
°°°
Sepanjang Mia menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Daniel, selama itu juga mulut Catty menganga mendengarnya. Ya untung saja tidak ada lalat di tempat itu. Kalau ada pasti mulut Catty sudah jadi sarang lalat sekarang.
"Begitulah ceritanya, apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku bingung, bagaimana menurut kamu?" Mia yang sejak tadi fokus bercerita tidak melihat bagaimana ekspresi Catty saat ini. Dia pun terkejut saat menoleh.
"Catt, kau baik-baik saja?" cemas Mia karena sejak tadi Catty diam saja dengan mulut yang menganga, matanya pun sudah mau keluar dari tempatnya.
"Apa kau waras?" Catty menyentuh kening Mia dengan punggung tangannya.
"Catt, kau apa-apaan. Tentu saja aku waras, kalau tidak bagaimana aku bisa disini sekarang." Mia menepis tangan temannya yang menganggapnya tak waras. Padahal dia rasa yang tidak waras itu Catty karena sikapnya aneh.
"Kalau kamu waras kenapa tidak terima saja ajakan menikah dokter itu, aahh bukan putra tuan tuan Alex. Apalagi yang mau kau pertimbangkan, benar apa yang dia katakan kalau Tante Emma juga pasti bahagia kalau kau menikah dan lagi kalau kau hamil juga tidak akan memalukan karena punya suami."
"Tapi aku tidak mencintainya, Catt." Mia tampbah pusing mendengar ceramah temannya.
"Cinta??? Apa gunanya cinta kalau akhirnya kau disakiti seperti kemarin. Kau bisa belajar mencintainya setelah menikah nanti," komen Catty yang heran dengan pikiran temannya.
"Tapi dia juga tidak mencintai ku, bagaimana pernikahan itu nanti. Kita seperti tinggal dengan orang asing," ujar Mia. Dia menyesap minumannya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah berbicara panjang lebar.
"Bukannya katamu tadi dia akan belajar mengenalmu, jadi kenapa kau tidak bisa. Cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa, kau biasakan saja hidup mu dengan kehadirannya. Jangan banyak berpikir sebelum anak itu benar-benar ada dan Tante Emma kecewa padamu," terang Catty. Dia yang berpengalaman sudah menikah tentu tau kalau tidak selamanya cinta itu jadi hal utama dalam sebuah hubungan pernikahan.
Komitmen, tanggung jawab dan bisa dipercaya, saling mengerti satu sama lain, saling menghormati itu cukup penting dalam pernikahan lalu cinta cukup sebagai pelengkap. Banyak pasangan yang mengagungkan cinta dalam hubungan mereka tapi tak berakhir dengan baik. Ya itu karena mereka terlalu dibutakan cinta, hingga mengesampingkan artinya ikatan pernikahan.
"Tidak perlu banyak berpikir, jalani saja apa yang ada di depan mata. Itu menurut ku, selain karena itu semua. Daniel juga sangat mapan secara finansial, jadi tidak akan ada masalah keuangan dalam rumah tangga kalian nanti," saran Catty lagi. Aah padahal dia sangat lapar tadi tapi kabar yang baru saja ia dengar sungguh membuatnya kenyang.
"Tapi bagaimana dengan pandangan orang-orang kalau aku menikah dengannya. Termasuk para karyawan kantor." Mia butuh banyak pertimbangan.
__ADS_1
"Justru kalau kau mau menikah dengan putranya CEO, semua orang yang selama ini membicarakan mu akan tau terkejut kalau kau menikah dengan putra CEO mereka," seloroh Catty, dia senang membayangkan bagaimana reaksi karyawan kantor.
"Sekarang aku tanya, apa kau saat ini sedang menyukai seseorang?" tanya Catty dan Mia menjawabnya dengan gelengan.
"Lalu apa keluarganya dokter Daniel juga setuju??"
kali ini Mia menjawab pertanyaan mengangguk.
Brak!!
