
°°°
Pembawa acara mengatakan kalau lampu akan segera dimatikan dan artinya acara pun akan dimulai. Kini para pria dan wanita sudah dipisahkan menjadi dua kubu.
Yang memang datang bersama pasangan tentu cemas kalau nanti mereka tidak mengenali pasangan mereka yang sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ikut juga pasti rugi karena akan ada hadiah menarik menanti.
Jasmine, wanita itu semakin terpisah dengan suaminya dan kini ia ikut gerombolan para wanita tapi dari kejauhan justru dia seperti mengenali sosok yang tadi dia cari. Senyum smirk pun tersungging di wajahnya. Kalau nanti dia bersama pria itu saat lampu mati bukankah akan dianggap kebetulan. Dia jadi punya alasan pada Vino. Apalagi mengingat bagaimana kemampuan dansa sang mantan.
Aku pasti mendapatkan mu. Tidak sulit, aku masih ingat bau parfum yang kamu pakai.
Ya semua orang seperti sudah mempunyai incaran masing-masing. Tinggal keberuntungan mereka bagaimana nantinya dan juga ikatan lalu kemistri juga jadi faktor penentu, apakah mereka bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan.
"Sudah siap semuanya." Sang pembawa acara memberi aba-aba.
"Siap!" mereka menjawab dengan semangat.
"Kalau begitu mari kita mulai dalam hitungan 3... 2... 1... matikan!"
Tep. Lampu benar-benar dimatikan seluruhnya, hanya ada cahaya bulan dari luar ruangan. Bahkan mereka pun sudah diperingati untuk tidak curang dengan menggunakan lampu ponsel. Jika melanggar sudah pasti akan didiskualifikasi.
Mereka mulai bergerak mencari pasangan masing-masing dan ada juga yang mengharapkan pasangan orang lain.
Seperti Jasmine yang bergerak cepat menuju posisi dimana Daniel berada tadi. Hidungnya pun mengendus bau aroma khas Daniel. Parfum yang dulu pernah ia belikan. Pria itu menyukai aroma itu. Tapi harapan tinggalah harapan karena ternyata hampir semuanya para pria bau menyengat parfum masing-masing.
Siaalan!! Apa mereka semua menyemprotkan parfum satu botol ke tubuh mereka. Hidungku jadi tidak bisa menebak yang mana bau milik Daniel.
Sampai tak sengaja Jasmine tersandung dan seseorang menangkap nya.
Sekarang giliran Daren, Seharusnya memang wanita yang berjalan ke arah laki-laki untuk mencari pasangan tapi Daren dia bergerak lebih dulu ke arah Felice. Mudah saja karena ternyata selain sudah menghapal aroma dan mengukur tinggi badannya. Daren juga sudah menyiapkan sesuatu yang lain. Jadi dia sengaja memberikan penjepit rambut yang sedikit berkilat dalam gelap. Jadi sekarang dia sedang mengikuti kemana langkah Felice.
Daaannn hap, dalam hitungan menit Daren berhasil mendapatkannya.
__ADS_1
Ehhh kenapa wanginya berbeda, tapi tingginya sama. Ahh mungkin itu karena terlalu banyak wangi-wangian di ruangan ini.
Daren tersenyum senang setelah mendapatkan apa yang dia mau. Tinggal bagaimana caranya membuat gadis itu tertarik padanya.
Tidak jauh berbeda dengan Daren. Daniel saat ini sedang menunggu seseorang menghampirinya. Wanita yang sudah membuat nya gelisah. Daniel bisa melihatnya dalam kegelapan, dari Bros yang Mia pakai di da-danya. Tadi tidak sengaja dia melihat benda milik mommy nya itu di sana, dipakai Mia. Sepertinya memang hari keberuntungannya, tidak perlu berbuat curang seperti Daren pun dia bisa dengan mudah mengenali istrinya.
"Apa kalian sudah mendapatkan pasangan kalian? Ok tidak perlu terburu-buru karena waktunya masih sepuluh menit lagi." sang pembawa acara bersuara dalam kegelapan.
"Kalau kalian tidak yakin dengan pasangan yang ada dihadapan kalian sekarang. Kalian masih bisa menggantinya loh..." sambungnya lagi.
