Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
65. Terpana


__ADS_3

°°°


Felice menarik tangan Mia agar segera turun tanpa harus berganti pakaian lagi. Dan rencananya berhasil, sang kakak bisa terlihat cantik dan lebih muda dihadapan calon kakak iparnya.


Baru berpenampilan sederhana begitu saja Daniel sudah tidak berkedip. Bagaimana nanti kalau hari pernikahan melihat Mia memakai gaun dan dirias. Bisa-bisa matanya keluar dari tempatnya.


"Kakak ipar, ayo berangkat," ajak Felice pada Daniel yang sejak tadi terpana melihat kakaknya.


Laki-laki itu tersadar dan mencoba mengendalikan dirinya yang selalu ingin menatap calon istrinya. Dia salah tingkah sampai kebingungan mencari kunci mobilnya yang sebenarnya sudah ia pegang sejak tadi. Gara-gara terlalu fokus memandangi Mia jadilah dia lupa.


"Kau cari apa kakak ipar?" tanya Felice sambil tersenyum sendiri melihat tingkah laki-laki yang mau menjadi kakak ipar nya itu.


"Ini tadi aku lupa menaruh kunci mobil ada dimana, sebentar aku cari dulu." Daniel mencari disetiap sudut, sampai ia buka satu persatu bantal yang ada di sofa pun tak menemukannya juga. Ia sampai frustasi karena tidak menemukan kunci mobilnya, Dia juga malu pada Mia dan Felice yang sedang menunggunya.


Sementara Felice sejak tadi menahan tawa agar tidak terdengar oleh calon kakak iparnya itu. Mati-matian ia tahan karena mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya.


Perutku sampai kram gara-gara menahan tawa.


Felice mengusap perutnya.


"Loh kalian belum pergi?" Emma baru saja datang dari langit atas, menggunakan lift yang tersedia di rumah itu.


"Ini Mah, aku sedang mencari kunci mobil." Daniel masih sibuk mencari.


"Bukannya sudah kau pegang itu nak," ujar Emma sambil menunjuk tangan Daniel.


Daniel pun menunduk melihat tangannya, dibuka tangannya yang tadi menggenggam. Sejak kapan ada di tangannya pikirnya. Atau mungkin berpindah sendiri ke tangannya. Mustahil kan, sejak kapan ia bisa Sulap begitu.


Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ia malu karena sudah bertingkah konyol dihadapan keluarga calon istrinya.


"Hmmm..." Dia berdehem untuk membenahi diri dan mencoba bersikap senormal mungkin. "Kami berangkat dulu Mah," pamit Daniel yang sekarang juga sudah mengganti panggilannya pada Emma.


"Iya hati-hati, mamah sangat menghargai keputusan kamu ini." Entah apa yang sudah dilakukan pria itu hingga mamah Emma pun begitu terkesan dengannya.


"Doakan kami agar berjalan lancar," ujar Daniel lagi.

__ADS_1


Daniel berbalik dan melihat wanita yang jadi sumber ketidak fokusannya tadi. Dia menghampiri Mia yang tampak ayu hari ini.


"Ayo kita pergi," ajaknya. Mengulurkan tangannya berharap Mia mau menerimanya.


Mia memandang uluran tangan Daniel, apa-apaan laki-laki itu pakai mengajaknya bergandengan tangan segala. Bukannya mereka masih belum begitu dekat, rasanya sangat canggung kalau harus bergandengan tangan. Mia masih ragu mau menerima atau jalan sendiri saja.


"Ayo cepat Kak." Pada akhirnya Felice yang kembali membuat keputusan itu. Terlalu lama kalau banyak berpikir, Felice mengerlingkan sebelah matanya pada sang kakak.


Daniel menyambutnya dengan senang, digenggamnya tangan lembut itu dan mereka benar-benar keluar dari rumah dengan bergandengan tangan seperti mau menyebrang saja pakai gandengan tangan. Tapi pemandangan itu menjadi pemandangan yang menyenangkan untuk Felice dan juga mamah Emma.


