
°°°
Keesokan harinya.
Hari ini hari pertama mereka bekerja setelah menikah. Sadar sudah menjadi seorang istri, Mia pun bangun lebih pagi dan melihat bibi pelayan menyiapkan menu sarapan yang sudah ia catat tadi malam. Sekaligus sedikit belajar.
Setelahnya dia kembali ke kamar untuk mandi dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Ceklek.
Baru saja Mia selesai menutup pintu dan berbalik, dia dikejutkan oleh seseorang pria yang ia pikir masih terlelap tadi.
"Kau dari mana? Kenapa bangun pagi-pagi sekali?" tanya Daniel menodong istrinya dengan rentetan pertanyaan.
"Ya ampun bikin kaget saja. Kau sudah bangun rupanya." Mia memegang da-danya yang hampir melompat karena terkejut.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku," ujar Daniel dengan kedua tangannya yang sudah ia tempelkan di belakang pintu, mengungkung tubuh istrinya.
"Dari bawah lihat masakan, lalu naik lagi. Kenapa?"
"Kenapa harus bangun pagi-pagi sekali, ayo tidur lagi." Menggendong istrinya menuju ranjang.
"Hai Niel, kau lupa kalau hari ini kita bekerja."
"Ingat."
"Bagaimana bisa tidur lagi, banyak yang harus aku siapkan untuk kita, Niel." Mia mencoba memberi pengertian pada suaminya.
"Tidak usah, nanti saja kita siapkan bersama."
Mia melongo. Mana ada suami seperti itu menyuruh istrinya tidur lagi. Haruskah Mia bersyukur karena mendapatkan suami seperti Daniel saat ini.
Akhirnya drama tidur lagi pun berakhir dengan kemenangan keduanya. Mia yang bersikekeuh mau mandi saja akhirnya berhasil mandi juga tapi dengan imbalan yang setimpal juga. Yaitu Daniel yang berhasil ikut mandi bersama, pada akhirnya kegiatan panas pun terjadi pertama kali di rumah itu dan di dalam kamar mandi.
Mia sedang berdandan di depan meja rias, matanya sesekali melirik pada suaminya yang terlihat bersemangat setelah mendapatkan apa yang ia mau. Baru juga malam istirahat, paginya sudah diserbu.
"Ayo kita sarapan," ajak Mia yang sudah selesai bersiap.
"Tunggu!" cegat Daniel.
__ADS_1
Mia sudah punya firasat tidak enak pasti suaminya mau mengomentari pakaiannya lagi.
"Apa hari ini kau ke kantor dengan pakaian seperti itu?"
Kan, dibilang juga apa. Mia berusaha bersabar agar tidak terjadi perdebatan lagi.
"Bukannya aku sudah bilang kalau mau merubah penampilan setelah menikah. Itu semua juga demi kamu Niel, demi nama baik daddy dan mommy juga." Mia harap suaminya mengerti.
"Aku tau, Sayang. Tapi tidak terlalu terbuka seperti ini dan jangan terlalu cantik. Bagaimana kalau ada yang melirik mu nanti."
Ya ampun, bagaian mananya yang terbuka. Staf kantor yang lain bahkan lebih terbuka pakaiannya dan menurut Mia itu sudah yang paling tertutup.
"Mana ada yang berani, Niel. Selama ini mereka tidak ada yang berani padaku karena tau aku ini kepercayaan daddy di kantor. Apalagi sekarang setelah tau aku menantu pemilik perusahaan star company. Apa mungkin mereka berani menggoda ku."
"Baiklah, tapi kalau pakaian. Aku rasa kau harus menggantinya, rok ini terlalu pendek. Kau bergerak sedikit saja pa-ha mu akan terlihat dan aku tidak rela kalau tubuh istri ku dilihat orang lain." Daniel memperagakan bagaimana kalau Mia bergerak roknya terangkat.
"Kenapa kamu tidak rela, Niel? Apa kau cemburu?"
"Apa tidak boleh mencemburui istri sendiri." Daniel memeluk istrinya erat. Seakan mau berpisah lama saja.
"Kau tidak perlu khawatir, Niel. Bahkan selama ini saja laki-laki di perusahaan tidak ada yang aku pedulikan. Apalagi sekarang saat aku sudah menikah."
