
°°°
Paginya rumah sakit.
"Fel, kamu berangkat apa kuliahnya?" tanya Mia yang sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Siang kak, aku ada kelas jam satu nanti," jawab Felice, saat ini dia sedang menyuapi mamahnya padahal sang mamah sudah bilang kalau bisa sendiri tapi putri-putrinya benar-benar memanjakan nya.
"Baiklah, nanti kakak akan pulang sebelum jam satu. Kamu jangan pergi dulu sebelum aku datang."
"Kalian tidak perlu khawatir, mamah bisa sendiri. Kamu tidak perlu ijin lagi Mia, mamah sudah tidak apa-apa," ujar mamah Emma.
"Benar Kak, aku kuliah juga paling cuma sejam. Nanti aku langsung kesini lagi," imbuh Felice.
Mia memandang mamah dan adiknya bergantian lalu menghela nafasnya panjang. "Baiklah, tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak. Mamah juga kalau ada apa-apa langsung bilang atau bisa pencet tombol hijau itu untuk memanggil perawat," pesan Mia. Walaupun sebenarnya dia tidak tenang meninggalkan mamahnya tapi dia juga harus bekerja.
"Iya sayang, mamah tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari kalian," ucap mamah Emma untuk meyakinkan putrinya.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, mamah habiskan makanannya dan jangan lupa minum obat."
"Tenang kak, aku pastikan mamah akan menghabiskan makanannya dan meminum obatnya." Felice tersenyum pada mamahnya yang kini hanya bisa pasrah menerima perhatian dari kedua putrinya. Ini salahnya sendiri yang menyembunyikan rasa sakitnya.
°°°
Mia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang cukup besar itu. Sambil membawa tas kerjanya dan beberapa pekerjaan ditangannya, sedangkan tangan satunya sibuk memasang sepatu.
Selalu seperti itu, dia selalu buru-buru dan sedikit ceroboh soal penampilan. Asalkan semuanya sudah tertutup dan tidak menampilkan bagian yang menonjol dari tubuhnya dia sudah tenang. Hari ini dia juga sudah tidak menggunakan syalnya. Bekas sedotan manis, ehh maksudnya jejak siaalan itu sudah sedikit pudar. Hanya tinggal menutup nya dengan concealer sudah beres.
Semoga saja aku tidak terlambat.
Mia terlalu fokus pada pekerjaan yang ia kerjakan di rumah sakit semalam sampai tidak melihat jalan.
Bruk!! Aww...!!
Dia menabrak seseorang dan kertas berkas yang ia bawa berserakan di lantai.
"Astaga...," buru-buru Mia membereskan kertas-kertas itu tanpa melihat siapa yang telah ia tabrak.
"Sepertinya kau sedang buru-buru Nona," ujar seorang dengan suara pria seraya menyerahkan kertas yang ia ikut punguti tadi.
"Terimakasih Tuan, maaf saya tidak melihat tadi. Sekali lagi saya minta maaf." Terus membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf.
__ADS_1
"Tidak masalah, lain kali anda harus lebih hati-hati. Berkas sepenting itu bisa sangat berbahaya kalau sampai perusahaan saingan daddy yang melihat," ujar Daniel pria yang tadi tidak sengaja bertabrakan dengan Mia.
Mendengar hal itu Mia pun mengangkat kepalanya dan tatapan mata pun tidak bisa dihindarkan.
Kenapa pria itu lagi, aahh aku lupa kalau dia bekerja di rumah sakit ini. Sepertinya aku akan sering bertemu dengannya.
"Maaf Tuan, saya akan lebih berhati-hati lain kali. Permisi," pamit Mia yang tidak mau berdekatan dengan pria itu terlalu lama.
"Tunggu," cegat Daniel membuat Mia kembali berbalik.
"Apa kau tidak menggunakan syal lagi?" tanyanya dengan meneliti sekitar leher Mia yang malam itu ia penuhi dengan tanda merah.
Mia sontak melotot tajam mendengar pertanyaan itu. Dia pun buru-buru menutupi lehernya yang sedang di perhatikan oleh pria itu.
"Maaf Tuan, sebaiknya kita tidak membahas hal lain selain mengenai mamah saya. Permisi...," Mia pergi meninggalkan Daniel.
Wanita aneh, punya tubuh sebagus itu tapi malah berpakaian seperti itu. Bagaimana laki-laki mau tertarik kalau penampilan nya saja begitu.
Sepertinya jejak yang aku tinggalkan sudah menghilang. Apa di tempat yang lain juga sudah hilang. Hmmmm...
