Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
11. Pertengkaran Adik Kakak


__ADS_3

°°°


Setelah sejenak menikmati sore hari di jalan, Mia memutuskan untuk pulang karena tidak mau membuat mamahnya menunggu lama karena biasanya sang mamah pasti menunggu anak-anaknya untuk makan malam bersama.


Tidak butuh waktu lama, Mia sudah sampai di kawasan apartemen dengan tingkat keamanan yang tinggi. Mia membelokkan mobilnya melewati palang pintu yang otomatis terbuka setelah memindai kartu penghuni apartemen itu.


Memarkirkan mobilnya di basemen yang tersedia, setelah memastikan mobilnya terkunci dengan benar, Mia berjalan menuju lift yang ada di basemen yang akan langsung membawanya ke lantai di mana unit apartemen miliknya.


Namun, betapa terkejutnya Mia saat mendapati pemandangan yang ada di depan matanya. Sepasang kekasih sedang berciuman di antara mobil yang terparkir. Yang membuat nya terkejut adalah saat ia menyadari siapa si gadis yang sedang menikmati cum buan dari sang pria.


"Felice!!" Mia membelalakkan matanya, mendapati jika si gadis itu adalah adiknya sendiri.


Felice dan pria itu langsung menghentikan aktivitas nya dan salah tingkah karena ketahuan oleh kakaknya Felice.


"Kakak, kau sudah pulang?" Felice tersenyum kikuk dan sedikit menjauh dari pria yang adalah kekasihnya.


"Felice, cepat pulang!!" Mia menatap tajam adiknya agar segera pulang.


"Kak, kenalkan dia kekasihku," ujar Felice seraya menyikut lengan kekasihnya agar memperkenalkan diri.


Pemuda itu terlihat salah tingkah karena terpergok tengah mencumbu kekasihnya.


"Kenalkan saya kekasih Felice Kak, namaku Andre." Pria itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan kakak dari kekasihnya, meski takut dengan tatapan penuh intimidasi itu tapi ia mencoba memberanikan diri.


Mia diam, sama sekali tidak menanggapi pria itu. Dia sedang menahan amarahnya pada sang adik yang menurutnya sudah melewati batas. Menurutnya Felice masih terlalu muda untuk berpacaran sampai melakukan hal seperti itu.


"Kak, dia ingin berkenalan dengan mu," ujar Felice pada kakaknya yang diam saja. Ya dia tau kalau kakaknya sedang marah.


"Felice, sini kamu," sentak Mia agar sang adik mendekat padanya.


"Kak...," rengek Felice yang tidak suka diperlakukan seperti itu, apalagi di depan pacarnya.

__ADS_1


"Cepat, kakak bilang kamu kemari." Mia tidak ingin dibantah.


Mau tidak mau Felice mengikuti perintah kakaknya dan berjalan menjauh dari kekasihnya.


"Aku pergi dulu, kamu hati-hati nanti pulang nya." Felice melambaikan tangan pada kekasihnya.


"Cepat kamu pulang, ada yang mau kakak bicarakan dengan pria itu!" perintah Mia pada adiknya.


"Kak, apa yang mau kakak bicarakan padanya. Kak aku bukan anak kecil lagi yang bisa dilarang-larang, aku sudah besar kak." Mia menghentak kakinya ke lantai. Mengungkapkan rasa kecewanya pada sang kakak.


"Felice!! Sejak kapan kamu jadi kurang ajar pada kakak, aku melakukan semuanya demi kamu. Kakak tidak mau kamu salah langkah dan menyesal dikemudian hari." Mia melotot tajam mendengar sang adik berani membentaknya, tapi ia sadar kalau dia tidak bisa menggunakan cara yang keras atau adiknya semakin memberontak.


"Lalu aku harus bagaimana, aku sudah besar umurku sudah dua puluh tahun. Apa aku harus seperti kakak yang tidak pernah berhubungan dengan laki-laki dan menjadi perawan tua!"


Plak!!


Mia tidak bisa lagi mengontrol emosi nya saat mendengar perkataan itu keluar dari mulut adiknya sendiri. Jika orang lain yang mengatakan nya itu sudah biasa tapi saat keluarga sendiri yang mengatakannya terasa sangat menyakitkan.