"Nah... semuanya sudah beres lalu kamu tunggu apalagi." Catty menggebrak meja karena terlalu bersemangat. Sampai pengunjung restoran yang lain pun memperhatikannya.
"Catt duduk lah, kita dilihat banyak orang, " bisik Mia sambil tersenyum simpul pada semua orang yang sedang memandangi mereka.
Catty pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah jadinya. Tersenyum kikuk pada semua orang.
"Ayo habiskan makanannya, sebentar lagi jam makan siang selesai."
"Semua itu gara-gara kau tadi," ujar Mia.
Mereka tertawa bersama sepanjang perjalanan kembali ke kantor. Tak peduli dengan tatapan para karyawan yang lain, karena kedekatan mereka bukan lagi rahasia umum.
Tengah asyik berbincang sampai akhirnya lift yang mereka tunggu pun terbuka.
"Ayo," ajak Mia. Dia pun masuk disusul Catty. Lift yang begitu longgar tidak seperti biasanya. Biasanya di jam istirahat, pagi dan pulang kantor pasti lift selalu penuh.
"Tumben sepi," komen Catty dan Mia hanya mengangkat bahunya.
__ADS_1
Namun, sepertinya mereka salah perkiraan karena baru saja pintu lift mau menutup. Beberapa orang datang memenuhi ruangan sempit itu. Dan betapa tidak beruntungnya Mia karena harus bertemu dengan dua orang yang paling tidak ingin ia temui.
Mia mengalihkan pandangannya, bukan karena cemburu tapi perbuatan dua orang itulah yang membuat nya harus menjomblo hingga sekarang. Rasa trauma nya akan pengkhianatan tak bisa semudah itu hilang.
"Tidak usah melihat mereka," bisik Catty yang tau betul bagaimana perasaan Mia.
Sementara senyum licik justru tercetak di bibir Laura, dia bergelayut manja pada lengan Justin. Sengaja untuk membuat Mia kesal. Ya pikirnya selama ini, Mia belum juga menikah karena masih belum bisa melupakan Justin. Dan ya, hampir semua orang di kantor itu memikirkan hal yang sama.
Sementara Justin yang tiba-tiba di peluk lengannya justru merasa risih. Apalagi ada mantannya di belakang. Entah kenapa akhir-akhir ini pria itu menyesali keputusannya telah meninggalkan Mia dulu. Padahal saat bersama Mia hidupnya enak dan kalau mau apa-apa tinggal minta pada Mia yang gajinya lebih besar, tapi saat bersama Laura yang ia pikir berasal dari keluarga kaya malah sebaliknya. Wanita itu selalu saja meminta uang dan uang, membuat Justin harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan istrinya yang suka barang-barang mewah.
"Mereka menjijikkan sekali, pasangan tidak tau malu ... cih..." cicit Catty yang melihat bagaimana pamernya pasangan itu.
"Sayang, terimakasih ya liburnya kemarin." Laura sedikit mengeras suaranya.
"Waah kalian liburan lagi? Senangnya punya suami seperti Justin yang sangat menyayangi istrinya."
"Iya aku juga iri pada Laura, suaminya sangat royal dan tampan lagi."
Seperti biasa pujian pun berdatangan untuk pasangan itu. Membuat Laura tersenyum menyeringai.
Sementara Mia sama sekali tidak terpengaruh akan hal itu karena ia sangat tau siapa Justin. Pria itu hampir jarang sekali keluar uang sewaktu bersamanya, sangat pelit dan perhitungan tapi karena dulu Mia cinta jadilah tidak peduli akan hal itu. Mungkin benar kata Catty, kalau cinta hanya akan membuat kita buta dan kehilangan logika dan akal sehat. Terbukti saat Mia baru menyadari semua itu setelah berpisah dengan Justin.
"Mia... calon suami mu itu sangat hebat ya, dia dokter bedah yang hebat itu kan. Trus dia juga anak konglomerat," lontar Catty dengan suara yang keras. Tentu saja dia sengaja, Catty melirik pada Laura yang kini berwajah masam.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍😍
Makasih semua😘😘😘