Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
126. Sudah Bulat tapi bukan Tahu


__ADS_3

°°°


Bujukan paman Sam dan Daren sama sekali tidak berpengaruh pada keputusan Daniel. Pria itu tetap pada keputusannya untuk pergi menjadi relawan esok pagi.


"Nak, coba kau pikirkan lagi? Apa kau juga sudah bertanya pada daddy dan istri mu. Bagaimanapun mereka juga harus tau tentang keputusan mu ini." Paman Sam masih berusaha membujuk sang keponakan.


"Nanti aku akan membicarakannya pada mereka. Paman tidak perlu khawatir, di sana pasti banyak relawan yang akan saling membantu," ujar Daniel.


Paman Sam menghela nafasnya, Daniel benar-benar seperti kakeknya yang keras kepala dan berjiwa sosial tinggi. Dulu juga mendiang kakek selalu mengutamakan orang lain yang membutuhkan, sampai memberikan pelayanan gratis bagi warga yang kurang mampu jika mau berobat di rumah sakitnya.


"Kau sama seperti kakek mu, Niel. Paman tidak bisa berkata apa-apa lagi, tapi kalau daddy dan istri mu tidak mengijinkan lebih baik tidak pergi." Pesan paman Sam pada Daniel.


Daniel mengangguk sambil menatap pamannya yang pergi dari ruangannya.


"Pikirkan lagi Niel, kau ini pengantin baru masa mau ninggalin istri sendiri. Lebih baik kau disini saja," ujar Daren yang masih di sana.


Daniel melirik sekilas lalu kembali mengemasi barang-barangnya. "Lebih baik kau ikut dari pada disini kerjanya menggoda wanita. Setidaknya di sana mungkin kau lebih berguna," ujar Daniel.


"Tidak, aku tidak mau. Aku masih belum menikah dan merasakan bagaimana bercin-taaahh, aku tidak mau mati muda. Aku masih mau mempunyai istri dan anak."


Daniel menonyor kening sepupunya itu. "Di sana kita membatu korban bencana, apa hubungannya dengan mati muda. Aku juga tidak mau, aku masih ingin menikmati waktu berdua dengan istri ku." Daniel tidak habis pikir dengan sepupunya.


"Apa kau tidak dengar kalau di sana masih ada gempa susulan, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk saat aku di sana." Daren takut membayangkannya, atau lebih tepatnya dia takut melihat para korban yang tertimpa bangunan yang pastinya kondisi tubuhnya mengenaskan. Padahal ia dokter, seharusnya sudah biasa melihat hal seperti itu. Itulah kenapa dia masih saja jadi dokter jaga.


"Sudah sana tidak usah mengganggu ku. Kau itu kalau takut bilang saja, tidak usah banyak alasan."


Daren bungkam dan lebih memilih pergi dari sana. Terserah pada sepupunya saja, mau pergi juga silahkan. Daren lebih memilih stay di rumah sakit saja yang jelas lebih nyaman kerjanya.

__ADS_1


,,,


Di rumah.


Setelah suaminya pergi ke rumah sakit, tidak lama kemudian Mia pun pulang ke rumah. Tidak ada gunanya juga di apartemen sendirian.


"Mah...," sapa Mia pada sang mama saat memasuki rumah.


"Kau sudah pulang nak, dimana suami mu?" tanya mamah Emma yang sedang duduk di sofa ruangan keluarga.


"Daniel ke rumah sakit, tadi ada panggilan mendadak."


"Ohh, ya sudah. Namanya juga dokter, pasti kadang-kadang ada pasien darurat." Mamah Emma memberikan pengertian pada putrinya, mengusap lembut kepala Mia yang ada di pangkuannya.


"Iya Mah, Mia mengerti. Dimana Felice, aku tidak mendengar suaranya sejak tadi?" tanya Mia sambil masih menikmati kenyamanan meletakkan kepalanya di pangkuan sang mamah.


"Ada di kamar, biasa dengan Lucy. Entah apa yang mereka berdua lakukan." Mamah Emma menaikkan bahunya.


"Belum Mah, nanti saja tunggu Daniel pulang," jawab Mia.


"Ya sudah."


Mamah Emma kembali melihat berita yang tadi sedang ramai di televisi.


"Kau lihat itu nak, kasihan sekali korbannya. Mamah tidak bisa membayangkan kalau keluarga mamah ada yang jadi korban seperti itu."


Mia ikut melihat televisi, beritanya masih sama yaitu tentang gempa bumi yang melanda kota A. Di sana menampilkan orang-orang yang terluka dan menangis, ada juga yang menjerit meneriakkan keluarganya yang hilang di bawah bangunan yang roboh.

__ADS_1


"Iya Mah, aku sudah melihatnya tadi. Dan setelah berita itu muncul, tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit." Pikiran Mia jadi sedikit khawatir, entah kenapa tiba-tiba firasatnya sedikit tidak enak.


"Mungkin ada pasien darurat nak, kota A kan jauh dari sini. Jadi tidak mungkin kan para korban itu di bawa kesini." Ya benar juga, tapi bukan itu yang Mia khawatirkan. Dia memikirkan sesuatu tapi dia sendiri tidak mengerti.


"Sudah jangan banyak pikiran, lebih baik kamu istirahat saja sambil menunggu suami mu pulang."


"Baiklah, aku ke kamar dulu ya Mah." Mia pun bangkit dan berlalu ke kamarnya.


Sampai di dalam kamar, dia mengambil ponselnya dan mencoba mengirimkan pesan pada suaminya.


Mia : "Niel... Apa semuanya baik-baik saja?"


Kirim.


Mia pun duduk di bibir ranjang dengan cemas. Dilihatnya pesan yang barusan ia kirim, sudah diterima tapi belum di baca.


Ting.


Daniel : "Baik-baik saja, sayang. Ini juga sudah selesai, mau pulang sebentar lagi."


Sedikit lega Mia membaca balasan pesan dari suaminya.


Daniel : "Kau dimana? Apa sudah ada di rumah?"


Mia : "Aku sudah pulang, kau langsung pulang ke rumah saja."


Daniel : "Baiklah, tunggu aku." 😘

__ADS_1


Mia tersipu membaca pesan dan emoticon dari suaminya.


°°°


__ADS_2