
Harap dibaca setelah berbuka puasa saja🙈
°°°
Sudah tiga hari Daniel dan Mia menginap di hotel yang sama. Tentu saja mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Makan saja di kamar. Sesuai dengan keinginan Daniel.
Sementara Mia sudah sangat jenuh karena hanya menghabiskan waktu di kamar. Kegiatannya hanya tidur, makan, mengobrol dan tentu jatah yang tidak pernah bosan Daniel rasakan.
"Kenapa tidak pulang saja Niel, kalau cuma mau begituan bisa di rumah," protes Mia.
"Beda sayang, kalau di rumah tidak leluasa. Nanti kau tidak bisa men-de-sah bebas." Daniel pria itu entah kenapa tenaganya tidak habis-habis, kalau ada kesempatan pasti langsung menyergap istrinya.
"Kau itu...." Mia menghela nafasnya.
Kenapa pernikahannya jadi seperti ini, sangat jauh berbeda dengan rencana awal mereka menikah. Bukankah seharusnya tidak ada kontak fisik, lalu sekarang malah seperti ketagihan. Mia juga tidak bisa menolak sentuhan sang suami.
Selama itu juga mereka lebih banyak terbuka akan masa lalu dan yang lainnya. Ya Daniel tipe orang yang terbuka dan tidak suka menutupi apapun dari Mia.
Mereka juga sudah merencanakan bagaimana kedepannya, tinggal dimana, keuangan, bahkan mau anak berapa. Mia pendengar yang baik, saat Daniel mengatakan itu semua dia cukup mendengarkan dan bilang iya kalau setuju dan tidak kalau aneh. Seperti tentang rencananya yang akan menginap setiap akhir pekan di apartemen, agar bisa bebas bermain dimana saja. Bisa-bisanya saat sedang serius pun laki-laki itu masih memikirkan hal itu.
"Oh iya kalau aku tiba-tiba harus melakukan operasi di tengah malam atau saat kamu membutuhkan ku, apa kamu akan keberatan?" tanya Daniel serius. Dia tidak mau nantinya ada drama menjadi suami jahat karena tidak ada saat sang istri membutuhkan.
"Itu memang tugasmu Niel, menyelamatkan nyawa orang lebih penting dari apapun." Mia tidak masalah toh dia selama ini sudah terbiasa apa-apa sendiri.
"Terimakasih." Daniel meraih tangan istrinya lalu mengecupnya. Mungkin inilah untungnya menikah dengan wanita yang lebih dewasa. Mia sangat pengertian dan tidak manja, tidak banyak menuntut juga dan pikirannya jauh lebih dewasa.
Mia sendiri akui kalau dia suka perlakuan manis suaminya. Membuat nya merasa begitu dihargai sebagai wanita. Tapi kalau cinta? Mungkin mereka memang belum bisa memastikan perasaan mereka saat ini. Seiring berjalannya waktu pasti mereka akan menyadari apa yang mereka rasakan.
"Aku lapar Niel," rengek Mia saat sang suami kembali men-cumbu tubuhnya. Dari pagi hingga pagi lagi seperti tidak ada bosannya.
"Sebentar saja ya... tanggung sayang." Kembali menyapukan li-dahnya di leher sang istri. Hingga suara indah itu kembali terdengar.
__ADS_1
"Aahhh... kau selalu tidak menepati janji kalau soal itu Niel." Mendongakkan kepalanya hingga membuat Daniel dengan leluasa mengeksplor leher jenjangnya.
"Tapi kau suka kan, kalau sebentar mana puas." Menyeringai saat melihat istrinya sudah kembali terpancing. "Kita lakukan disini saja, di atas sofa ini." Daniel mengangkat tubuh istrinya, duduk di pangkuannya. Kembali merasakan bi-bir sek-si milik istrinya dan tangannya tentu saja bergerak ke area favoritnya.
Dalam waktu singkat keduanya sudah polos, dengan pakaian yang berserakan dimana-mana. Tangan Daniel semakin liar menja-mah tubuh Mia. Satu bermain di atas dan satunya di bawah yang ternyata sudah basah.
"Ohh... tubuh mu sangat sek-si sayang. Aku jadi selalu ingin menyentuh mu seperti ini." Me-re-mas da-da dengan lembut, lalu langsung melahap pu-c-uk yang sudah mene-gang sejak tadi.
