Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
136. Solo


__ADS_3

°°°


Mia sudah kembali dari mall. Dengan belanjaan yang super banyak, sampai beberapa pelayan membantunya membawakan ke dalam rumah.


"Aku pulang mah." Mia langsung memeluk manja mamahnya lalu melemparkan tubuhnya di sofa. Kakinya pegal-pegal dan baru terasa, mungkin karena terlalu lama berjalan menggunakan hak tinggi juga.


"Ini semua apa, nak? Kau belanja sebanyak ini?" terkejut mamah Emma, melihat putrinya membawa pulang banyak barang belanjaan. Padahal biasanya Mia adalah anak yang paling pandai berhemat.


"Iya Mah, ada untuk mamah dan Felice juga. Kalian pilih sendiri yang mana milik kalian," jawab Mia. Kemudian dia bangun dari duduknya.


"Kau mau kemana nak?" tanya mamah Emma.


"Ke dapur Mah, mau cari cemilan."


Mamah Emma semakin tercengang karena tidak biasanya juga putrinya suka makan cemilan. Tapi dia tidak memikirkannya lebih lanjut, bisa saja karena dia ingin memakannya sekarang.


Mia kembali dengan membawa satu piring potongan buah, berbagai macam buah. Lalu kembali duduk bersama mamahnya yang sedang melihat belanjaan putri nya.


"Di mana Felice, Mah?" tanya Mia.


"Di kamar mungkin, ehh itu dia datang..." Dilihatnya sang putri kedua sedang menuruni tangga.


"Kak, kau dari mana saja. Kakak ipar mencarimu," ujar Felice tiba-tiba.


"Mau apa mencariku." Mia cuek dan tetap melanjutkan makannya.


"Mana aku tau, katanya kakak disuruh balas pesannya. Kenapa si kak? Apa kalian bertengkar?" tebak Felice dan hal itu membuat mamah Emma khawatir.

__ADS_1


"Benarkah itu nak?" tanya mamah Emma.


"Tidak Mah, untuk apa bertengkar dengan nya. Tapi rasanya aku sedang malas membalasnya saja," ujarnya sambil mengunyah makanan.


"Jangan begitu, nak. Kasihan nak Daniel, dia pasti mencemaskan mu. Bagaimana kalau di sana kerjanya jadi tidak fokus karena memikirkan mu."


"Nanti aku kabari dia, Mah." Masih lanjut makan.


"Sekarang saja kak, kasihan dia sudah menunggu dari siang." Felice baru mau minta buah yang terlihat menggoda itu tapi Mia langsung menjauhkan piringnya.


"Minta Kak," rengek Felice. Dia berusaha menggapai piring itu.


"Tidak boleh, sana ambil sendiri kalau mau." Mia menjulurkan lidahnya meledek.


Felice memajukan bibirnya, sebal. Hanya mau minta sedikit saja tidak boleh. Sejak kapan kakaknya jadi pelit seperti itu.


Sementara Mia makin jauh menghindar dan berpindah tempat duduk. "Tidak ya tidak, kau bisa suruh pelayan kalau malas. Lagian anak pera-wan kok malas-malasan, mana ada yang mau jadi pacar kamu." Makin meledek karena memang sang adik sedang jomblo saat ini, lebih tepatnya sejak kejadian di club' malam yang membuatnya trauma kalau dekat dengan laki-laki.


"Maahhh... kak Mia pelit." Kali ini meminta bantuan mamahnya, berharap sang mamah membantunya.


"Sudah-sudah, kalian ini kok seperti anak kecil saja. Sana kau ambil sendiri saja, dibelakang pasti masih banyak."


Mia puas karena mamah Emma tidak membela sang adik. Pupus sudah harapan Felice, padahal biasanya dimana-mana kalau bontot itu biasanya lebih di sayang. Tapi ini apa? Jelas-jelas kalau mamahnya lebih sayang pada kakaknya.


"Sudahlah, aku sudah tidak ingin makan itu." Felice melipat kedua tangannya dan mencebikkan bibirnya.


Mia yang melihat hal itu merasa sangat terhibur. Aneh juga kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, rasanya tidak rela berbagi makanan yang ia sedang makan pada orang lain. Seperti saat di restoran tadi.

__ADS_1


Malamnya, Mia sudah bersiap untuk tidur. Dengan memakai salah satu lingerie yang tadi ia beli. Padahal suaminya tidak ada di rumah tapi dia ingin memakainya. Dilihatnya penampilan nya saat ini di depan cermin. Body yang sangat aduhai, montok depan belakang membuat Mia senyum-senyum sendiri membayangkan Daniel yang sangat menyukai bagian tubuh depannya.


Tanpa sadar Mia refleks menyentuhnya sendiri sambil memejamkan mata dan membayangkan suaminya yang sedang menja-mah nya.


Sshhh... hmmm a-aahhh...


Dia terus melakukan nya, sesekali juga me-mi-lin pu-t-ingnya membuatnya semakin ho-r-ny dan becek di bawah sana.


"Aahh... Niel... hi-sap yang kuat... aahhh." Merancau tidak jelas sendirian.


Ini gilaa, keanehan Mia semakin menjadi. Biasanya dia tidak seperti itu, lalu kenapa sekarang seperti haus belaian seperti itu.


Bayangannya semakin liar, saat jari jemarinya meraih lipatan daging berbiji di bagian bawah. Tangannya melesat masuk dalam celana da-lam berbentuk g-string itu. Di angkatnya satu kakinya ke atas kursi agar lebih leluasa lalu disentuhnya biji kecilnya yang mungil, yang mampu membuat nya menggelinjang nik-mat.


Aaahh... Niel... uhhh... terus.


Untunglah ruangan kamar itu kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar apa yang Mia lakukan saat ini. Dia terus memainkan kedua bagian sensi-tifnya, bahkan jarinya kini ia keluar masukan ke dalam lu-bang mi-liknya. Tangan satunya juga tidak berhenti bermain di da-danya.


Semakin li-ar, sampai tubuhnya bergetar hebat saat merasakan mi-liknya berkedut.


"Niel... arrggghh... aku mau keluar... akkhhh..."


Jarinya semakin cepat bergerak sampai cairan kenik-matan tumpah dari lu-bang mi-liknya. Menetes sampai ke lantai. Mia menengadahkan kepalanya merasakan sensasi luar biasa itu.


Huhh hah... nafasnya terengah-engah, tubuhnya melemas, hampir saja tumbang kalau saja tidak berpegangan pada meja rias.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2