Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
119. Mengunjungi Suami


__ADS_3

°°°


Seperti biasa Daniel pasti mengantarkan lebih dulu istrinya ke tempat kerjanya. Barulah setelah itu dia berangkat ke rumah sakit. Pagi ini pun masih sama, mereka berangkat bersama menggunakan mobil baru Mia yang Daddy Alex berikan.


"Aku turun dulu," ujar Mia setelah mobilnya berhenti di depan perusahaan.


"Apa nanti mau makan siang bersama?"


"Emmm... sepertinya akan ada rapat siang ini."


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu. Nanti sore aku jemput," ujar Daniel, yang tidak akan melewatkan mengantar dan menjemput istrinya.


Mia paham, dia mengangguk lalu memberikan ciuman perpisahan untuk suaminya. Atau laki-laki itu tidak akan pergi dari sana sebelum mendapatkan ciumannya.


"Pengantin baru, mesra terus. Bikin iri saja," ujar siapa lagi kalau bukan Catty yang suka tiba-tiba muncul entah dari mana datangnya.


"Sudah bukan pengantin baru, Catt. Ya mau gimana lagi, suami mintanya begitu. Kalau nggak dituruti nanti nggak pergi dia," ujar Mia. Dia jadi meresa seperti pasangan muda yang maunya mesra-mesraan dimana-mana. Eh tapi dengan begitu jadi tidak cepat bosan si, setiap hari ada aja permintaan Daniel yang aneh.


"Seneng ya nikah sama brondong, mana manis banget sikapnya. Tuan Daniel super so sweet...." Ya Catty lihat sendiri bagaimana sikap Daniel dalam memperhatikan Mia. Pria itu sekarang juga jadi sering datang ke perusahaan untuk bertemu istrinya. Padahal sebelumnya mana mau.


Mia hanya tersenyum tipis, suaminya itu memang segitu perhatian nya. Hal-hal kecil yang kadang Mia lupakan, pria itu bisa ingat.


"Ehh Mia kamu pernah tidak sekali-kali memberinya kejutan. Datang ke rumah sakit, bawakan makan siang. Masa Daniel terus yang datang ke sini," saran Catty. Sebagai teman dia harus banyak memberikan saran untuk temannya, dia akui kalau kehidupan pernikahannya tidak berjalan begitu bagus. Ya bisa dibilang biasa saja. Tapi Mia dan suaminya berbeda, dimana Daniel begitu peduli pada Mia. Dan harusnya Mia juga bisa mengimbangi hal itu.


Mia tampak berpikir, memang selama ini dia seperti cuek. Tidak pernah begitu memperhatikan suaminya. Kalau masalah kewajiban sebagai istri tentu sudah ia jalankan tapi kalau seperti menghampiri sang suami ke rumah sakit sepertinya tidak pernah.


"Tau sendiri kan, akhir-akhir ini masih sibuk proyek resort itu jadi aku tidak kepikiran hal-hal yang lain." Mia berasalan.

__ADS_1


"Hati-hati loh, laki-laki sebaik Daniel pasti banyak yang mau. Kalau kamu terlalu santai nanti suami mu diperhatikan wanita lain bagaimana." Catty memperingati temannya.


Mereka pun berjabat bersama memasuki perusahaan. Sampai di lift masih membahas gosip yang tidak ada habisnya dari Catty. Dari mulai hubungan pernikahan mantan kekasih Mia yang katanya diambang perceraian dan para karyawan lainnya. Catty memang selalu up to date mengenai gosip yang berkembang di sana. Sudah seperti sumber bagi Mia yang jarang berkumpul dengan karyawan lain.


Hari ini Mia juga ikut rapat yang membahas proyek terbaru star company yaitu mengenai star resort yang akan dibangun di beberapa kota. Ada pemandian air panas juga, cocok untuk liburan bersama teman-teman dan keluarga. Tidak perlu jauh-jauh, ada di pinggir kota tempatnya.


"Kami yakin proyek ini akan berkembang pesat, saya sangat suka dengan proposal nya." Para pemegang saham dan investor sangat puas dengan ide dan proposal yang Mia buat. Ya pada dasarnya tugas Mia hanya mencatat dan menyusun proposal tapi saat dia memiliki ide kemudian ia sisipkan ke dalamnya.


