Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
6. Ingin Cucu


__ADS_3

°°°


Daniel memasuki rumahnya, tidak ada yang berubah dari luarnya begitupun saat memasuki rumah itu.


"Rumah ini masih sama seperti dulu," gumamnya.


Tiba-tiba seorang wanita datang dari dalam setelah mendengar kalau sang putra tercinta telah sampai di rumah itu.


"Putraku... Daniel...," teriak mommy Tania dengan merentangkan kedua tangannya.


"Mommy...." Daniel berlari ke arah mommy tercintanya, menghambur ke pelukan hangat sang ibu yang sudah lama tidak ia rasakan.


Mommy Tania sampai menitikkan air matanya, rasanya sudah sangat lama ia menyimpan rindu pada sang putra yang susah sekali dibujuk untuk pulang. Terpisah bertahun-tahun dengan darah dagingnya sendiri bukan hal yang mudah. Mommy Tania hampir setiap hari memikirkan putranya.


"Anak nakal, apa kau tidak rindu pada mommy sampai tidak pernah pulang?" ujar mommy Tania.


"Tentu saja sangat rindu Mom, makanya aku pulang sekarang." Daniel sangat rindu Mom, setiap saat setiap waktu aku merindukan Mommy.


"Dasar... kalau bukan karena Daddy yang memaksa, kamu pasti tidak akan pulang kan. Mungkin kamu akan pulang kalau mommy sudah tidak ada." Terkadang itulah yang dipikirkan mommy Tania.


"Kenapa Mom bicara seperti itu? Mommy itu berumur panjang, tidak akan aku biarkan Mommy kenapa-napa." Daniel menghapus air mata di pipi ibunya. Tekad Daniel menjadi dokter yang hebat bukan hanya karena mewujudkan cita-citanya saja tapi untuk keluarga nya juga.


"Kalau begitu kau harus selalu di sisi mommy untuk menjaga mommy," ujar mommy Tania seraya menempelkan telapak tangannya di pipi sang putra.


"Aku akan menjaga Mommy mulai sekarang, tidak akan aku biarkan satu penyakit pun menghampiri tubuh Mommy," ujar Daniel yang juga menempelkan telapak tangannya diatas tangan mommy nya.


"Apa kau melupakan daddy mu? Kau juga harus memperhatikannya," ujar sang mommy mengingatkan putranya.


"Biarkan saja pria tua itu, aku tidak akan mengobatinya kalau dia sakit." Daniel kembali memeluk mommy nya. Wanita yang selalu memeluknya penuh kasih sayang, wanita yang selalu melindunginya saat Daniel sedang dimarahi atau dihukum ayahnya.


"Anak nakal..., kalian ini masih sama tidak ada yang mau mengalah."


"Bukan aku Mom, suruh Daddy agar jangan selalu memaksa ku melakukan apapun kemauannya." Daniel tidak mau mengalah.

__ADS_1


"Daddy begitu karena kamu adalah putra satu-satunya, kalau bukan padamu lalu pada siapa Daddy harus menyerahkan jabatannya. Siapa yang mau meneruskan usaha kerasnya." Mommy Tania memberi pengertian pada putranya.


"Kenapa dulu kalian tidak membuatkan satu adik untukku, agar ada yang menggantikan Daddy. Jadi Daddy tidak perlu terus mendesak ku."


Menjadi anak tunggal cukup menyusahkan untuk Daniel, dia terus dituntut seperti ini dan seperti itu sejak kecil.


"Bukankah kau sendiri yang tidak mau punya adik," kilah mommy Tania saat mengingat Daniel kecil yang selalu bilang tidak mau punya adik.


"Itukan dulu Mom, aku masih kecil belum tau apa-apa. Sekarang saja kalian buatkan, belum terlambat kalian masih sangat sehat dan bugar. Tidak masalah kalau punya anak lagi," seloroh Daniel.


"Dari pada mommy punya baby lagi, lebih baik kamu saja yang memberikan kami baby. Mommy dan Daddy lebih cocok jadi grandma dan grandpa." Wajar saja jika mommy Tania menginginkan cucu, teman-temannya yang seumuran bahkan sudah punya banyak cucu.


