Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
144. Tidak Suka Bau


__ADS_3

°°°


Sudah tiga hari Mia ada di rumah sakit, keadaannya pun semakin membaik sekarang. Dan hari ini dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah atas ijin dari dokter.


"Ingat Nona, Jangan sampai telat makan lagi. Makan apa saja tapi kalau bisa yang sehat dan buatan sendiri akan lebih bagus. Nanti akan saya resepkan vitamin dan obat untuk mengurangi rasa begah di lambung. Beruntungnya nona tidak mengalami mual." Dokter setelah memeriksa Mia pagi ini. Dia juga menyampaikan apasaja yang baiknya dihindari oleh ibu hamil dan makanan apa saja yang baik untuk janin.


"Terimakasih dokter," ujar Mia.


"Sama-sama nona, semoga anda dan juga calon anak anda sehat selalu sampai dia lahir ke dunia. Kalau ada apa-apa atau ada yang mau di tanyakan segera hubungi saya," ujar seorang dokter kandungan itu.


"Baik Dok, sekali lagi terimakasih."


"Baik kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pun pamit pada Mia dan mamah Emma yang kebetulan ada di sana. Sementara yang lainnya tentu sedang melakukan aktivitas mereka, ada yang bekerja dan kuliah. Biasanya di sore hari barulah mereka kumpul di sana untuk menemani Mia.


"Syukurlah, kau sudah boleh pulang nak."


"Iya Mah, aku juga sudah bosan di sini. Apalagi bau obat membuatku semakin tidak bernap-su makan." Mungkin Mia memang tidak mual dan muntah tapi kalau ada bau menyengat sedikit saja, langsung dia tidak berselera makan.


Mia mengusap lembut perutnya, rasanya masih seperti mimpi. Tidak menyangka kalau akan secepat itu tumbuh seorang anak dalam rahimnya setelah menikah. Dia sempat berpikir kalau umurnya yang sudah tidak lagi muda mungkin akan membuatnya sulit mendapatkan anak.

__ADS_1


"Kenapa nak, apa ada yang kamu rasakan??" tanya mamah Emma yang melihat putrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Aku bahagia Mah, bisa menjadi wanita seutuhnya. Bisa merasakan mengandung dan nanti melahirkan. Tapi aku masih takut , takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya."


"Kau tidak boleh bilang seperti itu nak. Kau pasti bisa menjadi ibu yang baik, bahkan lebih baik dari mamah."


"Aku harap begitu Mah," ujar Mia.


Setelah berbicara sebentar dengan putrinya, mamah Emma pun mulai berkemas. Mia mau membantu tapi tidak boleh katanya. Cukup duduk saja, mungkin karena cucu pertama jadi Mia sangat diperhatikan. Terutama oleh Daddy Alex dan mom Tania. Bahkan rencananya dad Alex bakalan memperkerjakan beberapa perawat khusus dan koki serta ahli gizi yang akan memasak makanan untuk Mia.


Mia merasa hal ini sangat berlebihan tapi mau gimana lagi. Yang ia kandung adalah cucu pertama dari keluarga Starles. Terang saja dad Alex sangat menjaga calon cucunya. Kalau saja Mia mau juga rencananya dia tidak diperbolehkan kerja dulu, tapi Mia tidak mau. Dia akan sangat bosan kalau hanya di rumah saja.


Tok tok tok.


"Pagi nak," sapa mom Tania. Beliau tidak menginap tapi selalu datang pagi sekali, biasanya sampai siang lalu pulang. Sorenya datang lagi bareng dad Alex sampai malam.


"Pagi mom." Mereka saling memeluk lalu cipika-cipiki dengan mamah Emma juga.


Mom Tania meletakkan barang bawaannya di atas meja. Lalu matanya melihat barang-barang Mia yang sudah selesai di kemas dengan rapi.

__ADS_1


"Kenapa barang-barangnya sudah dikemas. Apa kau sudah boleh pulang nak?" tanya mom Tania karena memang Mia belum memberitahu siapapun tentang kepulangan nya.


"Iya Mom, tapi aku sudah bertanya pada dokter. Katanya aku sudah lumayan sehat dan bisa pulang. Cukup istirahat di rumah saja," terang Mia.


"Kamu benar sudah baikan, sayang? Sudah tidak pusing? Perut kamu bagaimana, apa sudah mau dimasukan makanan?"


Mia tersenyum bahagia mendengar pertanyaan penuh perhatian dari mommy Mertuanya.


"Aku sudah lebih baik Mom, aku sudah bisa makan tapi disini terlalu bau obat. Aku tidak nyaman," keluh Mia.


"Syukurlah kalau begitu, berarti kamu tidak suka yang bau-bau menyengat begitu ya. Ya ampun kenapa kamu tidak bilang nak. Kalau bau parfum gimana? Kamu terganggu tidak? Tadi mommy memakai parfum sebelum kesini." Mom Tania cemas.


"Emmm i-tu...," Mia ragu, sebenarnya hidungnya sungguh tidak bisa menerima bau menyengat apapun. Meski tidak mual tapi itu membuat dia muak dan tidak nap-su makan.


"Tidak apa-apa, sayangku. Kamu jujur saja pada mommy. Mommy juga dulu begitu saat hamil Daniel, mommy malah lebih parah. Bisa sampai mual dan muntah sampai lemas, makanya dulu saat mom hamil Daddy kamu tidak boleh memakai parfum. Seluruh orang di rumah dan di perusahaan juga, karena mom sering main ke perusahaan dulu."


"Trus mom juga penginnya dekat terus dengan Daddy Alex. Sampai rapat pun kadang ikut." Mom Tania menceritakan bagaimana saat hamil Daniel dulu. Memang setiap wanita hamil itu mempunyai pengalaman yang berbeda-beda. Ada yang jadi manjanya minta ampun ada juga yang jadi sebal sama suami.


Mia menyimak baik-baik cerita mom Tania. Mamah Emma juga ikut bercerita. Mia jadi banyak dapat pengetahuan seputar kehamilan.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2