
°°°
Daren harus menelan kekecewaan karena Felice sama sekali tidak menganggapnya. Apakah dia harus menyerah sampai di sini atau mungkin dia masih mau berusaha. Sebenarnya apa yang Daren rasakan hanya penasaran saja karena selama ini belum pernah ada gadis yang menolaknya.
Makanya baik Daniel maupun Mia enggan membantu, menurut mereka itu hanya urusan anak muda. Yang perasaannya masih belum pasti dan mudah berubah-ubah.
"Non, sepertinya dokter Daren sangat sedih tadi. Apa nona Felice benar-benar tidak mau memberinya kesempatan," ujar Lucy yang sedang membantu Felice merapikan pakaian yang ia beli.
"Hmmm... dari pada memberinya kesempatan tapi aku tidak punya perasaan apa-apa. Kan kasian dia, aku paling tidak mau memberi harapan pada orang." Felice sedang mencoba pakaiannya, "Bagaimana, apa ini bagus? Tapi sepertinya kalau kau yang pakai lebih pas, iya kan Lucy?" tanyanya pada Lucy.
"Ehh, tidak Nona. Di pakai nona Felice jauh lebih bagus." Sudah cukup Lucy menerima pakaian yang tadi majikannya pilihkan.
"Apa kau menghina ku, Lucy. Kau kan tau tubuhmu lebih tinggi dariku. Kenapa juga tubuhku kecil begini...," gerutu Felice yang memang mempunyai tubuh mungil dan baby face, jadi dia tampak seperti anak sekolahan.
"Nona itu imut, menggemaskan sekali...," puji Lucy.
"Iya tapi jadi seperti anak kecil, kak Mia saja tidak pernah menganggap ku dewasa. Tubuhku saja tidak berisi seperti milik kakak yang besar, Kapan aku bisa punya da-da dan pa-n-tat yang besar seperti kakak. Pasti sek-si sekali." Felice malah membayangkan memiliki bagian tubuh yang padat berisi seperti kakak nya.
"Menurut sudah pas sesuai tubuh nona saat ini. Coba bayangkan kalau tubuh nona kecil tapi punya da-da besar bukannya akan aneh."
"Benar juga ya." Felice jadi ngeri juga membayangkannya. Tapi kemudian mereka tertawa bersama setelah membayangkan hal-hal yang aneh itu.
Puas tertawa bersama, Felice dan Lucy merebahkan tubuh mereka di atas ranjang. Kehadiran Lucy lumayan menghibur Felice, bersama kakaknya dia bahkan jarang bisa sedekat itu. Mungkin karena Mia yang sibuk dengan pekerjaannya dan pemikirannya yang sudah dewasa membuat mereka tidak terlalu klop. Berbeda dengan Lucy yang memang masih seumuran, masih dua limaan.
__ADS_1
"Boleh aku bertanya sesuatu pada mu, Lucy?"
"Silahkan nona, apa yang ingin anda tanyakan."
"Apa kau pernah menikah sebelumnya? Lalu dimana ayah dari putramu berada sekarang, kenapa kamu harus bekerja dan jauh dari putramu." Felice sudah sangat penasaran sejak lama, tapi baru berani bertanya.
"Kami menikah muda, mungkin karena sama-sama belum dewasa dan egois jadilah pemikiran kami tidak sejalan. Saat kelahiran putra kami yang ternyata putra kami itu punya kelainan sejak lahir, dia langsung menceraikan ku. Ya itulah karena menikah karena terburu-buru, di desa memang sudah biasa seperti itu." Lucy menjelaskannya pada Felice, jarang sekali dia bercerita tentang kehidupannya. Seringkali orang yang melihatnya mengira dia masih anak kuliahan, tapi ternyata seorang ibu tunggal.
"Kamu hebat sekali, disaat itu pasti kamu benar-benar terpuruk kan. Tega sekali laki-laki itu, maunya enaknya aja. Lalu kemana dia sekarang, apa dia sama sekali tidak pernah membantu biaya anaknya?" tanya Felice lagi yang merasa prihatin dengan keadaan Lucy, seharusnya gadis seumurannya masih menikmati masa-masa senang-senang dengan temannya tapi malah sudah memikirkan keluarga. Ya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Mia dulu.