"Aku tau Sayang. Maafkan aku karena membuat mu tidak nyaman." Daniel melepaskan pelukannya lalu mengecup singkat bi-bir Mia.
Karena menghargai perasaan suaminya, akhirnya Mia pun berganti pakaian lagi. Dengan rok yang panjangnya sampai ke lutut.
,,,
Hari ini di rumah itu. Daniel pertama kali ikut sarapan sebagai menantu. Sambutan mamah Emma dan Felice begitu baik pada laki-laki itu. Tidak ada drama mengambil hati mertua dan ipar lagi karena dari awal pun mamah Emma dan Felice sudah sangat mendukung.
"Fel, kau kuliah jam berapa? Apa mau bareng kakak?" tanya Mia pada adiknya.
"Tidak perlu kak, aku berangkat nanti saja. Tidak ada kelas pagi hari ini."
"Nanti minta sopir saja yang mengantar kamu kuliah, Fel. Atau kau kau bawa mobil sendiri?" Daniel ikut membantu istrinya. Seperti janjinya yang akan menjaga keluarga Mia. Tapi sepertinya dengan pertanyaan terakhir sang istri tidak setuju.
"Tidak kakak ipar, diantar saja."
"Apa kau belum punya SIM?" tanya Daniel lagi.
__ADS_1
"Ehmm... Niel, aku memang melarangnya untuk mengendarai mobil sendiri sebelum umurnya dirasa cukup dan bisa bertanggung jawab."
Daniel pun mengerti sekarang dan tak lagi mempertanyakan hal itu. Mereka pun meneruskan sarapan pagi itu.
"Kak sepertinya kau belum membuka hadiah dari daddy Alex. Semalam dad Alex lupa mengatakannya dan kau sudah tertidur."
"Hadiah?? Dari daddy, dimana? Aku tidak melihat ada kotak hadiah dimana pun." Tentu saja Mia bingung. "Apa kau tau Daddy memberiku hadiah, Niel?" Lalu bertanya pada suaminya yang pas baru selesai makan.
"Tau Sayang, Bukannya kau juga sudah melihatnya kemarin." Daniel mengusap lembut pipi istrinya yang terdapat sedikit sisa makanan di sana. Mungkin karena terkejut dia sampai lupa mengelapnya tadi. Pantas saja Felice cekikikan sendiri sejak tadi.
Duk! Mia menendang sedikit kaki adiknya.
"Awww... sakit Kak." Felice mengaduh.
"Siapa suruh menertawakan ku."
"Sudah-sudah, putri-putrinya mamah kenapa malam berantem. Felice, minta maaf pada kakakmu." Mamah Emma menengahi putri-putrinya yang gampang sekali terlibat perselisihan.
"Maaf Kak." Felice menurut, walaupun dalam hati masih saja tertawa.
"Hmm... kakak juga minta maaf." Walaupun tau kalau nanti atau besok pasti sang adik mencari gara-gara lagi.
Kini mereka semua sudah berkumpul di depan rumah. Awalnya Mia heran, mau membuka hadiah kenapa malah keluar rumah? Lalu katanya hadiahnya ada di luar dibalik sesuatu yang ia lihat kemarin.
"Itu hadiahnya," tunjuk Daniel pada kotak besar yang ditutupi kain hitam.
"Ayo cepat buka Kak, aku ingin lihat." Felice antusias.
Daniel pun menyuruh orang untuk membuka kainnya. Dan kini tersisa sebuah kotak hadiah cantik dengan diikat pita besar yang bila Mia tarik makan akan terbuka kotaknya.
"Apalagi ini, Niel. Kenapa Daddy banyak sekali memberikan hadiah?" Mia bukan tipe orang yang suka aji mumpung, kalau dia diberi hadiah sebanyak itu terus menerus malah merasa tak enak.
"Buka saja, kalau soal yang lain. Kamu tanyakan pada Daddy langsung nanti di kantor."
Mia pun mulai menarik pita berwarna pink itu hingga terbukalah kotak besar itu.
"Ya ampun cantiknya...," puji Felice.
to be continue...
__ADS_1
°°°