
l Lucy begitu terkejut karena botol wine yang ia pegang sudah jatuh ke lantai. Pikirannya langsung kacau, dia langsung berlutut untuk meminta maaf. Dia tau kalau bekerja seumur hidup pun tidak akan mampu menggantinya.
"Kau ini bagaimana Nona!! Apa kau tau ini adalah salah satu Wina termahal dan langka. Hanya ada beberapa botol di dunia."
"Bagaimana bisa kau sangat ceroboh."
Lucy diam menangis dan berlutut meminta pengampunan. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Meski hanya berlutut pun ia mau yang penting semua bisa diselesaikan baik-baik. Entah bagaimana nasib ke dua anaknya kalau sampai pada orang kaya itu menuntutnya.
"Ada apa ini tuan, apa bawahan saya membuat masalah?" tanya atasan Lucy.
"Kau lihat ini, apa yang dia lakukan. Dia baru saja menjatuhkan wine mahal ini!" seru pria itu.
"Maafkan kami tuan... maaf... saya pastikan bawahan saya akan bertanggung jawab."
"Mau bertanggung jawab dengan cara apa? Apa dia sanggup mengganti nya. Mau mengganti dengan apa, bahkan kalau dia menjual diri pun tidak akan bisa menggantinya."
Lagi dan lagi Lucy harus mendengar hinaan yang menjijikkan seperti itu tapi dia masih saja tidak berdaya. Dia tidak bisa berbuat semaunya demi anak-anak nya yang menunggu nya pulang.
"Maaf tuan Marvin, saya rasa hal ini tidak perlu diperpanjang apalagi sampai membuat keributan dan merendahkan wanita." Daren yang sejak tadi diam, begitu kesal saat mendengar laki-laki yang cukup terhormat itu merendahkan martabat wanita di hadapan banyak orang hanya karena sebuah minuman keras. Dia pun berdiri dengan gadis kecil di gendongan nya .
__ADS_1
"Tuan Daren, ini saya hanya mengajarkan mereka agar tidak mengulangi kesalahannya lagi. Kalau tidak di tegur dan diberi pelajaran pasti dia tidak akan pintar dalam bekerja."
"Kalau masalah itu sepertinya yang lebih berhak menegur dan memarahinya lalu meminta ganti bukankah seharusnya Calvin dan Felice yang punya acara. Tapi saya rasa mereka juga tidak akan mempermasalahkan hal kecil seperti ini, apalagi tadi saya lihat dia tidak sengaja menjatuhkannya." "Bukankah itu karena anda tuan Marvin, anda lah yang sudah kurang ajar dengan menyentuh wanita itu sehingga dia terkejut." Perkataan Daren sontak membuat laki-laki itu malu, apalagi banyak orang yang melihatnya.
"Tidak seperti itu tuan, tadi saya juga tidak sengaja. Mana mungkin saya menyentuh pelayan rendahan seperti dia." Kembali menunjuk Lucy.
"Kalau begitu kalian sama-sama tidak sengaja bukan. Jadi saya harus melaporkan hal ini pada Calvin, atau..."
"Tidak-tidak perlu tuan Daren, saya juga sudah memaafkan nya." Laki-laki terlihat menahan kekesalan tapi tidak bisa apa-apa, jangan sampai semua kerjasama nya dengan perusahaan milik Calvin terancam gagal karena hal itu.
"Kalian boleh pergi," titah Daren pada Lucy yang masih berlutut dan satu wanita lagi atasan Lucy.
"Lain kali jangan biarkan laki-laki manapun merendahkan mu." Lirih Daren saat Lucy ada di hadapannya.
Dan karena hal itu Lucy pun menoleh ke arah Daren. Mata mereka pun bersitatap cukup lama. Ada jutaan kerinduan yang tersirat di dalam bola mata mereka.
"Ayo cepat pergi!"
Lucy menyadari apa yang ia lakukan, dia pun segera pergi dari sana sebelum Daren menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Hai tunggu... " Daren merasakan sesuatu yang berbeda saat menatap bola mata wanita itu. Hatinya yang sudah lama tidak merasakan apapun kini kembali bergetar saat menatap wanita itu. Dan mata itu juga seperti ia kenal sebelumnya. "Aku harus mencari tau," gumamnya.
"Ren, mau dibawa kemana putriku." Daniel tiba-tiba saja menghadang langkah Daren.
"Minggir Niel, kau menghalangi jalanku. Aku harus mengejarnya sebelum dia pergi." Daren berusaha melewati Daniel tapi laki-laki itu malah tidak mau menyingkir.
"Siapa? Apa seorang wanita? Waahh apa kau sudah mau mengkhianati Lucy, kau mau mengejar wanita sekarang."
"Tidak, bukan seperti itu tapi... " Terlambat, Daren sudah kehilangan jejak wanita itu.
"Tapi apa?"
"Kau baru saja menghalangi ku untuk memastikan sesuatu. Sekarang dia sudah pergi. Padahal aku yakin kalau aku mengenalnya," kesal Daren lalu ia menyerahkan putri Daniel. "Sayang kau bersama daddy mu dulu ya... nanti kita main lagi. Ok cantik." Ujarnya pada gadis kecil itu.
"Oce angkel... kisss mee.. ulu angkel..." Gadis itu menyodorkan pipi chubby nya.
"Ya ampun sayang, aku tidak boleh membiarkan laki-laki manapun mencium mu selain Daddy. Ingat itu," Daniel tidak rela putri cantik nya di cium Daren ataupun orang lain.
"No plobbleemm dad, Jessii kan tayang angkel lenlen...."
__ADS_1
Daniel menepuk keningnya sendiri.