Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
39. Mencari Felice


__ADS_3

°°°


Mia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Entah apa yang sedang adiknya alami, tapi mendengar percakapan tadi sepertinya itu sesuatu yang buruk.


Ya Tuhan tolong lindungi adikku sebelum aku datang ke sana.


Klakson mobilnya bahkan ia bunyikan sepanjang jalan agar kendaraan lain menyingkir. Tidak peduli jika ada polisi lalu lintas yang akan menilangnya karena berkendara melebihi batas kecepatan. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa cepat sampai di tempat adiknya berada.


Mia terus memperhatikan sinyal GPS yang ia pasang di ponsel adiknya. Berharap dia bisa datang tepat waktu.


Ya terbiasa bekerja pada orang-orang besar membuat Mia juga terpikirkan untuk melindungi keluarganya. Seperti saat ini, dalam keadaan mendesak GPS itu pun berguna.


°°°


Sementara di rumah sakit.


Mamah Emma terus menangis memikirkan kedua putrinya. Takut sudah pasti, bagaimanapun kedua anaknya adalah perempuan. Khawatir mereka tidak bisa menjaga diri.


Sebagai orang tua mamah Emma merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa melindungi putri-putrinya.


Aku harus mencari bantuan, tapi pada siapa. Catty saja, mungkin dia bisa membantu.


Mamah Emma pun mencoba menghubungi Catty untuk meminta bantuan tapi tidak ada yang menjawab teleponnya. Berulangkali mamah Mia mencoba dan tetap tidak ada jawaban.


"Aku tidak bisa berdiam diri di sini sedangkan putri-putri ku dalam bahaya. Aku harus menyusul mereka."


Mamah Emma mencoba turun dari ranjang, meski terlihat sehat tapi sebenarnya beliau tidak begitu kuat fisiknya. Untuk berjalan saja sekarang terasa berputar kepalanya.


Namun, nalurinya sebagai seorang ibu menguatkannya hingga ia berhasil berjalan keluar dari kamarnya. Mamah Mia berjalan dengan berpegang pada pegangan yang ada di sepanjang tembok ruang sakit.


Aku harus kuat demi putriku.


Mamah Emma menahan rasa sakit yang teramat sangat pada kepalanya. Dia tetap coba berjalan.


"Nyonya kenapa anda ada di luar?" tegur salah satu perawat yang sedang bertugas jaga.


"Saya mau menyusul putri saya sus. Tolong bantu putri saja. Mereka dalam bahaya."


perawat itu pun meraih tubuh mamah Emma yang lemah lalu memapahnya berjalan.


"Nyonya, sebaiknya anda kembali lagi ke kamar. Nanti saya panggilkan dokter, kalau masih pusing."


Mamah Emma akhirnya kembali ke kamar tapi tangisnya masih tetap mengalir.


"Tolong putri saya... siapapun tolong mereka..." rancau mamah Emma.


Beberapa saat kemudian Daniel pun datang setelah mendengar kalau mamah Emma berusaha pergi dari ruangannya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sus?" tanya Daniel pada perawat.


"Tadi Nyonya ini berusaha pergi dan terus memanggil putrinya. Sepertinya kepalanya pusing tadi, karena dia juga mengeluhkan kepalanya," terang suster.


Daniel pun memeriksa keadaan mamah Emma. Lalu menyuntikkan obat.


"Di mana putrinya yang biasa menjaganya di sini?" tanya Daniel.


"Sepertinya tadi dia pergi dengan terburu-buru Dok," ujar perawat itu.


Kemana dia malam-malam begini.


"To... long... putri saya...," mamah Emma mencoba membuka matanya lalu memanggil seseorang yang ia lihat.


"To... long selamatkan putri saya."


Daniel yang hampir sampai di ambang pintu segera kembali saat mendengar mamah Emma telah sadar.


"Nyonya kau sudah sadar? Apa yang anda rasakan?" tanya Daniel.


"To... long putriku Dok, selamatkan mereka." Mamah Emma berbicara dengan bergetar menahan tangisnya. Dia tak berdaya melindungi putri-putrinya.


"Tenang Nyonya, tenangkan diri anda lalu ceritakan pelan-pelan. Kenapa anda ingin pergi tadi, lalu siapa yang harus diselamatkan," ujar Daniel.