Nah Daniel masih santai di tempat, sambil memperhatikan istrinya yang sedang berjalan. Entah istrinya itu mencari siapa. Dia ingin tau dan melihatnya.
Mia, sebenarnya dia tidak yakin bisa menemukan suaminya. Kalau pun bertemu juga malas kalau melihat dia yang bersikap dingin padanya. Mia hanya berjalan asal dan justru menghindar kalau menyenggol seseorang. Biarlah sampai lampu menyala dia tidak dengan siapa-siapa, itu lebih baik jadi dia bisa duduk dan istirahat saja.
Entah pria itu sudah bersama siapa sekarang. Apa peduliku, kalau dia mendapatkan gadis muda juga silahkan. Ngedumel sendiri dalam hati.
Mia terus saja jalan, tujuannya satu yaitu menyingkir dari sana. Menepi dari keadaan. Namun, sayang seseorang menariknya dalam pelukannya. Memeluk pinggangnya mesra.
"Hai... lepas!! Siapa kau." Mia berusaha melepaskan diri tapi tangan yang melingkar di pinggang nya terlalu kuat. Malah tubuhnya semakin menghimpit tubuh pria itu.
"Niel... aku sesak." Pelukan Daniel begitu kencang.
"Baguslah kalau sudah tau, apa kau kecewa karena aku menemukan mu. Bukan lelaki dewasa yang kau harapkan."
Apa karena ucapannya itu yang membuat sikap Daniel berubah.
"Apa kau marah padaku, Niel?" tanya Mia dalam kegelapan. Jika saat ini lampu menyala pasti keduanya sedang saling tatap, tapi walaupun begitu mereka masih bisa merasakan hal itu.
"Tidak, marah kenapa?" elaknya.
"Karena aku mengatakan hal itu," ujar Mia.
__ADS_1
"Aku tidak marah."
"Lalu kenapa kau mendiamkan ku? Apa kau merajuk, kau seperti anak kecil Niel."
Mia sungguh tidak suka menghadapi orang yang suka merajuk.
"Aku bukan anak kecil, mana bisa anak kecil membuat anak."
"Kau...."
Daniel meraih bi-bir Mia, me-lu-mat nya dalam. Mia pun membalasnya tanpa melawan, mungkin memang dia menginginkan nya juga. Mereka saling melepas rindu, seperti sudah berhari-hari tidak bertemu. Bahkan mereka tidak sadar kalau saat ini sedang ada di tengah pesta. Keduanya saling menutup mata, menikmati hangatnya sentuhan bi-bir mereka yang bertaut.
Sampai tiba-tiba lampu menyala, mereka masih dibuai rasa rindu yang membuncah.
Seketika mereka menjadi pusat perhatian orang-orang. Mereka malah menikmati pemandangan pasangan yang sedang memadu kasih.
Pembawa acara pun tak langsung bersuara, tidak ingin mengganggu pasangan pengantin baru itu. Karena dia baru diberitahu kalau yang sedang berciuman adalah Daniel Starles dan istrinya.
Mia yang merasa kalau sinar cahaya lampu sudah menyala pun membuka mata. Dilihatnya pertama kali, wajah suaminya yang masih menutup mata. Ia tersenyum dan masih membalas cium-aann Daniel.
Ya ampun...!! Mia membelalakkan matanya saat menyadari kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian saat ini. Dia berusaha melepaskan tautan bi-bir mereka.
"Niel, semua orang melihat kita." Mia menunduk malu dan menyembunyikan wajahnya dalam da-da sang suami.
Sementara Daniel santai saja, dia mengusap lembut kepala istrinya yang bersandar di dadanya. Lalu memberikan isyarat pada Pembawa acara agar melanjutkan acaranya.
"Kau merindukanku?" goda Daniel, sepertinya sifat aslinya telah kembali.
"Niel, jangan bercanda. Semua orang sedang melihat kita. Ayo pergi dari sini," ajak Mia. Dia tidak sanggup berhadapan dengan semua orang.
"Pergi kemana? Apa ke kamar?"
__ADS_1
PLAK, Mia mendaratkan tangannya pada da-da bidang suaminya dengan cukup keras.
to be continue...