"Kakak jahat!! Aku akan katakan pada mamah kalau Kakak sudah menamparku." Felice berlari sambil menangis, baru kali ini kakaknya bertindak kasar pada dirinya. Kenapa hanya karena berpacaran sang kakak harus begitu marah, bukankah wajar kalau wanita seusianya sudah memiliki kekasih. Di negara S itu bahkan banyak para gadis sekolahan yang tinggal bersama kekasihnya.


Mia memegangi tangan kanannya yang barusan ia gunakan untuk menampar sang adik. Dia mengatur nafasnya yang memburu akibat terlalu emosi. Entah kenapa dirinya menjadi sangat sensitif pada perkataan yang adiknya ucapkan.


Sementara pria itu terlihat ketakutan melihat pertengkaran yang disebabkan olehnya. Padahal dia sama sekali tidak ada niatan untuk mencium Felice tadi, tapi sang kekasih yang memintanya tiba-tiba. Dan jika tebakannya benar, sepertinya Felice sengaja melakukan itu agar terlihat oleh sang kakak.


"Kak... maaf aku ...,"


"Apa kau benar-benar menyukai adikku?" tanya Mia.


"Ha...," Andre cukup terkejut mendengarnya, ia kira wanita itu akan memarahinya atau menghajarnya karena sudah berani menyentuh sang adik.


"Kalau kau benar-benar menyukai adikku, tolong jaga dia karena aku tidak bisa setiap saat ada disampingnya. Terutama saat ia ada di kampus dan bersama teman-temannya. Aku tidak bisa mengontrol dia untuk tidak berteman dengan si A dan si B. Aku tidak tau dia berteman dengan orang yang baik atau buruk, aku harap kamu mau membantuku untuk menjaga gadis itu."

__ADS_1


"Apa kamu mau?" tanya Mia, dia terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya. Setidaknya dengan memberikan mereka kepercayaan mungkin bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri mereka.


"A...aku mau Kak," ucap Andre dengan terbata, sungguh apa yang ia dengar saat ini di luar ekspektasi nya tadi. Tapi dia bersyukur karena tidak jadi kena marah.


"Baguslah, kau bisa pulang. Lain kali masuk saja ke dalam kalau mengantarkan gadis itu pulang, sekalian temani mamah. Aku masuk dulu." Mia menepuk pundak anak muda itu yang masih melongo mendengar ucapannya. Ya sebenarnya dari awal Mia bukan mau marah-marah, tapi hanya memberikan sedikit pesan tapi sang Adik sudah lebih dulu salah paham padanya.


Kakak adik yang aneh... Andre bergumam dalam hatinya. Setelah itu dia berjalan ke arah motornya yang terparkir tidak jauh dari situ.


,,,


Mia menyusul sang adik pulang ke unit apartemen nya yang berada di lantai sepuluh.


"Aku pulang," ujar Mia saat baru membuka pintu apartemen. Terlihat sang ibu sudah menunggunya dengan wajah cemas. Tebaknya pasti anak itu sudah mengadu pada sang ibu.


"Sayang, akhirnya kau datang. Tadi adikmu pulang dengan menangis lalu mamah tanya kenapa dia menangis dan katanya..."


"Maafkan Mia, Mah. Mia tidak sengaja menampar pipinya," ujar Mia jujur pada sang ibu.


"Tidak apa-apa sayang, dia memang pantas mendapatkan itu. Kau jangan masukkan dalam hati apa yang dia katakan." Mamah Emma memeluk Mia, mengusap punggung putrinya. Sudah cukup selama ini sang putri menanggung beban yang sangat berat, tidak pantas kalau ada yang melukai hatinya.


"Aku akan minta maaf padanya nanti mah, dia pasti sangat terluka karena aku." Mia sungguh merasa sangat bersalah pada adiknya.


to be continue...


°°°


Yang kuat Mia, sekuat othor 🙈🙈


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️

__ADS_1


Sehat selalu pembacaku tersayang.


__ADS_2