Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
114. Terima Saja


__ADS_3

°°°


Mia sudah ada di ruangan ayah mertuanya. Dengan sebuah kotak kecil ditangannya. Sebenarnya ia takut menyinggung tapi dia benar-benar tidak bisa terlalu banyak menerima hadiah.


"Duduklah nak," ujar dad Alex yang masih menatap layar laptopnya. Mia pun duduk di depan dad Alex.


"Daddy memanggilku kemari, apa ada tugas untukku?" tanya Mia berbasa-basi.


"Tidak, Daddy hanya mau tanya apa kau suka dengan hadiah yang Daddy berikan? Kalau tidak nanti bisa ditukar dengan yang sesuai dengan keinginan mu."


"Emmm... itu sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan juga pada Daddy." Mia meletakkan apa yang tadi ia bawa di atas meja.


Dad Alex membukanya, lalu menautkan kedua alisnya. "Kau tidak suka?"


"Bukan tidak suka Dad, hanya saja aku tidak bisa menerimanya." Mia menunduk.


"Tapi kau suka kan?"


"Hah... i...ya suka tapi aku tidak bisa menerima hadiah semahal itu Dad."


Dad Alex malah tertawa, "Kau itu lucu sekali nak. Kalau kau suka lalu kenapa tidak mau, kenapa harus memikirkan harganya? Itu biarlah urusan Daddy."


Mia tersenyum canggung, dia memang suka ya siapa yang tidak suka jika ada yang memberikan mobil impian secara cuma-cuma tapi dia tidak ingin dianggap memanfaatkan keadaan. Mentang-mentang sekarang menjadi menantu orang kaya lalu semua barang-barangnya harus mewah. Tidak, Mia tidak mau seperti itu.


"Sekarang bawa kembali kunci mobilnya, itu sudah menjadi milik kamu. Mau kamu pakai atau kamu buang terserah padamu." Dad Alex menyodorkan kembali kotak kecil yang berisi kunci mobil.


"Terimakasih atas hadiahnya, Dad." Ya Mia memang mau tidak mau terima saja.


"Sama-sama."


,,,


Mia kembali ke meja kerjanya dengan wajah suntuknya. Benar kata suaminya, kalau Daddy sudah memberi sesuatu itu sudah pasti harus diterima. Ya sebenarnya bukan tidak mau bersyukur tapi itu lah yang Mia pikirkan.


Dia masih bisa memakai mobil lamanya, atau seperti tadi diantar suaminya.


Sudahlah, lebih baik lanjutkan bekerja saja.

__ADS_1


Mia kembali menyelesaikan pekerjaannya. Melupakan urusan mobil, dan memutuskan untuk menerimanya.


"Hai... kau kenapa? Pengantin baru kok mukanya ditekuk. Harusnya berseri-seri dan senyum-senyum sendiri biasanya." Catty, membawa beberapa berkas yang harus Mia periksa lebih dulu sebelum sampai ke tangan atasan.


Mia tidak menyahut, dia tetap fokus pada pekerjaannya.


"Ehh ini apa?" Dibukanya kotak berisi kunci tadi. "Ya ampun... kunci mobil? Kau punya mobil baru Mia?" tanyanya heboh.


Sementara Mia hanya mengangguk.


"Woyy... kamu ini punya mobil baru tapi bersikap biasa saja seperti itu." Catty kesal sendiri.


Mia menghentikan aktivitasnya lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Aku harus bagaimana? Apa aku harus mengumumkan pada semua orang kalau aku punya mobil baru. Tadi itu niatnya mau aku kembalikan tapi tidak boleh."


"Memang dari siapa? Kenapa pakai dikembalikan segala, ini mobil incaran banyak orang loh. Apa kamu tau harganya berapa?" Catty tidak sanggup menyebutkan angkanya.


"Tau, makanya mau aku kembalikan. Itu terlalu mahal dan terlalu mencolok kalau dibawa ke kantor."


"Kau itu... apa ini dari tuan Alex?" tebak Catty.


"Iya, darinya."


Mia geleng-geleng kepala. "Minta mobil seperti minta permen."


