Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
71. Baru Sadar


__ADS_3

°°°


Hari ini adalah hari terakhirnya berstatus single. Sebentar lagi statusnya di kartu identitasnya akan berganti. Rasanya seperti mimpi dan terjadi begitu cepat.


Mia bermalas-malasan di atas ranjangnya, dia ingin menikmati waktunya untuk tidur sendirian karena besok di sampingnya akan ada sang suami yang tidur di sebelahnya. Membayangkan hal itu saja Mia merona, bagaimana besok.


Ngomong-ngomong soal suami, sudah dua hari ini Mia tidak bertemu dengan Daniel. Tidak juga berhubungan lewat telepon. Pamali katanya. Mom Tania dan mamah Emma yang merencanakan hal itu.


Mia berguling-guling di atas kasur, perasaannya aneh saat tidak bertemu dengan pria itu. Mungkinkah itu rindu, tidak mungkin! Mia bahkan tidak mempunyai perasaan seperti itu padanya, atau dia saja yang tidak sadar kalau sudah mempunyai sedikit perasaan pada Daniel.


"Mia, kenapa kau memikirkan pria itu. Dan apa ini, kenapa juga kau malah mengingat kejadian di taman waktu itu."


Mia kembali berguling-guling sampai baju tidur mini yang ia pakai bahkan terangkat dan memperlihatkan g-string yang ia pakai. Ahh peduli apa, toh di rumah ini hanya ada para wanita. Mia benar-benar menikmati waktu kesendiriannya karena mulai besok malam dia mungkin tidak bisa memakai pakaian mini yang nyaman itu lagi.


Membayangkan tidur menggunakan piyama panjang rasanya sungguh menyiksa. Dia itu lebih suka seperti itu kalau di rumah, pakaian mini bahkan lingerie yang membuat tubuhnya terasa bebas setelah seharian terbalut kain yang tertutup.


"Ya ampun Kak! Bagaimana kalau yang masuk orang lain." Felice terkejut dengan tingkah kakak nya yang sama seperti saat masih di apartemen. Bebas menggunakan pakaian apapun.


"Memangnya siapa yang berani masuk selain kamu atau mamah." Dengan santai Mia menarik gaunnya yang tersingkap lalu duduk menyila.


"Ada apa?" tanyanya pada sang adik.


"Aku kesini mau memberitahu untuk bersiap-siap karena mom Tania akan datang sebentar lagi," ujar Felice.


"Mom Tania? Kenapa dia tiba-tiba datang?"

__ADS_1


"Kenapa Kak, apa kau kecewa karena bukan kakak ipar yang datang." Felice berhasil membuat kakaknya merona.


"Tidak, kenapa juga harus kecewa. Besok juga bertemu," ketusnya untuk menutupi rasa malunya.


"Oh yaa... lalu kenapa pipimu memerah. Apa kau mau mengelak lagi seperti waktu itu. Jelas-jelas kau menikmatinya tapi berkata tidak merasakan apa-apa. Dasar lain di hati, lain di bibir." Felice kesal karena waktu itu tidak mendapatkan jawaban yang sesuai ekspektasi nya. Padahal dia penasaran bagaimana rasanya berciuman dengan orang yang kita suka dan menyukai kita.


Mia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sekarang sudah tidak mudah lagi untuk membohongi adiknya.


"Kenapa kau sok tau sekali! Sudah sana keluar, aku mau siap-siap dulu." Mia mengusir sang adik untuk keluar dari kamarnya.


"Iya... aku keluar."


Gadis itu berjalan keluar sambil ngedumel sendiri.


,,,


"Kak, mom Tania sudah datang. Cepatlah turun!" teriak Felice dari luar kamar, tumben sekali dia tidak menerobos masuk. Mungkin dia sedang belajar untuk nanti saat kakaknya sudah menikah dan kakak iparnya tinggal di kamar itu. Tentu Felice tidak akan leluasa untuk keluar masuk lagi.


Mia segera mengenyahkan pikiran itu, lagi-lagi mengingat pria itu. Tidak, hal itu tidak bisa dibiarkan. Jangan sampai Mia jatuh hati terlebih dahulu pada pria itu. Dia tidak mau sakit hati lagi nantinya.


