Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
38. Benih Super


__ADS_3

°°°


Mia menghela nafasnya berkali-kali sebelum ia mengatakan apa maksud dan tujuannya menemui Daniel.


"Sebenarnya apa mau anda Tuan, kenapa beberapa hari ini anda seperti sedang mendekati keluarga ku. Berbuat baik dengan membawakan makanan, buah bahkan sesuatu yang kecil. Apa yang sedang anda rencanakan sebenarnya?" tanya Mia yang kini duduk di hadapan Daniel seperti seorang pasien yang sedang berkonsultasi pada dokternya.


"Aku hanya ingin mengenal lebih jauh keluarga mu agar nanti saat kita menikah tidak akan terlalu canggung." Daniel yang menggunakan kemeja putih yang baru mengatakannya dengan santai.


"Menikah?? Kapan saya setuju untuk menikah dengan anda Tuan! Bukankah belum ada kesepakatan di antara kita. Lagi pula sejak awal pun saya tidak mau menikah dengan anda. Sekarang pun keputusan saya masih sama," tegas Mia, menolak dengan jelas pernikahan itu.


"Coba katakan alasanmu menolak menikah denganku, agar aku bisa memperbaikinya. Kalau hanya karena cinta, bukankah aku sudah bilang kalau cinta bisa tumbuh karena terbiasa." Daniel selalu bercermin setiap hari dan hasilnya wajahnya masih tetap tampan tapi kenapa nona sekretaris itu tetap menolak.


"Karena di antara kita tidak mungkin ada hubungan seperti Tuan... tolong mengertilah kita sama sekali tidak bisa bersama."


"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Kamu masih lajang dan aku juga lajang jadi tidak ada larangan untuk kita menikah," ujar Daniel.


Aaa... bukan itu Tuan. Bukan itu maksudku. Kita sama sekali tidak setara dan jarak kita terlalu jauh.


"Apa lagi yang kamu pikirkan? Apa kamu mau membiarkan anakku tumbuh tanpa ayah dan status yang jelas?" desak Daniel.


Apa anak? Tumbuh? Kenapa dia selalu meributkan soal anak yang belum tentu akan tumbuh.


"Kenapa anda yakin sekali kalau benih anda akan tumbuh di rahimku. Bagaimana kalau tidak, apa anda akan menyesal jika nanti pernikahan itu sudah terjadi." Mia meninggikan suaranya agar pria itu tersadar kalau pernikahan itu tidak perlu.


"Karena kualitas benihku dijamin super jadi dia bisa tumbuh dalam rahimmu sekalipun kita hanya melakukannya sekali, tapi aku yakin kalau tidak hanya sekali."


What!! Aku bisa gila kalau bicara dengannya.


Mia membulatkan matanya.


"Tuan Daniel yang terhormat, saya mohon hentikan semua ini dan tidak usah memikirkan soal pernikahan itu lagi karena sampai kapanpun saya tetap akan menolak. Kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing seperti sedia kala tanpa perlu saling mengganggu."


"Dan satu lagi, tolong sampaikan pada orangtua anda kalau saya menolak!" Mia bangkit dari duduknya dan ingin segera meninggalkan ruangan itu.


"Menikahlah denganku... satu tahun, hanya satu tahun setelah itu kita bisa bercerai. Setidaknya kalau kau memang hamil maka waktunya pas sampai anak itu lahir. Kalaupun tidak hamil juga tidak masalah, kita jalani saja seperti biasa."


"Aku tidak akan mengganggu urusanmu dan sebaliknya."


Mia menghentikan langkahnya padahal tangannya sudah ada pada handel pintu.

__ADS_1


"Pikirkan saja dulu sebelum menolak ku. Setidaknya pernikahan ini akan menguntungkan untuk kita berdua, aku tidak perlu mendengar ocehan orangtuaku lagi yang menyuruh ku menikah. Kau juga bisa membahagiakan mamahmu."


"Apa kau tau apa yang mamahmu bicarakan saat bersamaku. Dia selalu berharap bisa melihatmu menikah dan berkeluarga. Dia selalu tersiksa saat melihat mu kelelahan menanggung beban keluarga kalian seorang diri."


"Aku rasa membahagiakan mamah kamu tidak ada salahnya, justru akan baik untuk kesehatannya. Pikirkanlah baik-baik, katakan padaku kalau kau sudah punya jawabannya, tapi jangan lama-lama. Aku tidak mau anakku tumbuh tanpa ada ayahnya di sampingnya."