,,,


Hari ini Daniel juga baru berangkat bekerja. Banyak rekan yang mengucapkan selamat dan minta maaf karena tidak bisa hadir di hari pernikahannya. Kabar tentang dia yang seorang keturunan keluarga Starles juga cepat menyebar. Kini para dokter senior di rumah sakit itu bahkan menundukkan kepala kalau berpapasan dengannya.


Sebenarnya bersikap seperti biasa juga tidak masalah. Toh memang inginnya Daniel seperti itu selama ini. Dia enggan mendapatkan penghormatan berlebihan dari siapapun.


Para perawat yang mengidolakan Daniel, melihatnya setelah menikah justru terlihat semakin menawan. Mungkin benar kalau suami orang memang menggoda.


"Lihatlah dokter Daniel semakin tampan setelah menikah."


"Iya, auranya makin kuat. Aa... kalau begini aku mau menunggu dudanya saja."


"Hussttt... tidak enak kalau dokter Daniel dengar. Kau jadi istri keduanya saja." Temannya memberi saran.

__ADS_1


"Memangnya dokter Daniel mau? Istrinya saja sangat cantik, mana mungkin dia tergoda dengan wanita lain." Pesimis.


"Bagus kalau sadar, sekarang lanjut bekerja dari mengkhayal terus nggak bikin kenyang." Akhirnya mereka pun membubarkan diri setelah puas menggosip.


Sementara seorang pemuda yang sedang kelimpungan terlihat berlari dengan tergesa-gesa. Setelah mendengar Daniel sudah mulai masuk lagi.


Brakk!


"Niel... please, Niel. Kau harus menolong ku kali ini." Daren mengatupkan kedua tangannya di depan Daniel.


"Kau tidak lihat aku baru mau bekerja, banyak pasien yang sudah menunggu ku." Daniel menjawab dengan ketus. Dia sudah tau apa yang akan sepupunya itu minta.


"Hanya kamu harapan ku satu-satunya, Niel. Apa kamu tidak kasihan padaku." Memohon lagi.


"Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu."


Daren tersenyum senang, akhirnya sepupu yang tidak pernah ia suka bisa ia harapkan juga.


"Niel, tolong kau katakan pada Felice kalau aku tidak bermaksud apa-apa malam itu. Itu murni karena aku ingin dekat dengannya saja."


Daren kira sepupunya tidak tau apa yang terjadi malam itu.


"Itu salahmu, pantas saja Felice marah. Kau memarahi dan menuduh sembarang wanita yang tidak bersalah dihadapan banyak orang. Lalu apa kau sudah meminta maaf padanya."


"Tapi Niel, itu hanya salah paham. Wanita itu juga pasti sudah memaafkannya," jawab Daren sekenanya.


"Kalau kau di permalukan dihadapan banyak oran, apa bisa melupakan begitu saja. Lagian Felice dengan Lucy itu cukup dekat, kalau kau mau mendapatkan maaf dari Felice. Kau harus mendapatkan maaf dari Lucy lebih dulu."


"Sekarang pergilah! Jangan mengganggu ku lagi." Daniel mengusir sepupunya dari ruangan nya.


Daren tampak berpikir keras setelah keluar dari ruangan Daniel. Benarkah dia harus meminta maaf pada wanita itu. Sebenarnya sejak kemarin dia sudah berusaha menemui Felice di kampusnya tapi gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya dan malah menghindar.


Aarrggghhh... kenapa jadi seperti ini. Kenapa juga malam itu harus ada wanita itu. Kalau tidak pasti hubungan ku dengan Felice sudah semakin dekat sekarang.


,,,


Sementara di dalam ruangannya. Daniel tersenyum sendiri. Bukannya tidak mau membantu tapi sepupunya terlalu tengil kalau disandingkan dengan adik iparnya. Mereka sepertinya tidak cocok, Felice juga sepertinya tidak mempunyai perasaan apapun pada Daren.

__ADS_1


Maaf Ren. Sebaiknya kau cari wanita lain saja. Istriku juga tidak akan setuju kau dengan adiknya.


__ADS_2