Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
154. Ancaman Binatang Buas


__ADS_3

Malam itu di hari ke empat. Dad Alex memutuskan untuk tidak berhenti mencari keberadaan putranya. Alasannya sederhana, selain katanya tempat tidak jauh lagi juga karena firasat menantunya yang mengatakan kalau Daniel dalam bahaya. Ya tadi Mia menelponnya dan menceritakan apa yang ada di dalam mimpinya. Dad Alex pun tidak bisa berkata banyak, dia belum punya informasi apapun untuk menantunya dan semua orang. Hanya mengatakan kalau lokasinya sudah dekat.


Walaupun Dad Alex sendiri tidak yakin kalau putranya masih hidup, setidaknya dia harus membawa kembali jasad putranya dan memakamkannya dengan layak.


"Bagaimana? apa sudah terlihat?" tanya Dad Alex pada anak buahnya yang memantau dari atas atap mobil yang terbuka menggunakan teropong.


"Kabar baik Tuan, di sebelah sana sepertinya ada asap."


"Asap? Apa maksudmu ada orang yang selamat dan membuat api itu?" Dad Alex cukup lega mendengarnya.


"Iya Tuan. Kemungkinkan masih ada yang selamat," ujar pria itu sambil tepat memantau lokasi asap itu.


Perlu diketahui ya, lumpur tanah itu cukup tinggi melebihi tingginya orang dewasa jadi sulit untuk melihat ke depan. Jadi mereke itu membelah lautan lumpur dengan alat berat berada di depan, Dad Alex dan tim lainnya mengikuti di belakang menggunakan mobil khusus. Jalan kaki pun tidak bisa, diinjak saja kaki mereka bisa terpelosok ke dalam lumpur.


"Tapi ada kabar buruk juga Tuan, apa anda mendengar suara lolongan serigala itu dan binatang yang mengaum," ujar bawahan itu membuat kelegaan di wajah dad Alex kembali redup.


"Maksudmu?"


"Begini Tuan, kalau berdasarkan peta lokasi itu tepat berada di pinggiran hutan liar yang penuh dengan binatang buas. Kalau mereka selamat dari bencana kemungkinan juga akan terancam oleh binatang buas. Kecuali kalau jumlah mereka banyak maka binatang buas tidak akan mendekat, karena sejatinya binatang itu takut dengan manusia."

__ADS_1


"Bukanya para binatang takut pada api, dan mereka membuat api pasti binatang itu tidak berani mendekat," ujar dad Alex menghibur diri.


"Itu kalau mereka banyak tuan, kalau hanya berapa orang saja akan lain ceritanya. Apalagi kalau mereka terluka dan mengeluarkan darah, bau amis dari darah itu akan semakin memancing binatang buas yang kelaparan untuk mendekat."


Dad Alex cukup terkesiap, dia tidak berpikir sejauh itu.


"Cepat kau perintahkan alat berat itu untuk cepat!!" titah dad Alex.


,,,


Di dekat tenda.


Tidak hanya satu tapi ada banyak bahkan puluhan binatang berkaki empat, bergigi runcing yang siap mencabik apa saja, dan bercakar tajam yang bisa mengoyak mangsanya. Bukan dari satu jenis juga, tapi mereka berbeda-beda jenis yang seolah sedang bersatu untuk mengepung tenda itu. Padahal jika di alam liar dan dalam keadaan normal setiap hewan buas berbeda jenis jelas tidak akan berteman apalagi berbagi buruan, yang ada mereka malah akan saling menyerang untuk menguasai buruan mereka.


Ini aneh tapi itulah yang tejadi, saat ini mereka bersatu dari yang besar sampai pemburu yang kecil. Bola mata mereka juga seperti sedang mengobarkan amarah. Ada apa ini sebenarnya?


Semakin dekat ke tenda, mereka mengaum  bersamaan tapi anehnya lagi hanya orang-orang di dalam tenda itu yang mendengar.


Aaaauuuu....

__ADS_1


Eeeerrrrggg....


Rooaaarrr.....


Gug gug gug....


Dalam kesakitan, orang-orang di dalam tenda mendengar suara itu. Mereka langsung panik dan ketakutan, berteriak meminta tolong tapi tidak bisa lari. Tubuhnya menggigil ketakutan , apalagi melihat bayangan yang semakin mendekat dari luar tenda.


"Toolllooong......... toolong kami....."


" Tolong... to... long..."


Berteriak pun percuma karena tidak akan ada yang menolong mereka dari terkaman binatang buas itu. Mungkin memang inilah akhir dari kesakitan mereka, perjalan mereka dan buah dari perbuatan mereka di masa lalu.


Sebenarnya dosa apakah mereka para penduduk di kota A, yang pertama karena terlalu serakah dan tidak segan untuk berbuat dosa. Lalu apakah mereka tidak punya kesempatan untuk berubah? Sampai yang tersisa pun kini nyawanya di ujung tanduk. Masih ada yang kedua yaitu karena mereka terlalu kejam, kejam pada siapa? Pada mereka para binatang penghuni hutan lindung itu. Mereka membunuh hewan-hewan yang ada di sana hampir setiap hari, untuk di ambil kulit, taring, tanduk, cula, dan bagian lainnya yang bisa mereka jual. Dagingnya juga mereka konsumsi.


Setiap hari ada hewan yang menangis merintih kesakitan saat diambil bagian tubuhnya, yang tidak dibunuh pun akhirnya mati juga kesakitan. Ya sekejam itu mereka, hanya demi uang yang tidak seberapa. Jadi wajar kan kalau saat ini para binatang itu bersatu untuk membalaskan dendam sebangsa mereka. Tidak membiarkan penduduk kota A tersisa, karena pasti perbuatan keji mereka akan terus berlanjut.


"Jangan makan kami.... pergi kalian!!"

__ADS_1


"Tidaaakkkk...!!!!'


__ADS_2