"Dokter... putriku Felice belum juga pulang sampai saat ini lalu Mia mencoba menghubungi nya dan seseorang mengangkat panggilan itu tapi sepertinya bukan putriku. Mia terlihat sangat khawatir dan dia pergi dengan buru-buru, aku takut... takut sesuatu terjadi pada putri-putri ku dokter..." pinta mamah Emma dengan tubuh rapuhnya.


"Tenang Nyonya. Anda tunggu di sini, nanti saya akan menyuruh perawat untuk menemani anda."


"Tapi bagaimana dengan putri ku dok?... Aku ingin menyusul mereka!" kekeuh mamah Emma.


"Anda tenang saja karena saya akan mencari mereka. Apa anda tau kemana perginya putri anda?" tanya Daniel.


"Dia hanya pamit mau ke acara ulang tahun temannya, tapi dia tidak bilang ada di mana tempatnya."


Dengan informasi yang sedikit itu pasti sulit menemukan kebenaran mereka.


"Baiklah, anda tunggu disini. Saya akan mencari mereka."


"Tunggu Dok, ponsel ini terhubung dengan milik putri tertua saya. Mungkin bisa membantu dokter menemukan mereka dengan cepat," ujar mamah Emma seraya menyerahkan ponselnya.


"Saya pasti akan membawa mereka pulang," janji Daniel.


Setelah mendapatkan ponsel itu, dia langsung menuju mobilnya. Daniel segera melacak keberadaan Mia.


"Dapat,"


Dia juga meminta bantuan anak buah daddy-nya yang tersebar di seluruh wilayah negara S.

__ADS_1


Daniel segera menyusul Mia dengan mengikuti petunjuk arah.


,,,


Sementara Mia baru saja sampai di depan sebuah club' malam yang cukup mewah. Dia berhenti di situ karena sinyal GPS adiknya berhenti di sana.


"Aku harus masuk untuk mencari Felice."


Mia pun membuka mantelnya sebelum memasuki club' itu. Dia cukup paham dengan tempat itu, karena sebagai orang yang selalu dipercaya atasannya. Dia sering juga bertemu dengan rekan bisnis atasannya di tempat seperti itu dan untungnya Mia memegang kartu VVIP pelanggan di sana jadi mudah baginya untuk masuk.


Suara bising dan lampu gemerlap menyambut kedatangan Mia, tapi bukan waktunya untuk menikmati semua itu. Tujuan Mia adalah mencari adiknya.


Di mana Felice.


Cukup sulit mencari seseorang di tempat minim cahaya seperti itu, apalagi ramai. Tapi Mia tidak menyerah, dia mulai bertanya dengan menunjukkan foto adiknya.


Ya ampun, bertanya pada mereka sama sekali tidak ada gunanya. Kesal Mia karena hampir di sana semuanya orang mabuk, nah orang mabuk kalau ditanya pasti jawabannya ngawur tidak jelas.


Sampai bayangkan adiknya akhirnya terlibat. Felice terlihat sedang dipapah oleh dua pria.


Kurang ajar!! Mau dibawa kemana adikku.


Mia segera menghampiri mereka, menembus kerumunan orang yang sedang menari mengikuti irama musik yang DJ mainkan.


"Berhenti!! Lepaskan adikku!" Sentak Mia.


"Berani kalian macam-macam dengan adikku, maka kalian akan berhadapan denganku!"


Mia pun maju, tapi beberapa gerombolan anak muda menghampiri nya.


"Minggir lah!! kalau kalian tidak ingin berakhir mengenaskan!" ancam Mia tapi mereka malah tertawa mengejek.


"Hai Tante... lebih baik kau temani kita-kita saja menghabiskan minuman itu. Tante-tante pasti lebih banyak pengalamannya dan juga goyangannya pasti lebih yahuttt... hahahaha..."


PLAK!!


Mia menampar bocah ingusan yang sudah kurang ajar padanya hingga hidungnya berdarah.


"Apa kau tidak pernah makan bangku sekolahan sampai berbicara kurang ajar pada yang lebih tua!" Hentak Mia.


Namun, sepertinya apa yang Mia lakukan telah menyulut amarah mereka.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️❤️


__ADS_2