Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
48.


__ADS_3

°°°


Mia Kembali ke ruangan mamahnya dan di sana dia orang wanita sudah menunggunya, menunggu kejelasan yang terjadi antara Mia dan Daniel.


"Kenapa kak Mia mah?" bisik Felice yang ada di samping mamahnya.


Emma hanya mengangkat bahunya, sama bingungnya dengan Felice. Kenapa putrinya terlihat murung setelah berbicara dengan dokter Daniel, apa mungkin mereka bertengkar atau terjadi sesuatu. Itulah yang ada di pikiran Emma.


Pikiran Mia masih memikirkan apa yang tadi ia bicarakan dengan Daniel. Dia masih beranggapan kalau pernikahan itu harus berdasarkan saling mencintai. Sementara sampai saat ini ia tidak merasakan apapun pada Daniel.


Sampai dia berjalan ke dalam ruangan dan melewati mamah dan adiknya begitu saja. Seperti tidak ada orang di sana. Dia pun duduk di sofa lalu melamun lagi. Membuat dua orang yang sejak tadi memperhatikan makin penasaran.


Omongan Daniel juga ada benarnya, bagaimana kalau dia hamil tanpa suami. Mia tidak ingin membuat mamah sedih dan kecewa.


"Nak... kau kenapa?" tanya Emma cemas.


Mia baru sadar setelah mendengar suara mamahnya, dia segera melengkungkan bibirnya agar tidak ada yang curiga.


"Tidak apa-apa Mah," ujarnya.


"Apa tidak ada yang mau kamu ceritakan pada Mamah, apa mamah tidak boleh tau kabar yang membahagiakan itu." Emma memancing putrinya untuk bercerita.


"Iya Kak, coba ceritakan bagaimana kalian bisa dekat. Bukannya dokter Daniel baru datang ke negara S belum lama ini ya," tebak Felice.


"Sebenarnya dia putra dari tuan Alex, Mah. Atasan ku di kantor." Ya Mia tidak bis menutupi hal itu selamanya. "Jadi tuan Alex memintaku untuk menjemput nya saat baru datang ke negara ini, itulah pertama kalinya kita bertemu karena selama ini dia tinggal di luar negeri."


"Jadi apa kalian jatuh cinta pada pandangan pertama?" tebak Felice lagi.


Mia bingung juga mau jawab apa, pertemuan mereka terlalu singkat. Kalau mengatakan saling menyukai pasti akan terdengar aneh. Dengan terpaksa Mia pun menganggukkan kepalanya yang terasa berat.


"Ohhh .. ya ampun Kak. Cerita kakak seperti di drama yang aku tonton. Putra pengusaha kaya raya jatuh cinta pada wanita wanita biasa, trus orangtua si pria tidak setuju dan akhirnya mereka kawin lari." Felice menceritakan alur drama yang ia tonton.


"Kau itu terlalu banyak nonton drama." Emma mengomentari putrinya.

__ADS_1


"Eh tapi bagaimana kalau kak Mia seperti itu mah, orang tua dokter Daniel tidak setuju dengan hubungan mereka." Felice masih saja berandai-andai.


"Sudah sana, mamah mau bicara pada kakakmu," usir Emma menyuruh Felice untuk meninggalkan mereka berdua.


Felice pun mengerucutkan bibirnya, dia selalu saja disuruh menyingkirkan setiap kali mamah dan kakaknya mau bicara. Apa salahnya kalau dia juga ada di sana.


"Kenapa aku harus pergi, aku kan juga mau dengar," keluh Felice sambil menekuk wajahnya masam.


"Kau belikan makanan untuk mu dan kakakmu saja sana. Kalian belum makan kan," perintah Emma yang pasti tidak bisa membuat Felice yang suka makan menolak.


"Baiklah baiklah, aku pergi. Aku akan membelikan makanan." Dengan kesal Felice mengambil tas dan ponselnya yang ada di sofa lalu ia keluar dari ruangan itu.


"Kemari lah nak, ada yang ingin mamah tanyakan," titah Emma agar putrinya mendekat.


