
°°°
Epilog
Mamah Emma datang ke rumah yang di tempati papah Willy dengan diantarkan supir. Memang rumahnya satu komplek, tapi kalau jalan ya lumayan jauh juga.
Sampai di sana, wanita itu ragu untuk turun. Bingung mau bersikap bagaimana di depan laki-laki yang pernah menjadi suami itu. Tapi tiba-tiba saja pintunya dibuka.
"Silahkan Nyonya, tuan sudah menunggu anda di dalam," ujar seorang pelayan yang mamah Emma tau pria itu adalah orang yang biasanya ada di samping Willy. Ya tidak beda jauh seperti Lucy.
Bukan itu masalahnya sekarang, tapi dari mana Willy tau kalau Emma akan datang.
Ini pasti perbuatan Felice, dasar anak itu. Men-de-sah dalam hati.
Dengan ragu Emma mulai memasuki rumah yang Mia beli dengan uangnya sendiri untuk papahnya. Kenapa bukan Daniel yang membeli, tentu karena Mia tidak mau terlalu menyusahkan suaminya. Terutama Daddy Alex yang sudah sangat banyak membantu keluarga mereka.
"Sebelah sini Nyonya, tuan ada di halaman belakang." Pelayan itu menunjukkan jalan.
Emma hanya mengekor dengan pikiran yang berkecamuk. Jantung yang berdebar dan gelisah.
Dari jauh, terlihat pria yang saat ini duduk di kursi roda sedang menikmati matahari pagi. Terakhir kali bertemu pria itu masih bisa berjalan menggunakan tongkat lalu sekarang dia sudah tidak bisa berjalan kah. Hati Emma terenyuh melihat keadaan pria yang pernah menempati hatinya, bahkan sampai sekarang pun masih ada sisa rasa itu dalam lubuk hatinya.
"Tuan, nyonya sudah datang." Pelayan itu membungkuk lalu melaporkan kedatangan Emma.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Pelayan itu kemudian mundur dan menyampaikan pesan kalau Emma sudah bisa datang. "Silahkan Nyonya."
"Bisakah kau siapkan ini di meja makan." Emma menyerahkan kotak makanan yang ia bawa ke pelayan itu.
__ADS_1
"Tentu nyonya."
"Terimakasih." Tersenyum ramah lalu Emma pun berjalan mendekati mantan suaminya yang masih betah menyapa matahari.
Tepat saat Emma sudah berada di dekat Willy. Pria itu memutar kursi roda nya menghadap wanita yang merupakan ibu dari anak-anaknya.
"Akhirnya kau mau datang melihatku juga," ujarnya. Tersenyum, pipinya tampak tirus, matanya begitu sayu. Tidak seperti Willy yang dulu, yang selalu tampak gagah di matanya.
"Aku bawakan sarapan, kata pelayan kau belum sarapan. Ini hampir siang, kau harus sarapan lalu meminum obatmu." Mengoceh seperti seorang istri.
Dan hal itu membuat Willy justru senang karena bisa kembali mendengar ocehan mantan istrinya. Jika dulu mungkin dia tidak akan segan menampar dan memukuli wanita itu kalau mengomel. Tapi setelah berjauhan, dia malah rindu Omelan itu.
"Kenapa kau malah tertawa, kau menertawakan ku?" Emma berkacak pinggang. Kalau dulu pasti dia selalu takut kalau berhadapan dengan laki-laki itu.
"Aku senang mendengarnya lagi. Ocehan dan Omelan mu. Setelah kita berpisah aku justru selalu merindukan suaramu."
"Maaf... kau pasti terganggu."
"Tidak, sudah aku bilang kalau aku suka mendengar nya. Bisakah kau seperti tadi, memarahi ku, menasehati ku, dan mengoceh tanpa henti."
Bola mata Willy sudah berkabut. Setiap hari dirinya selalu menyesali perbuatannya saat itu. Dan naasnya, dia baru sadar saat umurnya tidak lama lagi. Sudah tidak punya banyak waktu untuk menebus semua dosa-dosanya pada keluarganya.
"Willyam... Aku sudah memaafkan mu. Putri-putri mu juga sudah memaafkan mu, jadi jangan selalu merasa bersalah. Anggaplah yang sudah terjadi adalah bagian dari hidup. Biar bagaimanapun berkat kau, kini Mia jadi wanita yang kuat dan mandiri."
Sudah tidak bisa lagi ditahan, air mata itu lolos begitu saja dari pelupuk mata. Willy terisak dan memukuli kedua tangannya sendiri secara bergantian.
"Tangan ini yang sudah banyak melukai kalian," ujarnya lalu memukulkan sebilah tongkat kentang kanannya. "Tangan ini juga yang sudah banyak berbuat salah." Memukul lagi tangan satunya. Hingga memerah dan membekas.
Emma menutup mulutnya, melihat bagaimana Willy begitu merasa bersalah. Tanpa terasa juga ia ikut menangis, bahkan sesekali menjerit seperti ikut merasakan sakit.
__ADS_1
"Berhenti!! Apa yang kau lakukan?" Emma merebut tongkat kayu itu dari tangan Willy.
"Berikan padaku, aku harus menghukum mereka."
Emma tidak membiarkan hal itu, dia membuang jauh tongkat itu. Sehingga Willy tidak bisa menggapainya.
"Hentikan willyam. Bukan begini caranya kalau mau menebus kesalahanmu. Putri-putri mu bisa sedih kalau melihat mu seperti ini," sentak Emma menyadarkan laki-laki itu.
"Aku harus bagaimana? Sampai kapanpun penyesalan itu selalu menghantuiku."
Dipeluknya tubuh rapuh yang tengah terisak itu.
"Cukup sayangi mereka layaknya seorang ayah pada anaknya. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk mereka."
Mereka berpelukan cukup lama, Willy juga cukup lama terisak dalam dekapan hangat Emma. Sampai dia cukup tenang barulah Emma melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku... meski kata maaf tidak akan pernah bisa menghapus kenangan buruk kalian."
" Jangan mengingat yang lalu lagi, sekarang cukup kau perhatikan kedua putrimu." Emma menjeda ucapannya lalu agak sedikit menjauhkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian. Mereka sarapan bersama. Suasana nya sudah tidak secanggung tadi. Emma juga melayani Willy dengan baik layaknya seorang istri.
"Aku sudah kenyang Emma," tolak Willy saat Emma mau menyuapi makanan ke mulutnya lagi.
"Kau baru makan sedikit dan bilang sudah kenyang. Kau harus menghabiskan makanannya Liam, atau aku tidak akan mau memasak untuk mu lagi." Mengancam sambil cemberut. Liam adalah nama panggilan khusus Emma pada laki-laki itu dulu.
"Baiklah, aa...."
Tanpa mereka sadari kalau sejak tadi ada Felice yang melihat mereka. Niatnya mau mampir saat sedang lari pagi. Tapi dia tidak mau mengganggu kedua orangtuanya yang sedang bermesraan.
__ADS_1