Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
41. Kebaikan Daniel


__ADS_3

°°°


Mia cemas menunggu adiknya sedang diperiksa. Tadi Felice tidak sadarkan diri dan sebagai kakak Mia takut kalau sang adik sudah diberi obat yang berbahaya.


"Bagaimana keadaan adik saya Tuan?" Mia bangun dari duduknya dan langsung bertanya pada Daniel.


"Duduklah, biar aku obati lukamu," titah Daniel yang datang membawa kotak obat.


"Aku tidak apa-apa Tuan, tidak perlu diobati. Aku hanya ingin tau bagaimana keadaan adik saya," tegas Mia. Dia lelah fisik dan pikirannya, kalau harus meributkan hal yang tidak penting baginya. Keadaan sang adik lebih penting dari apapun.


Daniel menghela nafasnya panjang, menghadapi Mia sungguh menguras kesabarannya.


"Duduklah, kalau kau ingin tau bagaimana keadaan adikmu," ujar Daniel.


"Kalau anda tidak mau memberitahukan, biar saya cari tau sendiri. Terimakasih sekali lagi atas bantuan anda. Saya akan mengingat kebaikan anda." Mia berjalan keluar dari ruangan itu dengan kesal.


Aaa... Mia memekik saat tiba-tiba tubuhnya melayang dan lagi-lagi Daniel lah yang mengangkat tubuhnya.


"Tuan, apa yang anda lakukan! Tolong turunkan saya! Kalau anda tidak mau menurunkan saya, maka saya akan teriak!" Mia meronta minta diturunkan.


"Kalau kau berani teriak maka aku akan menutup mulutmu menggunakan bibirku!" Sentak Daniel.


Akhirnya Mia pun diam tidak berani berontak lagi. Sampai di ruangan yang tadi, Daniel menurunkan Mia.


"Bisakah kau dengarkan aku sebentar saja? Dengar baik-baik! adikmu baik-baik saja, dia hanya diberi obat tidur oleh mereka jadi sebentar lagi dia akan bangun. Sementara kamu, coba lihat." Daniel menunjuk tubuh Mia yang penuh luka dan memar.


"Apa kau mau menemui ibu dan adikmu dalam keadaan seperti ini. Kamu mau membuat mereka khawatir dan sedih?" suaranya meninggi menyadarkan Mia.


"Diamlah biar aku obati," ujar Daniel.


Mia pun menurut dan pasrah saat Daniel mulai mengoleskan obat. Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa sakit saat luka-lukanya tersentuh. Mia tidak ingin terlihat lemah di depan laki-laki, hanya itu yang bisa ia lakukan agar tidak tertindas.


"Sudah," ujar Daniel setelah selesai mengobati luka Mia.


"Terimakasih... terimakasih karena anda sudah menyelamatkan kami. Tolong nanti anda kirimkan tagihan ganti rugi di tempat itu pada saya. Nanti saya akan menggantinya."


"Tidak perlu, kau tidak perlu mengganti nya dan jika kau mau berterimakasih maka pertimbangan kan tawaran ku yang terakhir," tukas Daniel.


"Pertimbangan bagaimana kalau ada laki-laki yang melindungi keluarga kalian. Bagaimana kalau ada kejadian yang diluar dugaan seperti tadi. Ijinkan aku menjaga kalian," pinta Daniel.

__ADS_1


Kalau boleh jujur, Daniel sebenarnya sangat khawatir tadi. Khawatir bagaimana kalau mereka sampai menyakiti Mia, lalu melukai perutnya. Untunglah tidak ada luka yang berarti.


,,,


Setelah kejadian malam itu Felice lebih banyak diam tidak seperti biasanya. Walaupun mamah Emma dan Mia tidak pernah menyalahkannya tapi Felice merasa dirinya sudah sangat bersalah dengan menambah beban pikiran sang kakak.


Padahal kejadian malam itu bukan sepenuhnya salah Felice karena dia dijebak oleh pacarnya sendiri. Mia pun hanya memperingati nya saja agar lain kali berhati-hati.


"Nyonya, keadaan anda sudah cukup bagus. Saya akan menjadwalkan operasi untuk anda," ujar Daniel pada mamah Emma.


"Benarkah Dok? Terimakasih dokter, ini semua berkat anda. Saya tidak tau bagaimana membalas kebaikan anda pada keluarga kami."


