy." Mia meraih roti yang sudah di panggang lalu mengoleskan selai di atasnya. Entah kenapa pagi ini dia tidak ingin makan makanan berat, mungkin karena lambungnya sakit jadi tidak berselera makan.


"Pagi Mah, kak." Felice baru datang.

__ADS_1


"Pagi sayang..."


"Kak Mia kenapa, apa sedang tidak enak badan?" Felice pun merasakan hal yang sama.


"Tidak apa-apa, cepat sarapan. Bukannya kau ada kelas pagi," ujar Mia memperingati adiknya.


"Iya... uhh." Mendengus sebal. Padahal dia sudah perhatian tapi sang kakak begitu padanya. Dasar kakak yang dingin.


"Aku sudah selesai, aku akan berangkat sekarang Mah," pamit Mia setelah ia menghabiskan sepotong roti.


"Kau bahkan belum makan, kau hanya makan satu potong roti nak. Bagaimana kau punya tenaga untuk meeting nanti?"


"Iya Kak, bukannya dari kemarin kau makan sangat banyak. Lalu kenapa tiba-tiba hari ini hanya makan sedikit?"


Mia memandang mamah Emma dan Felice bergantian. Bagaimana menjelaskan nya, dia juga tidak tau kenapa. Dia juga tidak mau membuat mamah Emma cemas dengan rasa sakitnya. Pikirnya pasti nanti sembuh, dia juga sudah memakan obat.


"Setidaknya habiskan dulu susunya nak. Agar kau punya sedikit tenaga." Mamah Emma mengambil susu yang disediakan untuk Mia tapi sama sekali tidak disentuhnya.


"Baiklah." Mia pun meminumnya, tapi tiba-tiba saja perutnya seperti sedang di aduk-aduk saat menci-um bau susu sapi itu. Mendadak dia tidak suka dan menutup hidungnya. Tapi melihat mamahnya yang khawatir membuat Mia terpaksa tetap meminum susu itu walaupun tidak habis karena perutnya seperti tidak mau menerima nya.


"Sudah mah, aku benar-benar buru-buru." Mia segera berangkat.


"Sepertinya ada yang aneh dengan kakak dari kemarin," kata Felice menebak-nebak.


"Mamah juga merasa begitu, semoga saja dia baik-baik saja."


,,,

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, rasa nyerinya sama sekali tidak berkurang. Rasanya seperti sangat penuh perutnya padahal dia hanya makan sepotong roti.


Untunglah dia tidak menyetir mobil sendiri, dia meminta pak supir untuk mengantar nya karena merasa tubuhnya tidak baik-baik saja.


"Terimakasih pak, tidak usah ditunggu. Bapak pulang saja, nanti aku pulang naik taksi saja."


"Baik Non," ujar pak supir setelah membukakan pintu untuk majikannya.


Di ruangannya.


Sambil menunggu waktu meeting, Mia menyiapkan beberapa berkas yang akan di bahas nanti. Mengeceknya sekali lagi.


"Aww kenapa masih sakit?" rintih Mia sambil memegangi perutnya.


"Mia kau kenapa?" tanya Catty cemas saat melihat wajah temannya begitu pucat.


"Tidak apa-apa, hanya maag yang kambuh. Nanti juga sembuh." Menegakkan tubuhnya dan berpura-pura baik di depan Catty.


"Apa kau yakin, kau sangat pucat. Lebih baik kita ke rumah sakit," ajak Catty.


"Tidak perlu, Ehh sudah waktunya pergi meeting. Aku mau panggil tuan Alex dulu." Mia bergegas bangun dan membawa berkas yang sudah ia siapkan tadi.


"Tapi Mi--."


"Sudah tidak apa-apa, nanti kalau aku tidak kuat aku akan memanggil mu. Sudah sana kumpul di ruang meeting dan beritahu yang lainnya."


Dia selalu keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2