Mia pun mendekat dan juga harus siap jika sang mamah bertanya dengan Daniel.


"Apa yang mamah ingin tanyakan?" Mia duduk di kursi yang ada di dekat brangkar.


"Apa kau dan dokter Daniel memang saling suka dan mempunyai hubungan?" tanya Emma, dia menatap bola mata putrinya untuk mendapatkan jawaban di sana.


"Mamah lihat dokter Daniel baik dan saat mengatakan hal itu kemarin, Matanya terlihat serius dan tulus. Kau tidak bisa menyatakan semua laki-laki itu sama karena tidak semua pria seperti mantanmu."


Mia menatap pancaran sinar kebahagiaan dalam bola mata mamahnya.


"Apa mamah senang kalau aku bersama dokter Daniel?" tanya Mia.


"Kalau kamu memang bahagia dan menyukainya, mamah akan ikut senang. Tapi kalau orang itu bukan dokter Daniel pun mamah akan ikut bahagia kalau kau sudah menemukan seseorang yang mencintaimu," terang Emma.


Asal bisa melihat putrinya yang sudah sangat matang untuk menikah itu dapat pasangan, rasanya Emma masih tak tenang. Apa karena gunjingan? Bukan, karena Emma pun jarang keluar dari apartemen dan tetangga pun tidak ada yang suka bergosip.


,,,


Saat bekerja pun Mia sama sekali tidak bisa fokus, bayang-bayang ucapan Daniel dan kebahagiaan yang mamahnya rasakan.

__ADS_1


Apa dia terima saja, toh memang tidak ada ruginya.


Berperang dengan pikirannya sendiri sampai sejak tadi tidak mendengar ada panggilan dari telepon kantor.


"Mia... woyyy...," Sentak Catty yang melihat temannya melamun sejak tadi.


"Kenapa kau tidak mengangkat telepon nya, bagaimana kalau itu dari tuan Alex," lanjutnya cemas. "Kau ini kenapa sebenarnya Mia... apa ada masalah? Mamahmu baik-baik saja kan?" Rentetan pertanyaan pun Catty layangkan sampai membuat Mia memijit pelipisnya.


"Bisakah satu-satu pertanyaannya? Aku harus jawab yang mana dulu," keluh Mia.


"Hehehe... maaf, aku hanya mencemaskan mu. Ada apa denganmu hari ini?" Catty pun menarik kursi untuk duduk, ia berharap temannya mau bercerita.


"Ini jam kerja Catt, nanti saja saat makan siang aku ceritakan." Sepertinya berbagi cerita pada orang lain bisa sedikit mengurangi bebannya dari pada harus memikirkannya semua sendiri.


"Janji ya, nanti ceritakan apa yang mengganggu pikiranmu. Ya sudah aku kembali ke mejaku. Kau jangan melamun lagi," pesan Catty sebelum pergi. Dia juga tidak ingin para karyawan yang lain iri karena ia bisa bebas mengobrol disaat jam kerja.


"Iya iya..."


Jam makan siang pun tiba.


Sesuai janjinya tadi Mia mengajak Catty untuk makan di luar tapi tetap masih dekat dengan perusahaan. Karena tidak mungkin Mia menceritakan hal itu di hadapan karyawan kantor. Yang ada mereka akan mengira kalau Mia sudah tidak waras.


Dua porsi makan siang yang mereka pesan sudah ada di meja, tapi salah satu dari mereka belum ada yang berani makan. Bagaimana tidak kalau saat ini Catty sedang menatap tajam temannya, tatapan menyeramkan dan penuh intimidasi.


"Cepat katakan!" titah Catty, tidak taukah Mia kalau temannya ini sejak tadi jadi tidak konsen.


Mia menarik nafasnya dalam-dalam, dia pun mulai menceritakan awal mulanya dia bertemu Daniel hingga malam dimana mereka menghabiskan waktu bersama. Sampai Daniel yang mengajaknya menikah.


to be continue...


°°°


Sabar ya sayang... 🤭🤭

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍😍


Gomawo 🤗


__ADS_2