"Tidak perlu sungkan Nyonya, itu sudah kewajiban saya sebagai dokter. Yaitu berusaha menyembuhkan pasien saya."


Daniel melirik Felice yang seperti sangat terpukul setelah malam itu.


"Setelah keluar dari rumah sakit ini pasti saya akan berterimakasih dengan benar pada anda. Saya akan memasak untuk anda," tutur mamah Emma dengan wajah bahagia, mungkin karena akhirnya dia bisa melakukan operasi dan seakan mempunyai harapan kembali untuk hidup.


"Baik, saya akan menantikannya."


Selesai memeriksa Daniel pun keluar dari ruangan itu.


Kali ini pun sepertinya Daniel mau melakukan sesuatu untuk Felice agar tak lagi tertekan.


Daniel mendatangi dokter psikiater, "Apa anda sibuk? saya butuh bantuan anda."


,,,


Beberapa saat kemudian.


Dokter psikiater rumah sakit itu pun berkeliling tiap kamar rawat pasien. Tujuannya untuk memeriksa keadaan psikis pasien dan keluarganya secara mental karena sebenarnya selain kita butuh finansial yang bagus untuk berobat, kita juga butuh mental yang kuat untuk menghadapi segala kemungkinan apabila pasien tiba-tiba tidak tertolong atau untuk melawan kejenuhan selama di rumah sakit.


Apa yang pihak rumah sakit berikan pada pasien dan keluarganya pun disambut gembira oleh mereka. Kedatangan seorang psikiater ternyata sangat membantu untuk memberikan sugesti yang positif untuk para pasien.


Sampailah dokter psikiater itu di lantai tiga no 116, kamarnya mamah Emma.


"Selamat siang Nyonya... " sapa dokter Julia.


"Siang Dok, maaf tadi sepertinya saya sudah diperiksa," Ujar mamah Emma yang mengira kalau dokter Julia itu mau memeriksa.

__ADS_1


"Kedatangan saya kemari adalah memberikan pelayanan gratis dari bagian psikiater , untuk membangkitkan semangat kalian sebelum operasi," jelas dokter Julia.


"Mari Nyonya."


Mamah Emma dan Felice pun berkonsultasi bergantian pada dokter Julia. Perasaan Felice saat ini jauh lebih tenang setelah berbagi cerita dan mengungkapkan isi hatinya.


Sejak tadi ternyata Daniel mengawasi dari pintu, melihat bagaimana Felice mau terbuka pada dokter Julia.


"Terimakasih atas bantuan anda Dok," ujar Daniel saat bertemu dokter Julia seusai bertemu Felice.


"Sama-sama dokter Daniel. Sepertinya anda cukup perhatian juga pada pasien di kamar 116 dan keluarganya. Apa anda mengenal mereka atau mereka kerabat anda?" tanya dokter Julia.


Sekarang belum tapi sebentar lagi akan menjadi kerabat.


"Saya mengenal putrinya. Ya sudah kalau begitu saya permisi mau melanjutkan pekerjaan." Daniel pun pergi dengan tersenyum tipis.


Apa nona yang tadi maksudnya, ck... dasar anak muda.


,,,


Daniel baru saja selesai melakukan operasi hari ini. Cukup melelahkan karena hampir enam jam lamanya berada dalam ruangan operasi tanpa istirahat.


"Hai Niel, apa kamu tidak pegal melakukan operasi berjam-jam?" tanya Daren yang tadi ikut melihat bagaimana Daniel mengoperasi pasiennya, sekaligus mencatat hal-hal penting. Dia yang hanya melihat saja lelah apalagi dokter yang melakukan operasi.


"Menurut mu? Nyawa mereka dipertaruhkan di meja operasi, jadi kita sebagai dokter bedah harus melakukan dengan hati-hati dan teliti. Satu kesalahan saja bisa merusak jaringan di tubuh pasien atau bisa terjadi pendarahan," terang Daniel sambil mencium tangannya.


"Iya iya, aku paham. Tapi tidak bisakah kita beristirahat dulu lalu melanjutkannya nanti," ujar Daren.


"Kau pikir mereka bisa menunggu?? Telat satu detik saja akan lain ceritanya!" tukas Daniel lalu pergi dari sana. Tubuhnya begitu lelah untuk sekedar meladeni pertanyaan konyol sepupunya.


Cih... maka dari itu aku tidak ingin jadi dokter bedah. Sangat melelahkan dan mengurus tenaga. Daren berdecak kesal.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2