Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
122. Sore Panas


__ADS_3

°°°


Mia menggerakkan tubuhnya naik turun mengikuti gerakan tangan Daniel yang ada di pinggangnya. Mungkin karena keduanya sama-sama rindu jadi sore itu sungguh jadi sore yang panas untuk pasangan pengantin yang tidak baru lagi.


"Kamu sangat sek-si saat seperti ini..." Mulut Daniel terus memuji kecantikan dan kemolekan tubuh istrinya yang sedang menari-nari di atas pangkuannya.


Dia buah pepaya yang menggantung pun tidak dibiarkan menganggur. Dihisapnya kedua pu-c-uk yang mene-gang bergantian agar tak ada yang merasa iri. Daniel juga memainkan li-dahnya disana, memainkan ni-ple pink itu dengan lihainya.


Aakhh ... Niel...


Mia terus merancau, seluruh tubuhnya mene-gang. Sensasi sentuhan suaminya menggunakan li-dah dan tangan selalu membuat tubuhnya menggelinjang hebat.


"Terus sayang, bergeraklah lebih cepat." Daniel terus membisikkan sesuatu yang vul-gar tapi justru membuat adrenalin Mia tertantang.


"Akhh aku sudah tidak sanggup, aku ingin mengeluarkannya sekarang ."


"Bersama sayang... Aahhh kau hebat... lebih cepat baby..."


"Aakhh Niel..." Mia mencengkeram pundak suaminya dengan kencang hingga kuku-kuku indahnya membekas kemerahan di sana.


"Yess... baby. Uhh... ayo bersama." Daniel membantu mengatur gerakan pinggul istrinya agar semakin cepat. Dia juga ikut bergerak di bawah sana hingga miliknya hampir menyentuh dinding rahim Mia, melesat sangat dalam dan merasakan kehangatan dan kedutaan luar biasa dari dalam sana. "Aakkhh... kau menjepit milikku sayang. Uhhh ini sangat dahsyat..."


"Aakkh..." Mia mendongakkan kepalanya saat sesuatu yang hebat menyergap tubuhnya. Bersamaan dengan itu cairan miliknya pun keluar saat junior suaminya menancap dalam ke dalam miliknya. Kedutaan hebat yang sudah beberapa hari tidak ia rasakan, iya menikmati permainan mereka barusan. Di tempat berbeda dan suasana yang beda memang mampu membuat gai-rah mereka meningkat.


Mia ambruk dalam da-da suaminya dengan milik mereka yang masih menyatu. Tubuhnya begitu lemas setelah mengeluarkan cairan kenikmatan itu barusan.


"Kau lelah?" Daniel merapikan rambut indah istrinya yang sedikit berantakan. Mia mengangguk lemah, nafasnya bahkan masih naik turun berkejaran.


"Kau sudah pandai sekali, aku puas." Menyeringai, tidak menyangka kalau sore itu akan menjadi sore yang panas untuk mereka dan terjadi di ruangannya.


Mendengar pujian itu Mia malu, dia semakin menyembunyikan wajahnya dalam da-da suaminya.

__ADS_1


"Kau me-sum Niel. Bagaimana kalau ada yang mendengar suara kita," protes Mia. Dia sudah menahan sekuat tenaga agar tidak kelepasan men-de-sah tapi rasanya dia tadi tidak bisa menahan hal itu karena rasanya sangat luar biasa tadi. Ahhh dia jadi malu karena tidak bisa mengontrol dirinya sendiri saat sedang ber-cin-ta.


"Tidak apa-apa, ruangan ini kedap suara jadi tidak akan ada yang mendengarnya." Tangannya turun membelai bagian favorit nya yang menempel pada kulit tubuhnya.


"Shhh... enggg... nieell...." Mia hampir kelepasan lagi saat bagian da-da di permainan suaminya lagi. Bahkan entah bagaimana, mulut pria itu sudah disana. Menyapukan li-dahnya dan sesekali meninggalkan jejak kemerahan yang membuat Mia harus menggigit bibir bawahnya menahan getaran yang timbul lagi.


"Aku merindukan nya," ujar Daniel sambil memandangi benda itu, tangannya memegang dan me-re-mas da-danya seperti mainan.


Bisa Mia rasakan kalau milik suaminya yang masih menancap itu kembali tegak dan sesak di dalam miliknya.


"Niel... aku lelah..." rengek Mia yang tadi berada diatas saat permainan pertama sampai selesai.