"Bukankah mereka sangat manis Mah," ujar Felice yang gemas pada pasangan yang baru saja berjalan keluar itu.


"Iya, mamah bahagia akhirnya kakakmu menemukan orang yang tepat." Mamah Emma setuju dan sependapat dengan putrinya, "Kenapa kau disini, kau kan disuruh ikut sana," perintah mamah Emma.


"Felice tidak usah ikut ya Mah, nanti Felice cuma jadi obat nyamuk untuk mereka." Bisa dibayangkan bagaimana nasibnya yang jomblo di antara pasangan itu.


"Kau harus ikut sana temani kakakmu!" perintah Emma lagi.


"Ishh.. kan sudah ada kakak ipar Mah, dia bisa menjaga kakak dengan baik kok."


,,,


Di dalam mobil.


Suasana sangat canggung seperti biasa, tidak ada yang memulai obrolan lebih dulu di antara dua orang itu. Berbeda dengan Felice yang sejak tadi merasa bosan karena tidak ada yang mengajaknya mengobrol.


Pasangan di depannya sangat kaku, bahkan sehat tadi Mia membuang pandangannya ke kaca.


Kaku sekali mereka, bagaimana kalau malam pertama nanti. Apa hanya akan saling tatap atau punggung-punggungan. Felice cekikikan sendiri di bangku belakang.


Mia lebih banyak diam dan memandang jalanan, dia tidak punya topik yang mau ia bicarakan juga tidak tau mau bicara apa. Lebih baik ia melihat pemandangan saja.


Sementara Daniel dia sejak tadi masih saja mencuri-curi pandang pada Mia. Dan sebenarnya Felice tau itu. Seperti saat ini saat mata Daniel lagi-lagi melirik Mia dan sang adik ipar melihatnya dari kaca spion yang ada di tengah. Ehh saat Daniel tersenyum sendiri tak sengaja melihat spion dan melihat Felice sedang menatapnya curiga.


Ya ampun lucu sekali calon kakak iparku. Mau melihat Kak Mia saja pakai sembunyi-sembunyi. Dia kira aku tidak tau, padahal sejak tadi aku melihatnya.

__ADS_1


"Hemm..." Felice iseng berdehem.


Daniel dan Mia pun menoleh bersamaan, pandangan mereka tak sengaja bertemu hingga menimbulkan geleyeran aneh dalam da da mereka.


"Hmmm hmmm..." Deheman Felice membuat dua orang itu buru-buru duduk dengan benar.


Felice tertawa puas dalam hatinya, dia seperti mendapatkan hiburan tersendiri. Padahal tadi hampir mengantuk karena tak ada yang mengajaknya mengobrol tapi sekarang dia segar kembali.


"Sebenarnya kita mau kemana kakak ipar?" tanya Felice, begini lebih baik tidak hanya ada suara angin.


"Hmmm... nanti kalian akan tau sendiri kalau sudah sampai."


Mendengar hal itu Mia pun kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Ia tak suka rahasia-rahasia an ataupun kejutan. Bicara saja apa susahnya.


"Apa kau mau memberi kakak ku kejutan? Surprise gitu...," tebak Felice dengan membayangkan tempat romantis.


"Untuk kalian berdua, bertemu seseorang." Singkat Daniel.


Perkataannya itu semakin membuat orang penasaran saja. Entah apa tujuannya membuat orang bertanya-tanya. Ahhh sudahlah, Felice tidak berhasil mendapatkan informasi. Dia memilih mengambil earphone dalam tas nya dan memasangkannya di telinganya. Setidaknya suara musik lebih baik dari suara angin.


Mia memperhatikan tingkah adiknya dari spion, dia tau adiknya sedang kesal. Dia akan mendengarkan musik jika sedang kesal.


Dan belum juga selesai satu lagu Felice dengarkan, dia sudah tertidur.


"Dia adik yang baik," ujar Daniel tiba-tiba.


"Hah... iya benar, dia adik yang baik walau kadang sedikit nakal," lirih Mia tak ingin adiknya mendengarnya sedang berbicara buruk.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍😍


Semangat puasanya semua, 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2