Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
127. Meminta ijin


__ADS_3

°°°


Daniel pulang setelah mengurus beberapa hal untuk besok. Tekadnya sudah benar-benar bulat, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. Termasuk istrinya mungkin apalagi daddy nya.


"Selamat sore Mah...," sapa Daniel, terlebih dahulu ia menemui sang ibu mertua.


"Kau sudah pulang nak, tadi Mia juga sudah pulang. Mamah menyuruh nya beristirahat di kamar." Mamah Emma menunjukkan dimana putrinya berada.


"Daniel mengerti Mah, kalau begitu aku ke kamar dulu," pamit Daniel. Mamah Emma pun mengerti dan membiarkan menantunya menghampiri sang istri.


Mamah ikut bahagia melihat hubungan rumah tangga kalian. Semoga selamanya hubungan kalian tetap seperti ini. Emma berdoa dalam hatinya.


,,,


Daniel masuk ke dalam kamar. Dibukanya pintu kamar itu perlahan, tidak mau mengganggu kalau-kalau sang istri sedang tertidur.


Pria itu masuk lebih dalam dan benar saja jika Mia saat ini sedang tertidur memunggunginya. Terlihat nafasnya yang teratur membuat Daniel semakin yakin kalau istrinya pasti sedang tertidur.


Daniel melangkahkan kakinya memutari ranjang dan mendekati sang istri. Dia duduk di samping Mia. Ditatapnya wajah istrinya yang tertidur pulas, sangat manis dan damai. Sangat berbeda dengan Mia yang sedang membuka mata, dimana dia akan menjadi tegas dan dingin. Akhir-akhir ini saja wanita itu mulai melunak dan bersikap manja pada Daniel.


"Sepertinya kau sangat kelelahan," gumam Daniel sambil merapikan rambut sang istri yang sedikit berantakan.


Bagaimana tidak lelah kalau selama di apartemen Daniel terus mengganggu sang istri dan mengajaknya ber-cin-ta seperti tidak ada puasnya.


"Tidurlah sayang, kau pasti kelelahan karena ku. Aku tidak akan mengganggu mu kali ini." Daniel mengecup kening Mia lama.


Setelahnya, pria itu membenarkan selimut agar tubuh sang istri tidak kedinginan.


"Aku pergi dulu sebentar, nanti pulang lagi," bisik Daniel lembut.

__ADS_1


Daniel bergegas mandi dan berganti pakaian sebelum pergi ke rumah orangtuanya. Daddy nya sudah pasti mendengar kabar tentang nya yang akan menjadi relawan. Sebelum pria itu bertindak untuk mencegahnya pergi, Daniel harus buru-buru datang dan meminta ijin.


"Nak, apa kau mau pergi lagi?" tanya mamah Emma pada menantunya yang sudah rapi dengan pakaian santai dipadukan dengan jaket kulit. Sudah jelas kalau pria itu mau pergi lagi.


"Iya Mah, aku mau ke rumah Daddy sebentar. Mia sedang tidur dan aku tidak tega membangunkannya. Kalau nanti dia mencariku, tolong sampaikan padanya kalau aku sedang ke rumah Daddy." Daniel berpesan pada mamah Emma.


"Baiklah nak, nanti mamah sampaikan pada Mia. Kau hati-hati di jalan, salam buat daddy dan mommy mu," ujar mamah Emma.


"Nanti Daniel sampaikan, Daniel pergi dulu Mah."


Daniel mengendarai mobilnya memecahkan jalanan yang cukup ramai di sore hari. Jarak rumah Daddy dan rumahnya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit.


Sampailah ia di depan rumah mewah milik daddynya. Penjaga keamanan pun dengan sigap membukakan pintu untuknya.


Dad Alex sudah mendengar tentang rencana putranya tapi dia belum memberitahukan pada sang istri. Nanti saja menurutnya, dia akan menanyakan hal itu dulu pada Daniel.


"Terimakasih Sayang."


Saat mereka sedang santai di halaman belakang, tiba-tiba salah satu penjaga rumah menghampiri mereka.


"Tuan, tuan muda sudah datang."


"Suruh dia kemari," perintah Dad Alex.


Penjaga tadi menghampiri Daniel dan menyampaikan kalau Daddy dan mommy nya berada di halaman belakang.


Daniel mengerti dan berjalan menghampiri mereka.


"Mom, Dad..." Sapa Daniel.

__ADS_1


"Daniel... ada apa nak? Tumben kamu tiba-tiba datang." Mom Tania menyindir putranya yang jarang sekali berkunjung.


"Mom, maaf. Aku kemarin menginap di luar jadi tidak kesini." Daniel mendekati ibunya.


"Iya mom mengerti, kalian memang sudah sewajarnya lebih sering menghabiskan waktu berdua agar cepat memberikan kami cucu." Mom Tania menghentikan ucapannya lalu menoleh ke arah belakang putranya, mencari seseorang. "Apa istrimu tidak ikut?" tanyanya.


"Tidak Mom, aku datang kemari karena ada hal yang mau aku bicarakan dengan kalian. Daddy pasti sudah tau kan tentang rencana ku." Daniel menatap daddy nya yang sejak tadi tidak menggubrisnya, malah masih sibuk menatap layar tab nya.


"Hmmm..." Hanya itu sahutannya.


"Ada apa ini? Apa ada hal penting nak? Ayo beritahu mommy." Mom Tania mulai penasaran.


"Mom... apa mom sudah mendengar berita tentang gempa bumi yang tadi siang terjadi di kota A?" tanya Daniel dan mom Tania mengangguk, dia sudah melihat beritanya dari berbagai media.


"Pihak rumah sakit berencana mengirimkan beberapa bantuan medis seperti obat-obatan dan peralatan medis dan juga tenaga relawan dari dokter yang pastinya sangat dibutuhkan di sana," jelas Daniel kemudian.


"Iya, lalu??" Mom Tania mengerutkan keningnya mendengarkan penjelasan dari putranya.


Daniel mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, bersiap menerima amukan mommy nya. "Daniel mau ikut jadi relawan Mom."


"Niel... kau bercanda??" Mata mom Tania membulat sempurna.


"Aku serius Mom, mereka butuh bantuan ku. Di sana kekurangan tenaga medis Mom, tolong restui keputusan Daniel." Daniel memohon.


"Membantu mereka tidak harus datang ke sana nak. Apa kau tau, betapa bahayanya keadaan di sana. Daddy mu bisa mengirimkan apa saja yang mereka butuhkan, kau tidak perlu ke sana." Tentu saja mom Tania tidak setuju. Sementara dad Alex hanya diam membiarkan istrinya lebih dulu.


"Please Mom..."


°°°

__ADS_1


__ADS_2