"Iya, aku turun sebentar lagi."


Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, Mia pun mengambil tas nya lalu segera keluar dari kamar untuk menemui mom Tania. Tidak baik kan kalau sampai calon ibu mertua dibuat menunggu.


Di bawah, mom Tania sedang mengobrol dengan mamah Emma dan Felice. Entah apa yang mereka bicarakan sampai mereka tertawa.

__ADS_1


Mia yang menggunakan sepatu flat turun tanpa mengeluarkan suara tak tik tuk. Hingga mereka bertiga tidak menyadari kedatangan Mia. Sebenarnya Mia sendiri sudah cukup tinggi, jadi saat di luar kantor dia jarang menggunakan hak tinggi. Sayang juga pada rahimnya, katanya jika terlalu banyak menggunakan hak tinggi akan sulit hamil. Ahhh kenapa sampai berpikir hamil segala.


"Kak kau sudah siap," ujar Felice saat sang kakak sudah ada di hadapan mereka.


"Ya ampun kau cantik sekali," puji mom Tania yang baru saja menoleh. Dia bangun dan mendekati calon mantunya. Memandanginya dari ujung kaki sampai ujung kepala, menelisik penampilan Mia yang berbeda dari biasanya.


Mungkin dia baru sadar kalau menantunya mempunyai tubuh yang sangat bagus dan juga cantik sebenarnya. Ia pikir selama ini, kenapa kakak beradik itu terlihat berbeda. Ya antara Mia dan Felice, selama ini ia pikir kenapa sang adik jauh lebih cantik padahal mereka lahir dari ibu yang sama dan tercipta dari benih ayah yang sama juga.


Tania akui sekarang kalau matanya tak bisa melihat kecantikan yang tersembunyi milik Mia. Mungkin karena selama ini dia melihat orang dari luarnya saja. Karena itulah ia datang ke rumah itu hari ini. Untuk mengajak calon menantunya untuk melakukan perawatan dan memolesnya menjadi berlian dengan make-up profesional. Bahkan berniat melakukan sedot lemak di bagian tertentu karena ia kira selama ini Mia gemuk saat menggunakan pakaian yang besar.


Siapa sangka kalau dirinya dibuat tercengang oleh jati diri Mia yang sebenarnya. Cantik, natural, body goals, kulit mulus, dada besar, ahhh... sempurna. Tidak ada kata lagi yang bisa menggambarkan tubuh Mia saat ini. Lalu kenapa dia begitu pandai menutupi itu semua dan apa tujuannya?


"Kita mau pergi kemana Mom?" tanya Mia yang merasa risih karena sejak tadi merasa seperti dipindai oleh mata mom Tania.


"Eh... maaf Mom lupa. Kita pergi sekarang." Mom Tania menyambar tas kremes nya yang ada di atas meja. Lalu berpamitan pada calon besannya, tak lupa pada gadis kecil yang sempat ia pikir untuk menjadi kandidat menantunya mengganti kan Mia.


"Saya pinjam dulu putrimu Mbak," pamit mom Tania.


"Iya, kalian hati-hati."


Saat ini mom Tania dan Mia sudah ada di mobil. Sebelumnya mom Tania juga sudah memberitahu supir untuk mengganti tempat tujuan mereka. Awalnya mau ke salon, tapi kalau sudah sempurna seperti itu mau diapakan lagi. Takutnya malah krim-krim yang ada di salon itu tidak cocok dengan kulit mulus Mia. Bisa gawat kalau saat hari H wajah Mia rusak karena perbuatannya.


"Sayang, mom mau minta maaf sama kamu. Sebenarnya hari ini Mom mau mengajakmu untuk pergi ke salon. Tapi mom tidak menyangka kalau calon menantu mommy sangat cantik. Maafkan Mom kalau perbuatan mom, menyinggung perasaan kamu. Mom sungguh tidak bermaksud buruk."


"Tidak apa-apa Mom, Mia senang karena mommy selalu mengatakan yang sebenarnya kalau ada apa-apa." Walaupun itu menyakitkan mom.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2