"Bagaimana mau memberi cucu, kalau pacar saja tidak punya." Daniel paling malas kalau sudah mulai membahas pasangan.


"Nanti Mom akan minta Daddy carikan gadis untuk kamu," ujar mommy Tania.


"Big no!! Aku tidak mau pernikahan bisnis," tolak Daniel sambil berjalan ke arah tangga.


"Kita lihat nanti saja Mom, aku ke kamar dulu. Aku masih jatlag sepertinya."


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Nanti mommy bangunkan untuk makan. Jangan lupa pikirkan usulan mommy," teriak mommy Tania dengan semangat.


Meskipun usia Daniel masih cukup muda tapi hanya dia satu-satunya harapan keluarga, kalau dia sendiri tidak mau meneruskan ayahnya maka tidak ada pilihan lain selain memberikan penerus untuk keluarga itu.


,,,


Mia baru saja sampai di kantornya. Seperti biasa semua karyawan menghormatinya layaknya atasan mereka karena Mia adalah sekretaris kepercayaan CEO perusahaan itu.


"Siang Nona," sapa security yang berjaga di depan pintu masuk.


Mia hanya akan tersenyum tipis pada mereka dengan sedikit mengangguk juga. Dia tidak terbiasa berbasa-basi, terserah kalau orang lain mau menganggapnya sombong atau sebagainya. Dia tidak perduli, cukup bekerja dengan baik saja sudah cukup baginya.


Sampailah Mia di depan lift khusus karyawan, kalau hanya sendiri dia lebih memilih menggunakan lift untuk karyawan dari pada menggunakan lift khusus CEO.

__ADS_1


Mia tau sebenarnya para bawahannya hanya akan tersenyum di depannya, tapi setelah tidak ada maka mereka akan menggosipkannya. Mia sudah biasa menghadapi orang bermuka dua seperti itu. Walaupun kata-kata mereka cukup menyakitkan tapi dia ambil pusing.


Ya banyak yang menyebutnya perawan tua atau tidak laku karena umurnya yang seharusnya sudah menikah tapi belum juga punya pasangan.


Ting...


Pintu lift terbuka dan Mia segera masuk, siapa sangka kalau ada dua orang yang ikut masuk ke dalam lift itu juga. Orang yang paling tidak ingin dia lihat di perusahaan itu.


"Apa kau lihat, ini cincin yang baru Justin belikan untukku. Indahkan...," ujar salah satu wanita di depan Mia seakan dengan sengaja mengeraskan suaranya.


"Wahh indah sekali, kamu beruntung sekali menikah dengan pak Justin. Sudah tampan baik lagi."


"Iya dong, setiap akhir pekan dia juga mengajakku jalan-jalan ke luar negeri." Wanita itu kembali memamerkan suaminya dihadapan Mia.


Mia hanya tersenyum kecut, dia sama sekali tidak iri melihat hal itu. Justru dia berdoa agar apa yang dikatakan wanita itu memang benar adanya. Karena dia tau betul siapa laki-laki yang mereka bicarakan. Pria yang sudah dengan teganya menyelingkuhi nya saat mendekati hari pernikahan mereka.


Justin, ya pria itu. Bahkan Mia tidak ingin mengingat nama itu lagi. Mia tidak yakin kalau pria itu mengeluarkan banyak uang untuk istrinya karena selama bertunangan dengannya saja pria itu sama sekali tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Semuanya Mia, bahkan sekedar membayar bill di restoran saja menggunakan kartu kredit milik Mia.


"Tas kamu juga baru setiap Minggu, aku iri deh... coba ada lagi pria seperti pak Justin di dunia ini," ujar teman istri dari mantan tunangan Mia.


"Enggak ada lah, Cuma ada Justin suamiku satu-satunya yang seperti itu."


Lagi-lagi memamerkan kebahagiaannya seperti sangat ingin Mia mengetahui hal itu.


to be continue...


°°°


Hadeehhh... siapa lagi itu yang muncul 🤭


Like komen dan bintang lima jangan lupa 😍😍


Gomawo ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2