
°°°
Daniel sudah kembali dengan dua gelas kopi panas, padahal sang istri maunya dingin tapi menurutnya tak baik saat cuaca sedang dingin seperti ini.
"Bagaimana, apa enak?" tanya Daniel, tadi dia benar-benar mengantri panjang demi mendapatkan kopi itu. Ternyata walaupun mobil yang terparkir tidak banyak tapi banyak pengunjung yang didominasi anak muda sekolahan. Yang mungkin tidak membawa mobil.
"Lumayan enak karena suamiku sudah rela antri sambil sesekali melambaikan tangan padaku. Bukankah itu sangat manis." Mia sampai sakit perut karena tertawa sendiri melihat tingkah suaminya.
"Bukannya aku sudah bilang kalau kita tidak boleh kalah mesra dari mereka. Tapi kau malah menertawakan ku." Daniel menyesap kembali kopi nya. Sebenarnya dia tidak terlalu suka kopi, hanya sesekali saja dia akan meminum minuman yang terbuat dari biji kopi itu. Selebihnya dia lebih suka air putih tentunya, kalau tidak teh susu. Mungkin karena ia dokter jadi tau mana yang baik untuk tubuhnya dan yang tidak boleh berlebihan.
"Dulu aku juga sering kemari saat masih kecil, Daddy menyuruh ku ikut berbagai les privat sampai aku muak dan memilih kabur kemari." Daniel menceritakan masa kecilnya.
"Kenapa? Bukannya memang anak orang kaya memang selalu banyak ikut les?" Mia menautkan kedua alisnya.
"Ya karena Daddy hanya menyuruh ku untuk belajar bisnis dan bisnis. Bukan seperti anak-anak lainnya yang bisa les musik, renang, menyanyi, dan lainnya. Sedangkan Otakku hanya terus Daddy paksakan untuk belajar bisnis, padahal dia tau kalau aku lebih tertarik dengan dunia medis. Untung saja ada Kakek yang selalu membela ku dulu, tapi kalau kakek tidak ada di rumah aku akan kabur kemari."
"Apa kau begitu menyukai profesi mu sekarang Niel? Bukannya usaha Daddy selama ini akan sia-sia kalau putranya tidak mau meneruskan bisnisnya." Mia berkomentar.
"Maka dari itu kita harus secepatnya memberikan Daddy cucu, agar ada yang meneruskan bisnisnya," ujar Daniel dengan mudahnya.
"Lalu bagaimana kalau anak kita juga tidak menyukai bisnis seperti mu. Apa kau mau memaksanya?" Mia menguji suaminya dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
Daniel tampak diam memikirkan apa yang istrinya katakan, benar juga menurutnya. "Kalau begitu kita harus terus berusaha melahirkan anak sampai menemukan yang mau meneruskan bisnis kakeknya."
Mia membulatkan matanya, apa dia akan dijadikan mesin pencetak anak.
Daniel menoleh dan menatap wajah istrinya yang sudah tampak tegang. "Bercanda sayang, mana mungkin aku akan memaksa kamu untuk melahirkan banyak anak. Soal anak terserah padamu mau berapa. Soal perusahaan, kan ada kamu yang akan membantu Daddy."
Mia baru bisa bernafas lega, tidak bisa ia bayangkan melahirkan banyak anak. Mendengar yang sudah pernah melahirkan saja katanya rasa sakitnya tidak main-main.
"Oh iya, apa sekarang kita masih boleh melempar batu ke dalam sungai. Atau ada larangannya tidak boleh membuang apapun di sungai." Pandangan Daniel mencari di penjuru tempat, adakah larangannya.
"Kenapa, apa kau ingin melempar batu?" Mia memangku
"Hmm... dulu ada seorang gadis cantik yang sering aku temui disini. Usianya lebih tua dariku, karena pada saat itu tinggi gadis itu lebih tinggi dariku. Dia bilang kalau mau meluapkan kekesalan dan melupakan masalah, lemparkan batu kecil itu saja ke sungai. Anggaplah batu itu masalah mu yang kau buang jauh-jauh." Daniel mengingat perkataan gadis yang suka ia temui saat itu.