"Shhh... Akkhhh... pelan-pelan Niel, aku tidak mau ituku terlepas karena kau menggigitnya terlalu keras."
Daniel menurut, sekarang dia sudah lebih bisa mengontrol dirinya agar tidak kelepasan. Mengutamakan kenyamanan sang istri, agar tidak lagi menyakiti nya.
Aahhh... aahhhh
"Sebentar lagi kita keluar bersama." Daniel semakin mempercepat tempo nya. Menghentak dalam hingga menyentuh dinding rahim sang istri. Mia juga sudah lebih pandai mengimbangi, baru berapa hari saja wanita itu sudah mengerti bagaimana menyenangkan suami.
Aarrggghhh...
"Kenapa sekarang kau semakin pintar," ujar Daniel seraya menciumi kening istrinya.
"Kau yang mengajarinya." Memainkan jarinya pada da-da sang suami, bergerak-gerak memutar dan menyusuri otot yang begitu keras itu.
"Apa kau suka berolahraga Niel, kenapa bisa ini sangat keras."
"Terkadang kalau senggang aku akan menghabiskan waktu di tempat gym." Daniel masih berusaha mengatur nafasnya.
"Pantas saja bisa seperti ini." Mulut Mia membentuk huruf o.
"Tapi sekarang aku tidak perlu lagi berolahraga di tempat itu. Di rumah pun aku bisa berolahraga sepuasnya bersama mu."
"Kenapa kau mesum sekali, apa pada mantanmu juga kau seperti itu dulu." Mia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Daniel.
__ADS_1
"Tidak semesyumm ini, sudah aku bilang kan. Aku pernah melakukannya beberapa kali dengannya tapi itu dulu. Dan sekarang aku sudah tidak mempunyai perasaan apapun padanya," jelas Daniel. Meski belum tau hatinya saat ini milik siapa tapi ia yakin sudah tidak ada lagi tempat untuk nama sang mantan.
"Sungguh?? kenapa kau masih saja memanasi nya kemarin." Mia cemberut. Hanya di depan Daniel dia seperti itu.
"Aku bukan mau membuatnya cemburu sayang. Aku hanya ingin menunjukkan kalau hatiku bukan lagi untuknya, karena dia selalu mengira kalau aku masih mempunyai perasaan untuknya." Menjeda ucapannya lalu mencium bibir yang sedang cemberut itu sekilas.
"Aku ingin hanya namamu yang ada di hatiku. Maukah kau mengisinya? Memenuhi hatiku dengan namamu agar aku tidak punya kesempatan lagi untuk melirik wanita lain."
"Apa kau masih punya niatan untuk melihat wanita lain?" tanya Mia.
"Tidak, aku hanya akan melihat mu seorang." Daniel mengucapkannya dengan yakin.
Walaupun sebenarnya Mia tidak yakin, bagaimana bisa seorang pria setampan Daniel tidak tergoda dengan para gadis muda yang mengejarnya. Mungkinkah kalau suatu saat Daniel berpaling darinya, dirinya akan sanggup melepaskan kalau perasaannya sudah terlanjur terlalu dalam.
"Apa yang kau pikirkan," ujar Daniel mengecup tangan istrinya yang sedang menyusuri wajahnya. "Apa aku tampan?" lanjutnya bertanya.
Mia mengangguk, Suaminya memang tampan. Bukan hanya tampan tapi juga banyak kelebihan lainnya.
Daniel tergelak sendiri melihat istrinya yang kini sudah mengakui kalau dirinya tampan.
"Apa aku harus memakanmu setiap hari agar kau selalu mengakui ketampanan ku," seloroh Daniel.
"Ishh... kau itu. Sudahlah, aku mau mandi." Mia mau turun dari pangkuan Daniel dan melepaskan penyatuan mereka tapi pria itu menahannya.
"Kita mandi bersama." Langsung bangkit dengan mi-liknya yang masih berdiri.
Mia yang merasakan sensasi saat mi-lik Daniel semakin melesat dalam hanya bisa menggigit bibirnya. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya, pasti tidak hanya mandi. Apalagi kalau bukan menanam be-nih super.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Maafkan othor seharusnya yang kaya begini up habis buka aja, tapi ini sudah jadwalnya up. Mau gimana lagi dong. Maafin othor ya sekali lagi.🙏🙏