
°°°
Setelah sepanjang hari berdiri di atas altar, akhirnya Mia bisa masuk ke dalam kamar juga.
Huh akhirnya selesai juga, kakiku sudah sangat pegal rasanya. Ia duduk dipinggir ranjang sambil memijat-mijat kakinya sendiri.
Kenapa juga orang kaya selalu suka berpesta padahal itu sangat melelahkan, tapi bahkan ada yang berpesta sampai 7 hari 7 malam, tidak bisa dibayangkan salah apa mereka sementara Mia baru sehari saja rasanya sudah udah lelah.
Perlahan ia mulai merebahkan tubuhnya sedangkan kakinya ia biarkan menggantung ke bawah, dia masih menggunakan gaunnya. Rasanya Dia sudah ingin terlelap tapi membayangkan nanti malam masih ada pesta membuatnya membuka mata kembali tubuhnya pun terasa lengket, baunya pun terasa hhmm... asem.
Sebaiknya aku mandi dulu saja baru setelah itu baru istirahat, baru nanti malam bangun untuk bersiap, pikir Mia.
Mia pun bangun dan berjalan menuju meja rias duduk di kursi yang ada di sana titik dia mulai melepaskan satu persatu jepitan di rambutnya dan melepaskan kain penutup kepalanya. Tiba-tiba Mia memikirkan laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Tadi sepertinya Danil masih menemui tamu dan Mia kembali ke kamar terlebih dahulu.
Sudahlah, untuk apa juga memikirkan laki-laki itu. Toh kakinya tidak mungkin se pegal Mia, dia kan tidak menggunakan sepatu hak tinggi. Mia pun kembali melepaskan apa yang ada di kepalanya. rambutnya yang sejak tadi pagi dicepol pun iya lepas, rasanya sangat nyaman saat rambutnya terbebas.
Sekarang ia tinggal melepaskan gaum yang melekat pada tubuhnya.
Oh bagaimana ini sepertinya aku kesulitan menurunkan resleting yang ada di punggung ku. Sedikit lagi Mia kamu pasti bisa. Kenapa susah sekali, huft sepertinya aku butuh bantuan seseorang tapi siapa? Mia tampak berpikir.
Oh aku minta tolong Felice saja, Mia mulai mencari ponselnya titik Untung saja ia sudah menyuruh adiknya untuk meletakkan tasnya di kamar
Mia pun mengirimkan pesan pada adiknya agar sang adik datang ke kamarnya untuk membantunya melepas gaun.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya terdengar seseorang mengetuk pintu titik memang tadi Nia menguncinya. dia pun bangun dan berjalan ke arah pintu, memutar kunci pintu dan membukakan pintu untuk sang adik.
"Fel, kok lama sekali. cepatlah Kakak sudah gerah." Mia pun membuka pintu lebih lebar tanpa melihat Siapa sebenarnya yang datang.
__ADS_1
"Fel, Kenapa diam saja. cepat masuk, bantu aku melepas kan ga.... Daniel!" Mia terkejut, matanya membelalak melihat Siapa orang yang ada di depannya saat ini. Laki-laki itu adalah suaminya.
"Kenapa kau ada disini? di mana adikku? Apa kau melihat adikku, Niel." Nia mengeluarkan kepalanya dan melihat ke kiri dan ke kanan mencari sosok sang adik.
"Dia tidak akan datang karena dia yang menyuruhku kemari," ujar Daniel, diapun melenggang masuk melewati Mia begitu saja.
Mia melongo mendengar apa yang Daniel ucapkan. Apa katanya tadi, Felice menyuruhnya kemari Lalu siapa yang akan membantunya melepaskan gaun. Mia menutup mulutnya. Oh tidak, apa maksudnya laki-laki itu yang akan membantunya. Bagaimana ini, Mia pun bimbang sekarang dia harus bagaimana?
"Kenapa kau masih di sana, bukannya tadi katanya mau minta bantuan?" Daniel tersenyum aneh.