Daddy Alex pun semakin bangga pada menantunya.


"Terimakasih, nak. Lagi-lagi kau membuat Daddy bangga padamu," puji dad Alex.


"Sama-sama Dad, aku hanya melakukan tugas yang Daddy berikan. Selebihnya itu adalah ide Daddy."


Selesai dengan rapat barulah Mia bisa beristirahat. Membiarkan otak dan tubuhnya rileks sejenak, sepertinya tubuhnya sudah membutuhkan berendam air panas itu padahal proyeknya saja baru akan di mulai. Masih butuh beberapa bulan kedepan untuk bisa menikmati penginapan dengan sumber air panas.


Sudah ada beberapa pesan dari laki-laki yang setiap hari nya kini memenuhi hatinya. Mia menarik sudut bibirnya, hari ini dia pulang cepat. Tidak ada salahnya juga lebih dulu menyambangi rumah sakit. Dia ingin lihat bagaimana reaksi suaminya kalau dia datang ke sana.


,,,


Mia datang ke rumah sakit menggunakan taksi. Dia juga sempat membeli kue untuk di makan bersama suaminya nanti. Pandangannya ke luar jendela sambil senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi suaminya. Benar kata Catty, sesekali dia juga harus memikirkan suaminya. Jangan hanya dirinya yang disenangkan suaminya terus.


"Sudah sampai Nona," ujar supir taksi itu karena Mia masih senyum-senyum sendiri.


Mia tersentak ketika mendengar suara supir taksi itu mengingatkan kalau mereka sudah sampai. Malu sekali karena dirinya malah melamun.


"Sudah sampai ya pak, ini ambil saja kembaliannya." Mia menyerahkan beberapa lembar uang pada supir taksi itu.

__ADS_1


"Terimakasih nona."


Mia turun membawa kotak kue yang tadi ia beli. Dia langsung berjalan ke arah ruangan suaminya. Semoga saja sang suami ada di ruangannya.


Ruangan suaminya berada di lantai dua, dulu dia beberapa kali ke sana.


Ramai sekali, ahh nama nya juga rumah sakit. Mia kembali melanjutkan langkahnya.


Sampai saat seorang anak kecil yang sedang lari-larian tak sengaja menabraknya, hingga kue yang ia bawa pun terjatuh.


"Aa... huaa...huu.... hiks... mommy...." Anak kecil itu malah menangis padahal Mia sama sekali tidak memarahinya.


"Hai, kau kenapa Sayang... Dimana ibumu? Apa kau kabur dari ibumu?" Mia berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu.


"Huuuu..... hiks..." Tidak menanggapi Mia dan masih menangis.


Mia pun mengusap lembut kepala gadis kecil itu. "Apa ada yang sakit? Apa kau terluka? Katakan pada aunty dimana yang sakit?" bujuk Mia.


"Yiyi tidak mau disuntik, yiyi takut... hiks..."


"Jadi namamu Yiyi, nama yang sangat cantik seperti orangnya. Kenapa kau menangis sayang, lihatlah nanti cantikmu hilang bagaimana, cup cup cup... jangan menangis lagi." Mia mencoba menenangkan gadis kecil berseragam pasien itu. Bisa dipastikan kalau gadis itu adalah salah satu pasien di rumah sakit itu. Mungkin saja dia baru kabur dari pengawasan orangtuanya.


"Ayo aunty antarkan ke Mommy nya Yiyi. Mau?" tanya Mia, tapi gadis kecil itu menggeleng. "Kenapa sayang? Apa kau takut disuntik?" dan gadis kecil itu mengangguk. "Apa mau aunty temani? Disuntik itu tidak sakit loh, hanya seperti digigit semut. Dokter itu baik, nanti Yiyi jadi kuat kalau disuntik." Mia terus membujuk gadis kecil itu sambil menuntunnya kembali ke ruang perawatan anak. Dia terus mengajak gadis kecil itu mengobrol.


Siapa sangka kalau sedang terjadi kegaduhan di salah satu ruangan.


to be continue...

__ADS_1


°°°


__ADS_2