"Tidak tau, setelah kami berpisah dia menghilang dan tidak ada kabar lagi. Ya mungkin dia sudah tidak mau membiayai putranya. Tidak masalah bagiku, aku juga sudah tidak memikirkan orang itu lagi. Yang penting aku sehat dan bisa mencari uang untuk anakku saja sudah cukup." Karena terlalu asyik bercerita sampai lupa untuk menggunakan bahasa formal pada Felice, tapi Felice lebih suka seperti itu. Jadi tidak terlalu kaku dan tidak terlalu ketara atasan dan bawahannya.
"Ya ampun, Maafkan saya nona. Saya malah terlalu asyik bercerita, saya mau melihat nyonya Emma dulu. Ini sudah waktunya beliau meminum obatnya," ujar Lucy yang lalu berpamitan keluar.
"Iya sana, cepat-cepat mamah pasti sudah menunggu mu." Felice malah mengompori Lucy tapi sebenarnya dia hanya bercanda, tidak benar-benar mengusirnya dari sana.
,,,
Hari berlalu. Hubungan Daniel dan Mia juga semakin dekat. Sekarang keduanya bahkan saling membutuhkan dan melengkapi. Saat Mia lembur Daniel setia menemaninya istrinya, membuatkan susu hangat juga setiap malam. Mia yang awalnya penggila kopi kini perlahan beralih jadi susu hangat setiap malam.
Mungkin hanya di kantor saja Mia minum kopi. Selebihnya jika bersama sang suami lebih minum minuman yang sehat.
"Sayang, diminum dulu susu nya." Daniel baru kembali dari dapur untuk mengambilkan istrinya susu hangat.
__ADS_1
Mia yang awalnya tidak begitu suka pun lama-lama terbiasa dengan rasanya. Bahkan kini suka susu hangat buatan suaminya yang terasa berbeda dengan susu yang lain.
"Terimakasih," ujar Mia setelah menghabiskan susunya.
"Apa masih banyak? Ini sudah terlalu malam, kau bisa sakit kalau tidur terlalu malam terus." Daniel mendudukkan dirinya di sofa, dimana sang istri sedang menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa Daddy terlalu banyak memberimu pekerjaan, besok aku akan protes pada Daddy agar tidak membuat istri ku lembur terus." Lanjutnya, masih menggerutu karena kesibukan istrinya.
"Daniel... ini tidak setiap hari kok. Hanya saja akan ada proyek baru yang akan Daddy jalankan, aku harus menyiapkan proposal nya agar para pemegang saham setuju." Harus pelan kalau menjelaskan pada sang suami.
"Apa sangat mendesak, tidak bisakah dikerjakan besok lagi. Tubuhmu juga butuh istirahat, sayang. Kalau kau terlalu lelah bagaimana mau cepat hamil."
Mia mengalah, dia mematikan laptop nya lalu masuk dalam pelukan suaminya dan menyenderkan kepalanya pada da-da bidang suaminya. "Apa kalau begini sudah boleh," ujarnya dengan tangan yang sudah melingkar erat memeluk tubuh laki-laki yang sudah memberikan warna untuk hari-hari nya.
"Istriku menurut sekali, kalau begitu sekarang kita tidur. Atau kau ingin melakukan yang lain?" goda Daniel.
"Yang lain apa? Aku ingin seperti ini saja." Semakin erat, mencari kehangatan dan kenyamanan.
"Baiklah, begini saja. Tidurlah..." Daniel mengusap kepala istrinya, kini dia sudah bersandar pada sandaran sofa. Dia membiarkan Mia memeluknya dan bersandar di atasnya. Tak lama pun, Mia terlelap dalam pelukan suaminya.
"Sudah tertidur rupanya, kalau tidak disuruh berhenti pasti sampai malam." Daniel mamamdangi wajah cantik yang terlelap dengan begitu damai.
Untunglah Daniel hanya melakukan operasi di siang hari, malam jarang ada pasien darurat. Selama masih bisa dilakukan siangnya akan ia usahakan siang hingga sore saja. Malamnya dia khususkan untuk menemani sang istri.
__ADS_1
to be continue...
°°°