
Daren keluar dari kerumunan pesta. Dia sudah tidak mood untuk berada di sana. Ia lebih memilih untuk pergi ke kamar yang sudah disiapkan untuk nya dari pihak pengantin.
Daren berjalan lambat di lorong-lorong hotel mewah itu. Cukup sepi karena tidak ada pengunjung lain, hotel itu sudah dibooking penuh oleh Calvin untuk tamu-tamunya. Tidak heran karena memang para pengusaha sukses sering melakukan hal yang sama.
Daren masih memikirkan wanita yang tadi bersitatap dengannya. Rasanya dia sangat mengenal mata itu. Bukan seperti tatapan para wanita saat melihatnya melainkan ada sesuatu yang lain di sana dan hanya sang istri yang telah lama menghilang lah yang mempunyai tatapan seperti itu. Tapi jika melihat penampilan wanita itu dan bagaimana wanita itu bekerja apa mungkin dia Lucy. Kalau benar kenapa dia tidak mengenali Daren.
"Aaarrrggghhh... dimana kalian sebenarnya. Kenapa aku belum bisa menemukan kalian. Apa kalian baik-baik saja, apa kalian bisa makan dan tidur dengan baik. Maafkan papi Zo, papi sangat tidak berguna sebagai laki-laki. Papi harap kau bisa melindungi mami dan adikmu."
"Jika adikmu sudah lahir pasti dia sudah besar sekarang. Dan aku sama sekali tidak tau seperti apa anakku sendiri bahkan jenis kelaminnya saja aku tidak tau."
Daren menggeram frustasi. Memukul tembok di sampingnya hingga tangannya memar, tapi sama sekali tidak terasa sakit. Yang ada hatinya yang lama menghilang terasa lebih sakit. Mungkin Daren memang sempat meneguk wine sedikit sebelum pergi dari pesta tapi dia masih sangat sadar saat ini.
Daren pun melanjutkan langkahnya menuju lift, kepalanya sudah terasa sangat berat dan berdenyut. Dia ingin segera merebahkan diri di atas ranjang. Masalah wanita itu, dia akan mencari tau nanti.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara kau yang tidak becus!!" seru seseorang di ujung lorong yang sepi.
Daren mendengarnya cukup jelas dari kejauhan. Tapi ia merasa bukan urusannya.
"Maaf tuan, aku tidak menyangka kalau dia akan sangat beruntung. Kalau tidak ada tuan Daren pasti dia sudah berhasil masuk dalam jebakan kita."
Daren mengerutkan keningnya saat mendengar namanya di sebut. Kenapa mereka harus menyebutkan namanya, membuat Daren memasang telinganya untuk mendengarkan percakapan mereka lagi. Atau mungkin mereka salah satu saingan rumah sakitnya.
"Ya kau bilang dia hanya janda dengan dua anak dan butuh banyak uang. Kalau saja aku berhasil mengancamnya tadi dia pasti sudah naik ke ranjang ku saat ini."
"Hahaha... aku suka idemu. Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam dengan nya. Tubuhnya sangat indah meski janda. Aku juga tidak perlu repot-repot bertanggungjawab karena dia sudah bukan gadis lagi."
"Benar Tuan, setelah selesai anda bisa langsung meninggalkan nya. Tinggalkan saja beberapa lembar uang, dia pasti sudah senang."
__ADS_1
"Hahaha... aku tidak menyangka kalau kau selicik itu pada anak buahmu sendiri. Sudah lama aku tidak mendapatkan mangsa yang mulus seperti dia. Biasanya anak buahmu sangat payah dan tidak bisa memuaskan ku. Kali ini kau akan dapat bayaran yang banyak dariku..."
Daren mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan mereka yang sangat tidak bermoral. Mereka dengan gampangnya mengincar wanita yang tidak bersalah hanya demi kepentingan pribadi mereka. Dengan teganya wanita itu menjual tubuh wanita lain hanya demi uang. Bagaimana bisa ada binatang seperti mereka.
"Aku tidak akan membiarkan pesta Felice dan Calvin ternodai oleh perbuatan mereka. Dan lagi wanita itu juga tidak bersalah. Sepertinya wanita yang mereka maksud itu adalah wanita yang tadi aku bantu." Daren pun mulai merencanakan sesuatu. Dia sempat merekam percakapan mereka sampai selesai.
Daren menghubungi Daniel untuk membantunya menemukan keberadaan wanita itu. Dengan kekuatan anak buah om Alex pasti akan cepat ketemu. Awalnya Daniel langsung murka dan ingin memberitahu Calvin soal hal itu, tapi Daren mencegahnya. Dia bilang jangan sampai merusak pesta, biar masalah ini ia yang selesaikan. Cukup pinjamkan saja anak buahnya.
Mengenai urusan bisnis, Calvin bisa menyelesaikannya esok hari.
Daren berlari-lari kesana-kemari mencari wanita itu. Cukup sulit menemukannya karena para pelayan menggunakan seragam yang sama, bahkan tatanan rambut dan sepatu pun hampir sama semuanya. Wajah wanita itu pun Daren tidak tau karena saat melihatnya tadi dia memakai masker.
"Bagaimana, apa sudah ditemukan?" tanya Daren menghubungi salah satu orang suruhan Daniel.
__ADS_1
Ternyata semuanya sama, mereka juga kesulitan menemukan wanita itu. Kalau seperti ini terus Mungkin saja semuanya bisa terlambat. Daren berpikir keras untuk mendapatkan ide.