Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
82. Menggosip


__ADS_3

°°°


Justin dan Laura jelas tidak terima mendengar kenyataan kalau pria yang menikah dengan Mia adalah putra dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Laura yang selalu merasa menang karena berhasil menikah dengan pria idaman nomor satu di kantor, kini merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Mia.


Siaalll ... kenapa Mia beruntung sekali, bagaimana mungkin dia berhasil menjerat pria muda seperti tuan Daniel. Kalau tau anak tuan Alex begitu tampan, aku mana mau menikah dengan Justin yang pelitnya tujuh turunan.


Laura yang sedang bergerombol dengan teman-temannya menenggak habis minum berwarna merah di gelas yang sedang ia pegang. Rasa iri dan ingin lebih dari yang lain kembali merasukinya.


"Dia pasti pasti main kotor, bagaimana laki-laki setampan tuan Daniel bisa menikahi perawan tua seperti sekretaris Mia."


"Ya, umur mereka saja jauh berbeda. Mungkin mereka sudah tertipu."


"Eheemmm ...." Terdengar suara besar berdehem di belakang mereka. Pria tinggi besar dengan badan berotot dan menggunakan seragam keamanan ada di belakang mereka.


Laura dan teman-temannya pun salah tingkah dan langsung terdiam saat pria itu menatap tajam pada mereka. Bisa gawat kalau apa yang mereka bicarakan diadukan pada atasan.


"Kalau kalian sudah bosan bekerja di perusahaan teruskan saja membicarakan nyonya muda kalian. Saya pastikan nama kalian juga akan di blacklist dan tidak akan bisa bekerja di manapun. Wajah kalian sudah terpantau di cctv. Ingat itu!!"


Sebuah peringatan yang begitu mengerikan. Nafas mereka langsung tercekat, tak berani lagi mengangkat kepalanya. Bagaimana bisa mereka kehilangan pekerjaan yang menjadi impian banyak orang. Bekerja di perusahaan Starles tentu banyak orang yang mengincarnya. Bagaimana nasib cicilan mereka nanti.


Mungkin mereka lupa kalau yang sedang dibicarakan adalah menantu keluarga Starles. Dad Alex dan Daniel sudah merencanakan hal itu dari awal. Menyiapkan petugas keamanan disetiap sudut. Bukan hanya agar acara berjalan lancar tapi juga untuk membersihkan acara dari gosip yang beredar tidak sesuai dengan kenyataan.


Seketika nyali mereka menciut. Mana mungkin mereka mau kehilangan pekerjaan yang begitu bagus dan gaji yang lebih tinggi dari perusahaan lain yang ada di negeri ini.


Mereka pun menunduk dan mulai membubarkan diri untuk mencari aman. Meninggalkan begitu saja teman mereka yang sedang kesal-kesalnya, melihat keberuntungan yang Mia dapatkan. Dewi Fortuna seperti berpihak padanya.


Kehilangan Justin justru membawanya bertemu dan menikah dengan putra konglomerat. Tau kalau akhirnya akan seperti itu, lebih baik dulu Laura tak merebut laki-laki yang kini menjadi suaminya. Dia jelas menyesal karena bayangan akan hidup bahagia dan dimanjakan Justin telah sirna, setelah tau bagaimana wajah asli suaminya.

__ADS_1


Siaallan... Laura mengumpat dalam hati.


Hari ini saja demi menggunakan gaun yang bagus Laura terpaksa menggunakan tabungannya sendiri karena Justin terlalu banyak alasan saat dimintai uang.


,,,


Disudut lain.


Felice sedang bersama dengan Catty dan keluarga kecilnya. Sementara Emma dan Willy sudah kembali ke kamar mereka. Kesehatan mereka lebih penting dari apapun.


"Apa kau tau sekarang orang-orang itu pasti bungkam saat mengetahui siapa suami kakakmu." Catty orang yang paling merasa puas saat melihat rekan kantor yang biasa membicarakan Mia tidak laku, kini beralih mengagumi Mia.