Daniel masih memandangi punggung Mia yang semakin jauh. Memang penampilan Mia bertolak belakang sekali dengan seleranya tapi kalau sudah terjadi mau bagaimana lagi. Daniel tetap akan berusaha untuk bertanggungjawab.
"Woiii...!!" tepuk seseorang di bahu Daniel dengan begitu keras.
"Lihat apa kamu sampai segitunya?" laki-laki itu mengikuti arah pandang Daniel tapi tak ada apapun di sana hanya ada perawat dan keluarga pasien mungkin yang berlalu-lalang.
"Bukan urusan mu!" ketus Daniel. Dia paling sebal kalau sepupunya sudah ingin tau apa yang sedang Daniel lakukan.
"Pelit amat si, kita ini sekarang partner jadi harus bekerjasama dengan baik," ujar Daren tersenyum bangga.
"Apa paman kurang jelas mengatakannya. Kau itu bawahan ku dan aku ini atasan sekaligus gurumu. Jadi kau harus menghormati ku mulai sekarang." Daniel menyeringai, dia suka sekali meledek sepupunya yang dari dulu tidak pernah lebih unggul darinya.
Sontak Daren mati kutu mendengar hal itu. Dia takut kalau ada perawat dan gadis yang mendengar hal itu. Bisa turun pesonanya nanti.
"Please, kali ini saja jangan bilang seperti itu di depan umum. Anggap saja aku ini rekan kamu, biar orang-orang mengira kalau kita ini setara." Daren mengikuti sepupunya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Minggir lah, jangan mengikuti ku!" usir Daniel.
"Hai... bukankah ayah menyuruhku mengikuti mu. Lalu di mana salahku," acuh Daren. Dia berusaha terlihat akrab dengan sepupunya agar para perawat kembali menyeganinya.
"Kau itu ikut kalau aku mau memeriksa pasien, bukan mengikuti ku mau ke kamar mandi. Apa kau juga mau melihatku buang air." Daniel masuk ke kamar mandi meninggalkan sepupunya yang tengil itu.
__ADS_1
Sementara Daren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menutupi rasa malunya karena ada beberapa perawat yang lewat.
Sepupu siaalaan, kenapa tidak bilang dari tadi kalau mau ke kamar mandi. Kesal Daren sambil menendang pintu.
Aww...!! Pintu sialaan!! umpatan pada pintu kamar mandi yang tadi ia tendang karena saat ini kakinya kesakitan akibat ulahnya sendiri.
,,,
Jadwal pemeriksaan pasien sudah tiba. Daniel bersiap untuk keliling kamar pasien nya. Diikuti Daren yang berjalan dengan membusungkan dadanya dan sok tampan karena banyak wanita yang melihat ke arah mereka. Padahal yang para wanita itu lihat adalah dokter Daniel.
Daniel geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupunya yang sangat percaya diri.
"Bagaimana keadaan anda Tuan?" tanya Daniel pada salah satu pasien dengan umur lima puluh tahunan dengan penyakit
"Baik Dok, kapan saya bisa di operasi Dok. Saya sudah bosan berada di rumah sakit ini," ujar sang pasien.
"Bersabarlah Tuan, kalau keadaan anda sudah stabil saya akan segera membuatkan jadwal operasi untuk anda." Daniel pun menyuruh perawat untuk mengganti beberapa obat dan mengecek darah dan yang lainnya. Setelah selesai, Daniel satu persatu melihat kondisi pasien nya.
"Apa kau sudah mencatat semua yang aku katakan saat memeriksa mereka?" tanyanya pada Daren yang sejak tadi ada di belakangnya.
"Sudah," jawabnya dengan malas. Dia merasa telah dikerjai oleh sepupunya karena sejak tadi dia hanya mencatat tidak melakukan apapun.
Kenapa aku merasa, dia sedang memanfaatkan ku. Aku kan mau belajar bukan mau jadi assisten nya. Daren menggeram kesal.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Daniel tiba-tiba.
"Haa... Tidak, aku tidak mengatakan apapun tadi."
Apa dia punya semacam telepati, bagaimana dia bisa tau kalau aku tadi menggerutu. Daren merinding sendiri.
Sementara Daniel sangat puas melihat kekesalan sepupunya. Tentu saja dia tidak bisa mendengar apa yang Daren katakan, tapi dengan melihat raut wajah pria itu saja sudah menunjukkan kalau dia sedang menggerutu dalam hati.
to be continue...
°°°
Pagi guys... selamat hari Selasa. Yang masih punya sisa Vote boleh dong buat othor ini. 😍
Aku up tiga bab hari ini. Tunggu aja ya.
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gomawo ❤️❤️