Sungguh awalnya Mia cukup terkejut saat Daniel berbicara serius, tapi akhirnya pria itu sungguh menunjukan sisi percaya dirinya.


Mia pun segera keluar dan menutup pintu dengan cukup keras hingga membuat Daniel terperanjat.


"Ternyata tenaga wanita itu cukup kuat juga."


,,,


Dasar dokter gilaaa!! Dokter cabul!! umpat Mia dalam hatinya.


Bagaimana bisa semudah itu dia menawarkan pernikahan. Apa dia kira ini dalam dunia drama atau novel yang tokoh utamanya menikah kontrak lalu mereka jatuh cinta dan akhirnya kontrak dibatalkan.


Mia misuh-misuh sendiri, kesal pada Daniel. Ingin rasanya dia melayangkan pukulan ke wajah tampannya itu tapi apalah daya Mia tidak punya cukup keberanian.


"Enak saja nikah cuma satu tahun. Bagaimana aku menjelaskannya pada mamah kalau pada akhirnya bercerai. Tidak... aku tidak mau menikah dengan perjanjian seperti itu."


Mia terus menggerutu sepanjang koridor rumah sakit sampai ke ruangan mamah Emma.


Mia hampir lupa kalau tadi ia pamit untuk membeli kopi tapi kopinya malah tumpah di pakaian Daniel.


"Tumpah di jalan tadi Mah, Apa Felice belum pulang??" tanya Mia.


"Belum, coba kau telepon? Tanyakan dia ada di mana," perintah mamah Emma.


"Hmm...," Mia pun menelepon adiknya tapi tidak ada yang mengangkat. Dia tidak menyerah dan mencobanya lagi. Sampai akhirnya panggilan yang kesekian kalinya barulah ada yang mengangkat panggilan darinya.


"Hallo Felice?"


šŸ“ž"Hallo, ini siapa?"


"Seharusnya aku yang bertanya, kau siapa? Kenapa ponsel adikku ada padamu. Cepat katakan di mana adikku Felice." Mia sangat marah sekaligus khawatir karena yang mengangkat panggilannya adalah suara pria.


šŸ“ž"Aa... sial! Kenapa kau mengangkat teleponnya? cepat matikan!"

__ADS_1


Dalam panggilan itu terdengar suara bising dari beberapa orang.


"Hai cepat katakan di mana adikku atau aku akan melapor polisi!" ancam Mia.


šŸ“ž"Bagaimana ini kakaknya menelepon? Kau cepat bereskan dia , nikmati dia dengan cepat setelah itu gantian aku."


Amarah Mia seketika berkobar saat mendengar percakapan pria tadi dengan temannya. Mia pun mere -mas ponselnya sendiri.


"Hai cepat katakan di mana adikku!! Aku tidak akan main-main, sekarang juga aku akan melapor polisi. Kalian tidak akan bisa kabur!!"


Mia marah-marah dan membentak mereka tapi kemudian telepon itu terputus.


Mia mengacak-acak rambutnya sendiri, betapa bingung dia saat ini mendengar adiknya yang mungkin dalam bahaya.


"Nak, apa yang terjadi pada adikmu. Di mana dia? dan siapa yang berbicara padamu tadi." Sebagai ibu, mamah Emma tentu takut terjadi apa-apa pada putrinya.


Mia berusaha terlihat tenang lalu mendekati mamahnya.


"Aku pergi cari Felice sebentar, apa Mamah tidak apa-apa aku tinggal sendirian?"


"Tidak nak, mamah mau ikut. Ayo kita cari Felice sama-sama." Tangis mamah Emma bahkan sudah tumpah, pikirannya kalut. Memikirkan putrinya yang mungkin dalam bahaya.


"Dengarkan Mia Mah, aku harus cepat datang ke sana. Kalau mamah ikut itu hanya akan membuat ku tidak bisa bergerak cepat. Percaya pada ku Mah, aku pasti akan membawa adik pulang dengan selamat."


Mia menggenggam tangan mamahnya memberikan pengertian, keadaan mamahnya pun tidak memungkinkan untuk pergi dari rumah sakit.


"To... long bawa Felice pulang dengan selamat," mohon mamah Emma dengan berderai air mata.


"Pasti Mah, aku pergi dulu."


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima šŸ˜šŸ˜


Gomawo ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


Jangan lupa baca novel othor yang baru.

__ADS_1


Judul: Nikahi Aku, Kak!



__ADS_2