
°°°
Dalam hati Mia terus merutuki adiknya yang seenaknya menyuruh orang lain untuk datang ke kamarnya. Dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi, Daniel mengungkung tubuh Mia yang bersandar di belakang pintu dengan kedua tangannya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, Mia."
Glek... hembusan nafas Daniel kini telah menyentuh kulit wajahnya.
"Per-pertanyaan yang mana Niel? Bisakah kau menjauh dulu, kau membuat ku tidak nyaman." Mia menatap ke arah lain menghindari tatapan Daniel yang begitu dalam. Mungkinkah benar kalau pria itu sudah mulai menyukai Mia. Lalu apa Mia juga sudah menyukai suaminya. Sepertinya Mia tidak ingin secepat itu menyimpulkan perasaannya, bukannya wajar saja kita berdebar kalau berdekatan dengan lawan jenis.
"Bagian mananya yang tidak nyaman? Apa sama seperti ku, disini." Daniel menyentuh da-da yang masih berbalut kemeja putih, sementara jas yang ia kenakan sudah di lepas sejak tadi.
"Tidak tidak, aku hanya gerah Niel. Bukankah sudah aku bilang tadi, aku ingin mandi sebelum nanti turun ke bawah untuk pesta selanjutnya."
"Benarkah kau sama sekali tidak merasakan apapun? Bagaimana kalau seperti ini." Daniel semakin mendekatkan wajahnya, kalau saja Mia tidak menoleh pasti bibir mereka sudah bertemu. Tapi hal itu tidak membuat Daniel berhenti, dia menciumi pipi Mia dan daun telinga yang sudah memerah itu.
Daniel tau kalau Mia tidak mungkin mengakui apa yang ia rasakan, dia harus berjuang keras agar istrinya mau mengaku.
"Niel ... " rengek Mia dengan suara yang tertahan. Hampir saja suara lucnut meluncur dari mulutnya saat bibir Daniel mencium daun telinganya dan menggigit kecil di sana.
"Kenapa, aku kau sudah bisa merasakannya sekarang. Tatap aku Mia dan katakan kalau kau tidak merasakan apapun," pinta Daniel dengan deru nafas yang memberat. Dia bisa saja memaksa, toh Mia sudah sah menjadi istrinya tapi dia tidak ingin tindakan itu justru membuat sang istri membencinya.
Mia menunduk kali ini, dia mana berani menatap mata itu. Pasti akan terlihat jelas kalau dia berbohong.
"Niel... a... ku, aku tidak merasakan apapun." Mia bahkan memejamkan matanya saat mengatakan hal itu.
"Sudah aku bilang, lihat aku dan katakan sekali lagi. Setelah itu aku akan keluar dari sini sekarang juga," ujar Daniel menunggu jawaban dari istrinya.
Perlahan Mia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, tatapan mata mereka pun bertemu. Bola mata berwarna biru itu begitu indah saat di lihat dari dekat, bulu mata lentik dan alis yang tebal menambah keindahan matanya.
"Katakan!" seru Daniel. Dia bukan kesal pada Mia, tapi pada dirinya sendiri yang mudah sekali bergai-rah saat melihat bibir Mia yang sek-si.
__ADS_1
"A... ku..."
"Aku apa?"
"Aku tidak..."
Cup, Daniel tidak tahan lagi memberikan kecupan pada bibir yang menggoda. Ya, Mia yang menggigit bibir bawahnya justru semakin membuat nya terlihat sek-si.
Mia terkejut mendapatkan serangan dadakan dari Daniel, meski itu singkat tapi cukup membuat jantungnya hampir mau melompat keluar.
"Aku mau mandi Niel, kau keluarlah." Mia berusaha mendorong tubuh Daniel, pasti mudah baginya bukan karena dia panda bela diri dan sudah terbiasa melawan pria yang badannya lebih besar dari Daniel.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, kau tidak akan bisa kabur." Daniel menarik pinggang Mia hingga mereka saling menempel.
