
Tubuh Daren seakan lemas, dadanya amat nyeri melihat bagaimana sang ayah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit yang biasa para pasiennya tempati. Tapi saat ini yang sedang berbaring adalah ayahnya. Bahkan dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya.
Kata Daniel, sang ayah memang berhasil diselamatkan tapi mengenai keadaan jantungnya sudah sangat lemah. Kalau bukan karena alat-alat itu juga mungkin paman Sam tidak akan bertahan.
Pria tua yang biasanya memarahi nya, membentaknya dan menghukumnya kini dia terlihat sangat rapuh dan tidak berdaya .
Daren menatap nanar ayahnya. Selama ini dia hanya jadi beban dan pikiran sang ayah. Tidak pernah ia menjadi anak yang baik dan membuat ayahnya bangga di depan teman-temannya. Dia bahkan lupa kapan terakhir sang ayah memujinya dengan bangga. Mungkin itu dulu saat ibunya masih ada, saat ia belum Nakal seperti sekarang.
"Ayaahh... maafkan aku. Aku mohon bertahanlah dan jangan tinggalkan aku sendiri." Daren meraih tangan sang ayah dan menggenggam nya erat. Kalau bisa ia minta, Daren tidak ingin melepas nya, dia tidak mau sampai sang ayah pergi menyusul ibunya yang sudah pergi lebih dulu.
Hiks hiks hiks.
Hanya tangis, air mata dan penyesalan.
"Hiks... ayah aku janji akan jadi anak yang baik, patuh padamu dan membanggakan mu. Jadi bangunlah dan lihatlah putramu ini pasti akan membuat mu bangga."
__ADS_1
"Jangan pergi ayah... tetaplah disini agar ayah bisa memarahi ku kalau aku berbuat salah, agar ayah bisa menghukum ku dan membentakku. Aku akan menerima semua itu, asal ayah bangun...hiks hiks..."
Tak lama setelah itu, Daren merasakan gerakan kecil di tangannya. Dia pun terkejut dan langsung mengangkat kepalanya. "Ayah... apa kau mendengar ku? Ayah bangunlah, buka matamu ayah."
Daren terus menggenggam tangan sang ayah sambil terus memanggil nya sampai ia rasakan gerakan itu makin terasa. Dan ia juga melihat kelopak mata ayahnya bergerak.
"Kau sudah bangun ayah.." Daren begitu senang. "Aku akan panggilkan dokter dan segera kembali."
Dengan cepat Daren keluar dari ruangan dan memanggil dokter.
Semua orang yang masih duduk di sana pun mendengar nya. Mereka cukup senang mendengarnya, dan penasaran juga ingin melihat bagaimana keadaan paman Sam.
Paman Sam sudah membuka matanya, ya dia baru saja tersadar. Dokter sudah memeriksanya dan menyarankan agar beliau melakukan operasi tapi Paman Sam menolaknya. Dia menggeleng lemah, dia sangat sadar menolaknya.
"Kami sudah membujuk tuan Sam. Tapi beliau menolak. Mungkin anda bisa membujuknya," kata dokter pada Daren.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin ayah menolak?"
"Bicaralah pada ayahmu." Daniel menepuk pundak sepupunya. Dia bisa melihat bagaimana gelagat paman Sam yang memang sudah tidak ingin melanjutkan hidup. Menurutnya dia hanya ingin berbicara pada putranya.
Semua orang sudah berkumpul di dalam ruangan. Tampak kesedihan menyelimuti ruangan itu. Daren ada di dekat brangkar.
"Ayah... maafkan aku..." lirih Daren, bahkan suaranya nyaris hilang karena menangis.
Paman Sam mencoba mengangkat tangannya dan Daren dengan cepat mendekat lalu menggenggam tangan ayahnya. Paman Sam pun tersenyum, dia yang menggunakan alat bantu pernapasan meminta Daniel untuk melepasnya. Agar bisa leluasa berbicara.
"Daren... kau tidak perlu meminta maaf pada ayah. Seharusnya ayah yang meminta maaf padamu karena ayah selalu saja memaksamu untuk mengikuti keinginan ayah. Ayah juga sudah mengabaikan mu dan ibu mu, sampai ibumu sakit pun ayah tidak tau. Ayah bukan ayah yang baik, maaf nak..." Paman Sam mengatakannya dengan susah payah karena nafasnya yang terasa pendek.
"Tidak ayah, yang ayah lakukan hanya demi kebaikan ku. Ayah selalu memikirkan ku, dan ibu memang yang sengaja tidak memberitahu ayah tentang penyakitnya. Ayah adalah ayah yang terbaik untuk ku." Masih menggenggam tangan sang ayah, dengan air mata yang sudah berderai mengajak sungai. "Ayah jangan tinggalkan aku sendiri, aku hanya punya ayah. Aku yakin ayah pasti sembuh jika mau melakukan operasi secepatnya."
"Tidak nak, ayah sudah lelah. Biarkan ayah beristirahat dan bergabung bersama ibumu...."
__ADS_1