Dengan ragu Ia pun berjalan masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu. pikirannya tiba-tiba memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Kemarilah atau aku yang ke situ," ujar Daniel.
"Emmm... itu Niel, aku bisa melakukannya sendiri." Mia reme-maas gaunnya gugup. Berdua dengan Daniel dalam satu ruangan, dia sungguh takut kalau pria itu akan meminta haknya sekarang.
"Lalu kenapa kau belum melepasnya dari tadi. Apa karena aku yang datang jadi kau tidak mau aku yang membantu. Aku suami mu Mia, apa kau harus malu. Kita bahkan sudah pernah..."
"Siapa bilang aku belum punya perasaan padamu," ujar Daniel seraya berjalan mendekati sang istri yang masih berada di dekat pintu, seakan siap-siap kabur kalau Daniel melakukan sesuatu.
Mia mendongakkan kepalanya, menerka-nerka apa maksud dari ucapan suaminya barusan. Perasaan apa maksudnya? Apa dia menyukai Mia tapi tidak mungkin kan dalam waktu yang begitu singkat perasaan itu sudah muncul.
"Apa kau tidak bisa merasakannya?" tanya Daniel yang sudah semakin dekat dengan Mia.
"Me... merasakan apa? Aku tidak mengerti maksudmu." Mia terbata saat melihat tatapan Daniel yang sulit diartikan. Tatapan itu begitu dalam, seperti tatapan seseorang pada orang yang ia suka. Atau jangan-jangan dugaan Mia benar.
Tiba-tiba saja Daniel meraih tangan Mia dan meletakkan telapak tangan sang istri di da-da sebelah kirinya. "Kau sudah merasakannya sekarang, dia berdebar dengan kencang saat berada di dekatmu."
__ADS_1
Mia merasakannya, ya debaran itu sangat kencang dan cepat. Dia menatap tangannya yang ada menempel di da-da suaminya.
"Mia, apa kau juga merasakan hal yang sama?"
"A... ku." Mia tidak tau harus menjawab apa.
"Iya, aku kau juga berdebar saat berada di dekatku."
Mia akui kalau dia juga berdebar saat berada di dekat Daniel. Seperti saat ini saat mereka berdekatan tapi dia terlalu malu untuk mengakui hal itu.
Segera Mia menarik tangannya yang tadi menempel di da-da bidang suaminya dan sedikit mundur untuk memberi jarak.
"Aku tidak merasakan hal itu, Niel. Jadi bisakah kau keluar sekarang, aku ingin mandi," usir Mia.
"Benarkah, kau tidak berdebar seperti ku. Tapi kenapa pipimu memerah."
"Aku hanya merasa pa nas, sudah aku bilang kan aku kegerahan sejak tadi." Mia gelagapan, kenapa juga pipinya mudah sekali memerah.
Daniel tidak percaya begitu saja, dia pun mendekat maju hingga memaksa Mia untuk berjalan mundur demi menghindar. Tapi naas, Mia tidak bisa kabur lagi karena punggungnya sudah menyentuh pintu.
"Niel, menjauhlah! Apa yang mau kau lakukan." Mia panik, dia tidak mau Daniel mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang. Bisa-bisa dia ketahuan sedang berbohong.
"Benarkah kau sama sekali tidak berdebar? Bagaimana kalau sedekat ini, apa tidak berdebar juga." Daniel semakin mengikis jarak mereka, kedua tangannya sudah ia tumpukan pada pintu. Mengurung Mia dalam kungkungannya.
"Jangan macam-macam Niel, atau aku akan teriak!" Ancam Mia. Sudah dua kali Daniel tiba-tiba menciumnya. Dia tidak mau lagi, walaupun dia menikmatinya.
"Berteriak lah, kamar ini kedap suara. Aku hanya ingin membuktikan kalau yang kau ucapkan itu benar atau tidak."
__ADS_1
Mia memicingkan matanya, pembuktian seperti apakah maksudnya.
to be continue...