Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 22. Mengejar Masa Depan


__ADS_3

Daren berusaha berlari mengejar Lucy dan putranya, berharap mereka belum pergi dari rumah sakit itu. Dia sudah berusaha sekali lagi menghubungi Mia dan Daniel tapi nihil, mereka sama sekali tidak merespon. Semakin kesal Daren dibuatnya. Tidak bisakah mereka berkompromi sedikit untuk membantunya kali ini saja, ya memang semua itu salah Daren karena tak mau mendengarkan mereka.


Tadi sebelum Mia dan Daniel kembali ke ruangan Zoro, mereka sempat kembali menghampiri Daren untuk bertanya sekali lagi dan Daren tetap menjawab tidak. Makanya mereka kesal dan sepakat untuk tidak mau membantu dia lagi.


"Awas! Permisi! permisi!" Sepanjang Daren berlari hanya seruan itu yang terdengar dari mulut pria itu. Karena kebetulan di lorong-lorong rumah sakit memang sedang banyak orang berlalu lalang.


"Maaf... Maaf.. " Sesekali permintaan maaf juga terdengar saat ia tak sengaja menabrak tubuh orang lain.


Orang yang melihatnya tampak geram karena berlarian di tempat yang ramai tapi saat melihat jas dokter yang ia pakai membuat semua orang berpikir kalau dia sedang buru-buru untuk menolong pasien.


Sampai di depan pintu keluar, Daren berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya dan bertumpu pada tiang besar yang ada di sana. Matanya memutar mencari sosok yang ia kejar. Ia yakin kalau mereka pasti akan menunggu mobil disana.


"Dimana mereka?" hosh hosh... Memutar tubuhnya mencari ke penjuru arah tapi tetap saja tidak menemukan mereka. "Apa aku terlambat lagi?" lutut Daren seketika melemas, lagi-lagi dia kehilangan kesempatan karena keegoisan dirinya. Bisa saja ia datang ke rumah Lucy tapi ia yakin kalau Daniel pasti tidak akan mudah memberi tahunya. Sekarang apa yang harus ia perbuat, dia pasti juga sudah melukai perasaan anak kecil itu yang pasti mengharapkannya datang.


Bodoh Daren! Kau bodoh! Menyalahkan dirinya sendiri yang tak berani mengakui perasaannya.

__ADS_1


"Dokter, anda kenapa?" tanya penjaga yang berjaga di dekat pintu.


Daren bersandar pada tiang dan menutupi wajahnya yang terasa kacau. "Tidak apa-apa, kalian pergilah!!" Saat ini pria itu sama sekali tidak ingin diganggu.


"Baiklah dok." Penjaga itu pun menjauh dan membiarkan pria itu disana. Dasar aneh, pikirnya.


Cukup lama Daren merenungi nasibnya, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke dalam. Esok ia akan memohon pada Daniel agar memberitahu alamat Lucy padanya. Tidak peduli sepupunya itu mau menganggapnya apa.


Baru saja dia berjalan beberapa langkah, dilihatnya di kejauhan sosok yang tadi ia cari sedang berjalan menuju padanya. Daren mengucek matanya berkali-kali, mungkin saja dia salah lihat atau itu hanya ilusinya saja. Tapi setelah beberapa kali mengerjap pun sosok itu masih ada dan semakin dekat.


Sementara itu di kejauhan, tadi sebenarnya mereka sudah hampir sampai di pintu keluar tapi tiba-tiba saja perut Mia mulas. Semua orang pun panik terutama Daniel yang langsung menggendongnya dan membawanya menemui dokter kandungan. Mamah Emma dan Lucy pun ikut cemas dan mengikuti Daniel. Sesampainya di sana dan dokter memeriksa ternyata tidak apa-apa, hanya saja dokter menyarankan agar mereka sedikit mengurangi aktivitas suami istri dan tidak terlalu bersemangat saat melakukannya.


Mia pun malu, sangat malu karena selama hamil ini dia lah yang jadi sering meminta melakukan hal itu, meski tak mengucapkannya secara tersirat tapi bagaimana Daniel bisa tahan kalau tiap malam tubuh sek-si sang istri hanya terbalut lingerie tipis tanpa dala-man.


"Sayang, kau dengar kata dokter. Kita tidak boleh terlalu sering awww...," bisik Daniel yang langsung mendapatkan cubitan di perutnya.

__ADS_1


"Jangan bahas itu Dad, aku malu pada mamah dan Lucy." Mia yang duduk di kursi roda hanya bisa menunduk malu. Bagaimana tidak kalau tadi saat dokter bicara seperti itu ada mamahnya dan juga Lucy.


Daniel mengacak gemas rambut sang istri. Salahnya juga yang kadang kelepasan dan tidak hati-hati saat melakukan hal itu. Dia selalu saja lepas kontrol kalau sudah disuguhi pemandangan yang tidak bisa membuatnya berkedip.


Mamah Emma dan Lucy pun paham dan tidak berkomentar, wajar saja menurut mereka. Cuma tidak percaya saja pada mereka berdua ternyata cukup liar juga sampai kandungan Mia pun merasakan imbasnya.


"Ungkel dotel..." ujar Zoro yang sejak tadi diam. Wajah bocah kecil itu langsung senang melihat seseorang. "Tu ada ungkel dotel, Zo mau angkel dotel." Meronta di gendongan ibunya.


Semua orang melihat ke arah yang ditunjuk Zoro dan cukup terperangah saat melihat Daren ada dihadapan mereka, tapi kemudian Daniel, Mia beserta mamah Emma tersenyum.


"Ternyata aku belum terlambat," ujar Daren saat sudah ada di hadapan mereka tapi tentu tatapan matanya tertuju pada Lucy dan putranya, tak peduli orang lain yang ada di sana.


Lucy cukup dibuat salah tingkah saat Daren terus menatapnya intens, matanya berusaha menatap ke arah lain.


"Angkel... mau angkel," ujar Zoro antusias dan mengulurkan kedua tangannya pada Daren.

__ADS_1


__ADS_2