"Semoga saja setelah ini tidak ada lagi yang membicarakan kakakku. Untuk apa juga mereka mengomentari hidup kakakku, kalau kakakku saja tidak pernah mengurusi urusan mereka." Tentu Felice tau segala hinaan dan hujatan yang ditujukan pada kakaknya.


"Entahlah, aku rasa mereka hanya iri pada jabatan Mia. Jadi menjelek-jelekkan Mia sampai ke akar-akarnya." Catty memandang sinis pada orang-orang yang terlihat tak suka pada apa yang Mia dapatkan sekarang.


"Kau benar, Mia terlalu baik pada mereka. Kalau aku yang mereka begitu kan, sudah pasti langsung aku hajar mereka. Hahaha..." Catty dan Felice pun tertawa renyah.


"Sayang, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Justru dengan Mia diam dan menunjukkan bagaimana ia saat ini, sudah cukup membuat mereka bungkam." Jimmy tidak setuju dengan obrolan mereka berdua .


"Benar juga, tumben kau benar. Mia sungguh membalas mereka dengan cantik tanpa perlu mengeluarkan tenaga." Catty sependapat dengan suaminya.


"Mah... Kenan mau ke aunty," rengek Kenan sambil menarik-narik gaun mamahnya.


"Sabar sayang, kita harus mengantri. Banyak orang yang mau bersalaman dengan aunty Mia. Tunggu sebentar lagi ya," ujar Catty pelan.


"Sini sama aunty Felice sayang, Kenan mau makan apa? aunty temani ambil makanan ya..." Felice berjongkok dihadapan Kenan, mensejajarkan tubuhnya dengan bocah itu.

__ADS_1


"Ice cream saja aunty." Kenan tampak kecewa. Dia melirik aunty Mia nya yang sering mengajaknya bermain. Kini wanita dewasa itu telah menikah katanya, mesti sejatinya Kenan belum tau apa artinya pernikahan. Yang ia tau saat ini aunty Mia nya sedang berdiri di samping seorang laki-laki yang baru pertama kali ia lihat. Mungkinkah pria itu yang membuat aunty Mia nya tidak bisa ia temui saat ini. Kalau ia, sudah pasti Kenan tidak akan menyukai pria itu.


Felice pun segera mengantri untuk mendapatkan ice cream pesanan Kenan. Karena cukup banyak anak-anak di pesta itu jadi mau mengambil ice cream pun harus mengantri.


"Hai, lama tidak berjumpa," sapa seseorang yang tiba-tiba suara berdiri disampingnya.


"Dokter...." Felice tidak terkejut saat melihat Daren ada di pesta ini juga karena pria itu adalah sepupu dari kakak iparnya.


"Aku tidak menyangka kalau wanita yang sepupuku nikahi adalah kakakmu. Aku kalah cepat lagi," gumam Daren pada kalimat terakhir.


"Ya dokter... anda mengatakan sesuatu?" Felice menyerngit.


"Tidak, oh iya apa kau mau ice cream? Biar aku yang ambilkan. Kau tunggu disini, aku segera kembali."


"Ehh tunggu Dok," cegat Felice tapi pria itu keburu menghilang dibalik kerumunan.


Bagaimana dia bisa menghilang begitu cepat.


Tak lama, Daren sudah kembali dengan dua cup ice cream di tangannya. Dengan rambut yang sedikit berantakan juga.


"Dokter, apa anda tidak apa-apa?" cemas Felice.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit ada insiden tadi. Ini ice cream nya." Daren menyerahkan ice yang ia bawa.


"Kalau begitu terimakasih banyak dok." Felice sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berterimakasih.


"Tidak perlu sungkan, sepertinya kita akan sering bertemu setelah ini." Daren tersenyum senang bisa melakukan sesuatu untuk gadisnya. Meski harus berdesakan dengan anak-anak, yang pasti mereka juga marah dan menarik-narik rambut dan pakaian Daren. Tapi melihat Felice tersenyum rasanya sangat setimpal dengan usahanya.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2