Mia teringat kejadian di balkon malam itu, tepat posisinya seperti ini. Oh mungkinkah Daniel akan melu-maat bibirnya lagi, tapi kenapa Mia justru tak melawan. Dia seolah pasrah pada apa yang akan Daniel lakukan. Mungkinkah tubuhnya yang menginginkan hal itu.
"Niel, kau kenapa tidak bisa melepaskan ku." Mia mencoba menggerakkan tubuhnya agar terbebas. Kedua tangannya juga sibuk memukul-mukul da-da suaminya.
"Biar aku pikirkan dulu, aku belum tau apa yang aku rasakan." Entah keberanian dari mana, Mia berani mengusap rahang keras Daniel.
Disaat Mia mengangkat wajahnya, bukankah itu kesempatan emas bagi Daniel. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, langsung saja ia menempel bibirnya pada bibir ranum milik Mia.
Kali ini bukan sekedar menempel seperti tadi, tapi Daniel melu-maat bib-ir istrinya bergantian. Li-dahnya pun berusaha masuk mencari celah untuk masuk.
Mia membelalakkan matanya tapi dia tidak merasa marah tapi sudah menikmatinya. Tubuhnya merespon dengan baik atau mungkin memang sudah ia tunggu sejak tadi.
Sekarang li-dah Daniel sudah berhasil masuk ke menembus dinding pertahanan Mia. Li-dahnya mulai menari-nari menggoda Mia yang belum merespon.
"Hmmm..." Lenguhan Mia mulai terdengar saat Daniel menciumnya dengan sedikit kasar, tapi Mia menyukai itu. Dia pun mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Mereka saling mengecap rasa dan bertukar Saliva. Rasanya manis bagai madu, yang membuat siapa saja suka melakukan hal itu bersama pasangannya.
Daniel semakin menekan tengkuk Mia dan cium-aann mereka semakin dalam. Memabukkan dan selalu membuat mereka ingin mengulang dan mengulang lagi.
__ADS_1
Daniel melepaskan pagutan mereka saat merasa nafas mereka mulai habis. Di usapnya bibir kini basah oleh ulah dirinya. Lalu mengecupnya lagi sekilas.
"Aku tidak akan berbuat lebih kalau kau belum siap. Tapi aku senang mengetahui kalau kita mempunyai perasaan yang sama, meski mungkin bukan cinta. Tidak apa-apa, kita akan sama-sama belajar untuk saling mencintai."
"Kau... bagaimana kau tau apa yang aku rasakan?" sungut Mia.
"Tentu, aku sudah mendengar detak jantung mu yang kencang dan reaksi tubuh mu yang tidak pernah menolak cium-aann dariku," ujar Daniel menyimpulkan.
"Bagaimana bisa kau menyimpulkan sendiri." Mia. mendorong tubuh Daniel, dan mereka pun saling menjauh.
"Kalau begitu kau bisa keluar sekarang, aku mau mandi," usir Mia.
"Kenapa aku harus pergi, aku juga lelah dan ingin beristirahat." Daniel berjalan mendekati ranjang.
"Kau mau apa Niel? Kalau mau istirahat di kamar mu sendiri jangan disini."
"Apa kau lupa kalau kita sudah menikah dan menjadi suami istri. Apa kata orang kalau aku tidak tidur di kamar yang sama dengan istri ku." Daniel menjawabnya dengan enteng dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.
Mia lupa sepertinya, mereka sudah menikah dan memang seharusnya tinggal satu kamar.
"Tapi aku mau melepaskan gaunku, kau bisa kembali lagi nanti kalau aku sudah mandi."
"Kenapa harus malu, bukankah aku sudah melihat semuanya." Daniel tanpa malu mengatakan hal itu, tidak seperti Mia yang langsung malu mengingat hal itu.
"Dulu kita mabuk dan tidak ingat apa yang terjadi, sekarang kita sadar tentu saja aku malu."
Huh sepertinya Mia tidak punya pilihan lain lagi, terpaksa dia melepaskan gaunnya di dalam kamar mandi saja. Dia juga terlalu lelah untuk berdebat. Dia pun melangkahkan kakinya menuju koper yang berisi pakaian mereka untuk mengganti pakaian sementara.
Apa ini?
to be continue...
__ADS_1