
°°°
Pergulatan panas kala itu hanya terjadi satu ronde. Kini kedua insan manusia itu sedang mandi bersama, ya hanya mandi karena tidak mungkin mereka mengulanginya lagi di kamar mandi, takut semua orang sudah menunggu untuk makan malam. Tentu hal itu begitu menyiksa untuk Daniel, pria itu yang selalu menggilai tubuh indah istrinya tampak menahan gejolak gai-rah nya yang kembali bangkit saat melihat tubuh molek itu di bawah kucuran air shower.
Tak terhitung sudah berapa kali jakun Daniel naik turun menelan salivanya sendiri. Seolah haus kembali menderanya, padahal tadi dia sudah melahap sumber kehidupan calon anak-anaknya sampai puas. Nyatanya pria itu merasa bagian itu sudah seperti sumber kehidupan nya juga saat ini.
Aakhh tidak! Aku tidak sanggup. Mengacak rambutnya frustasi lalu menyambar handuk untuk menutupi mi-liknya yang sudah berdiri sempurna, siap untuk ronde kedua.
"Kau mau kemana, Niel? Apa kau tidak jadi mandi?" tanya Mia dengan polosnya saat melihat suaminya kembali memakai handuk dan hendak membuka pintu.
"Kau mandi duluan saja sayang, aku nanti saja." Tanpa menunggu sahutan dari sang istri, Daniel keluar begitu saja. Tidak mau akhirnya kebablasan dan melewatkan makan malam yang akan membuat orang berpikir sembarangan. Walaupun nyatanya seperti itu tapi Daniel juga harus menyampaikan sesuatu pada Mia dan keluarga nya.
"Aneh, padahal tadi dia yang bilang ingin mandi bersama."
Mia pun kembali membersihkan tubuhnya dengan cepat karena tadi dia baru saja mandi, bisa masuk angin kalau mandi yang kedua terlalu lama.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah siap untuk turun ke bawah. Namun, Daniel menahan istrinya.
"Sayang, bisa kita bicara sebentar? Ada yang mau aku katakan padamu." Daniel bernada serius.
"Ada apa, Niel? Apa terjadi sesuatu atau kau ada masalah?" Mia cukup cemas karena tidak biasanya sang suami berbicara serius seperti itu.
"Duduklah." Daniel menarik sedikit tubuh istrinya hingga terduduk di bibir ranjang. Lalu Daniel sendiri lebih memilih menekuk lututnya di hadapan Mia, hingga posisinya lebih rendah dari istrinya.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya? Kau membuat ku takut."
"Tidak apa-apa, aku tidak punya masalah apapun. Hanya saja ini tentang bencana gempa bumi yang baru saja terjadi tadi siang." Daniel diam sejenak.
"Apa hubungannya dengan hal itu, Niel? Ada apa sebenarnya, cepat katakan padaku." Mia sangat tidak suka dengan teka-teki.
"Pihak rumah sakit berencana mengirimkan beberapa bantuan medis serta relawan ke tempat itu."
"Lalu?" Mia memotong lagi.
Daniel menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku akan ikut menjadi relawan."
Mendengar hal itu, Mia refleks menarik tangannya yang di genggam suaminya. Inikah jawaban dari kecemasannya sejak tadi. Suaminya mau pergi, ke tempat bencana yang pasti berbahaya.
"Sayang, aku pergi untuk menolong mereka. Apa itu salah?"
Mia menggeleng lemah, memang tidak salah tapi hal itu pasti membuat semua orang cemas. Bagaimanapun di to seperti itu pasti tidak ada yang diprioritaskan, semuanya diperlakukan sama. Lalu bagaimana kalau suaminya kenapa-napa.
"Apa kau mengijinkan ku pergi? Tidak lama, hanya sampai kondisinya kondusif dan para korban sudah mendapatkan pengobatan. Terutama yang lukanya serius, kalau hanya tersisa luka kecil-kecil saja aku akan pulang." Meyakinkan sang istri agar merestui kepergiannya. Kata orang kalau istri mengijinkan seorang suami pergi atau melakukan sesuatu maka perjalanannya tidak akan banyak menemui masalah.
"Sayang..." Daniel masih menunggu jawaban dari Mia yang masih bergeming dengan pikirannya.
"Niel, di sana berbahaya."
__ADS_1
"Aku tau dan akan berhati-hati, akan lebih banyak menghabiskan waktu di posko bantuan."
"Tapi..."
"Sayang... aku janji pasti pulang. Mereka membutuhkan ku, kau lihat kan banyak dari mereka tertimpa bangunan. Pasti banyak dari mereka yang terluka parah dan butuh operasi."
"Beri aku waktu untuk berpikir," ujar Mia kemudian.
"Waktunya hanya sampai besok pagi. Kami akan berangkat ke lokasi. Aku akan menjaga diriku," janji Daniel.
Setelah cukup lama menyakinkan istrinya agar tidak perlu cemas, mereka akhirnya keluar juga karena sudah waktunya makan malam. Sementara Mia sendiri masih belum mengiyakan atau melarang suaminya untuk pergi.
"Akhirnya kalian turun juga. Aku sudah sangat lapar menunggu kalian datang," gerutu Felice dengan wajah kelaparan.
"Maaf Mah, Fel... kalian jadi harus menunggu kami." Daniel merasa bersalah, sedangkan Mia cuek saja pada adiknya.
"Tidak apa-apa nak, kami juga belum lama. Maafkan Felice yang sukanya asal bicara." Mamah Emma juga sama tidak enaknya.
Felice, gadis itu hanya mencebikkan bibirnya saat mamahnya menyindirnya. Dia memang sudah kelaparan sejak tadi dan sang mamah melarangnya makan duluan sebelum kakak dan kakak iparnya turun.
"Lain kali kau bisa makan duluan kalau lapar, mamah juga. Tidak perlu menunggu kami," ujar Daniel lagi.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Felice senang. "Terimakasih kakak ipar."
__ADS_1