"Hai... apa yang kau pikirkan?" Daniel melambaikan tangan di depan wajah istrinya yang malah melamun.
"Niel apa kau anak laki-laki yang dulu hampir ditindas oleh berandalan kecil, wajahmu sudah babak belur tapi kau masih saja sombong saat itu." Ya Mia ingat saat pertama kali melihat Daniel kecil yang mudah ditindas, sok jagoan tapi tidak bisa melawan.
"Hai... kenapa kau tau? kau mendengarnya dari siapa?" Daniel terkejut saat istrinya mengatakan peristiwa yang sengaja ia tutupi.
"Apa kau tidak ingat dengan gadis berkuncir kuda yang menolong mu. Tentu saja aku tau, karena aku ada di sana saat itu." Mia menyesap kembali kopinya yang kini sudah lebih dingin karena terlalu lama mendiamkannya.
__ADS_1
Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak disangka kalau dunia begitu sempit. Gadis tomboy dan jagoan yang dulu selalu menolong nya saat ada yang mengganggu kini menjadi istrinya.
"Ternyata kita memang ditakdirkan bersama sejak dulu. Kalau saja aku tau gadis itu yang akan menjadi istri ku saat ini. Tidak mungkin aku jauh-jauh pergi ke luar negeri dan memacari wanita di sana," ujar Daniel.
"Ya, aku juga tidak menyangka kalau bocah lemah yang sok jagoan itu yang menjadi suami ku. Apa sekarang kau juga butuh bantuan ku untuk melawan musuhmu," seloroh Mia.
"Wait... aku tidak selemah itu sekarang. Apa kau tau, setelah pertemuan kita beberapa kali aku selalu datang kesini menunggu mu. Terkadang hampir dua jam aku berdiam diri disini tapi kau tidak datang lagi. Keesokan harinya aku terus datang, dan seperti biasa para berandal itu menindasku. Aku membiarkan mereka memukulku sambil berharap kau datang menyelamatkan ku seperti biasa." Daniel menjeda sebentar.
Kini raut wajah Daniel tampak sedih dan putus asa. Seperti dulu yang tidak pernah lagi bertemu dengan gadis itu.
"Aku sampai berpikir kalau kau membenciku karena aku ini lemah. Dan aku bertekad untuk ikut pelatihan fisik dan belajar bela diri. Aku sangat giat belajar sampai aku bisa mengalahkan semua berandalan yang ada disini. Semua orang bahkan berterimakasih padaku. Tapi aku sadar kalau kamu tidak pernah kembali lagi ke tempat ini."
"Maaf, aku tidak tau kalau kau menungguku. Saat itu di rumah banyak sekali masalah, belum lagi mamah yang baru melahirkan dan tidak bisa kemana-mana. Lalu papah yang selalu saja membuat onar, pulang mabuk-mabukan, berjudi dan hutang dimana-mana. Aku harus menjaga mamah dan juga bekerja serabutan untuk makan." Mia hampir saja meneteskan air matanya saat mengingat kejadian itu. Di masa yang sangat sulit harus sekolah agar beasiswa tidak dicabut, lalu bekerja, dan merawat ibunya.
Daniel langsung membawa Mia dalam pelukannya, padahal ia sudah janji untuk tidak membuatnya menangis tapi kini mata istrinya kembali berair karenanya. "Hussttt... jangan mengingatnya lagi, maaf karena aku kau jadi ingat lagi. Sudah ya, sekarang yang terpenting kau sudah tumbuh jadi wanita yang kuat dan hebat. Dan kita juga dipertemukan lagi oleh takdir," lembut Daniel sambil mengusap-usap punggung sang istri.
to be continue...
°°°
Terimakasih doanya semua. 🤧
__ADS_1
Semoga kalian semua selalu diberi kesehatan🤗🤗