"Tenang sayang, sekarang giliran ku. Kamu cukup diam saja dan menikmatinya."


"Aarrggghhh... Niel." Pekik Mia saat rahimnya serasa ditusuk begitu dalam saat Daniel tiba-tiba berdiri menggendongnya. "Kita mau kemana, Niel?" tanya Mia saat suaminya berjalan sambil membawanya.


"Kita ke tempat yang lebih nyaman, agar kau bisa menikmatinya ... ," Tersenyum menyeringai sambil sesekali menghentakkan pinggulnya agar miliknya menancap lebih dalam.


Daniel memencet tombol lalu rak buku yang ada disana pun bergeser dan menampilkan pintu tersembunyi dibaliknya.


Mia cukup terkejut ada ruangan lagi di dalam ruangan Daniel. Ia kira hanya para CEO yang mempunyai ruangan rahasia seperti itu. Dokter pun juga ada. Ahhh Mia jadi berpikir apa selama ini ada wanita selain dirinya yang memasuki ruangan itu.


"Apa yang kau pikirkan, hmmm?" tanya Daniel saat melihat istrinya memikirkan sesuatu.


"Boleh aku tau, sudah berapa banyak wanita yang pernah masuk kesini?" Membayangkan suaminya bergulat dengan wanita lain rasanya sakit sekali untuk Mia. Walaupun awalnya dia sudah berusaha membentengi diri agar tidak jatuh terlalu dalam pada suaminya. Tapi semakin mereka menghabiskan banyak waktu bersama, rasa itu tumbuh begitu saja.


Daniel tergelak, dia menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. "jadi kau berpikir ada wanita lain yang pernah aku bawa kemari?" ujar Daniel.


"He'em... mungkin perawat cantik seperti di film-film dan drama itu, kalau CEO dengan sekretaris nya maka dokter dengan perawatnya."


"Ya ampun sayang, apa kau mulai ketularan Felice. Membayangkan sesuatu seperti dalam adegan drama?"

__ADS_1


Mia terdiam, biasanya dia yang mengatakan hal itu pada adiknya kalau adiknya berkhayal tapi sekarang dia ikut-ikutan melakukan hal sama. Itu semua pasti karena Felice, adiknya dan Lucy suka sekali menonton drama di ruangan keluarga jadi saat Mia duduk di sana pun tak sengaja melihatnya.


"Kau tinggal menjawabnya, Niel." Berusaha mengalihkan perhatian.


"Kau kan tau aku selama ini ada di luar negeri, pulang kesini juga langsung ada kamu dalam hidup ku. Jadi aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk melihat wanita lain, apalagi membawa wanita ke sini. Kamu adalah wanita pertama yang aku ajak bersenang-senang disini," kata Daniel.


"Perawat saja tidak tau ada ruangan ini. Kakek yang membangun ini dulu saat rumah sakit ini baru di dirikan. Saat aku ikut kakek, ruangan ini jadi tempatku beristirahat."


"Lalu siapa yang membersihkan ruangan ini?" tanya Mia yang masih tidak percaya.


"Aku... paling seminggu sekali aku bersihkan sesekali. Ruangan ini cukup tertutup jadi tidak ada debu yang bisa masuk kesini."


Mia melihat seisi ruangan itu, memang tidak terlalu luas juga. Cukup dibersihkan menggunakan vakum cleaner saja sudah bersih.


"Apa sudah percaya sekarang?" Daniel mendekatkan wajahnya.


"Maaf, aku sudah menuduh yang tidak-tidak."


"Kalau begitu kau dihukum," ujar Daniel.


"Dihukum?" Mia menaikkan alisnya.


Daniel mendekat dan berbisik di telinga istrinya, "Iya, dihukum yang bisa membuat kamu men-de-sah kan namaku..."


"Niel... kau itu me-sum sekali." Mia merona.


Mereka yang masih sama-sama polos pun kembali memulai pertempuran sore mereka yang sempat terhenti tadi. Mia yang sudah tidak begitu lelah pun kembali mengimbangi permainan. Keringat keduanya kembali bercucuran di bawah dinginnya AC yang sama sekali tidak mendinginkan tubuh mereka.


°°°


Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Maafkan author yang kadang halunya kelewatan, maafkan kalau karya othor belum bisa menghibur kalian semua. Maafkan juga kalau ada kata-kata yang kurang pantas dalam cerita othor. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Eiiitttss... maaf telat 😝😝


__ADS_2