Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
46. Pengakuan


__ADS_3

°°°


"Tidak perlu mengembalikan uang itu karena aku tulus ingin membantu anda Nyonya."


Langkah kaki orang itu melewati Mia begitu saja, tanpa peduli dengan tatapan tajam dari wanita itu.


"Dokter Daniel? Jadi anda yang sudah membayarkan biaya operasi saya?" tanya Emma memastikan kalau yang tadi ia dengar tidaklah salah.


"Iya Nyonya, tolong jangan ditolak. Saya tulus ingin membantu anda," pinta Daniel pada Emma.


Emma mulai berpikir dari beberapa rentetan peristiwa yang terjadi dan banyaknya kebaikan yang Daniel berikan. Apa mungkin jika dokter itu benar-benar menyukai salah satu dari putrinya. Mana mungkin kan ada orang yang memberikan bantuan yang besar kalau tidak ada maksud tertentu.


Emma tersenyum teduh, kalau memang dokter itu menyukai salah satu putrinya dia tidak masalah. Selama putrinya juga mau menerimanya.


"Terimakasih sebelumnya Dok, anda sudah sangat banyak membantu saya dan keluarga. Namun, ada hal yang tentu tidak bisa saya biarkan. Biaya rumah sakit itu tidak lah sedikit dan kami tidak bisa menerimanya. Ijinkan putriku menggantinya, agar tidak ada lagi beban dalam hati saya karena terlalu banyak menerima kebaikan Dokter," ujar Emma, dia tidak ingin menyinggung perasaan Daniel.


"Tapi saya tulus Nyonya, saya tidak mengharapkan apapun dari apa yang saya berikan." Memang terdengar tulus tapi bagi Mia itu hanya alibi. Beruntungnya sang mamah menolaknya.


"Saya tau Dok, anda memang orang yang baik. Tapi sekali lagi, saya tidak bisa menerima bantuan begitu banyak. Mungkin jika dokter adalah keluarga itu wajar tapi hubungan saya dan dokter itu hanya sebatas pasien dengan dokternya, jadi saya menolak." Sebenarnya Emma sengaja berkata seperti itu untuk memancing maksud dan tujuan Daniel.


Sementara Mia sudah tersebar puas mendengar penolakan tegas dari mamahnya, benar kata mamahnya kalau sampai dia menerima bantuan itu pasti kedepannya Mia semakin tidak bisa menghindar dari Daniel.


"Mia, cepat kau urus uang gantinya." Emma menyuruh putrinya untuk segera mengganti uang dokter Daniel.


Mia mengerti dan segera mencari ponselnya untuk membuka aplikasi m-banking miliknya.


"Tuan, tolong kirimkan nomor rekening anda," pinta Mia.


Sementara Daniel sedang berperang dengan pikirannya, bagaimana kalau Mia mengembalikan uang yang ia berikan untuk membayar biaya rumah sakit mamahnya. Itu artinya dia tidak punya kesempatan untuk membuat Mia berhutang budi dan akhirnya tidak punya pilihan lain selain menikah dengannya.

__ADS_1


"Tuan...," panggil Mia lagi lagi, karena Daniel masih bergeming. Sambil menatapnya.


"Tidak usah dikembalikan," tegas Daniel.


"Tapi mamah saya tidak bisa menerimanya Tuan, apa anda tidak dengar tadi..."


"Saya akan menjadi anggota keluarga kalian, jadi tidak ada salahnya kalau saya membantu biaya operasi nyonya Emma."


Mulut Mia menganga lebar saat mendengar penuturan Daniel, tidak menyangka kalau pria itu berani mengatakan hal itu di depan keluarganya.


"Apa maksud anda Dok, anggota keluarga apa? Saya tidak mengerti," ujar Emma memancing Daniel.


Tiba-tiba saja tangan kanan Daniel menarik pinggang Mia hingga tak menyisakan jarak di antara mereka.


"Sebenarnya saya dan putri anda sudah saling suka dan ingin serius dalam menjalani hubungan kami, saya juga sudah melamar putri anda tapi katanya mau membicarakan hal ini pada anda setelah anda sembuh."


"Jadi Nyonya, saya mohon jangan menolaknya. Sebentar lagi saya akan menjadi menantu anda, itu artinya saya putra anda juga. Saya mohon ijinkan saya ikut menanggung beban Mia." Daniel mungkin mengarang cerita pada awalnya tapi mengenai ingin membantu meringankan beban Mia itu benar adanya.


Mia mulai mengembalikan kesadarannya agar dia tetap waras. Dia pun mencoba melepaskan diri dari rengkuhan pria itu, menghempaskan tangan yang melingkar tanpa permisi itu dengan kasar.


"Tuan anda jangan bicara sembarangan!" kesal Mia. "Sejak kapan kita punya hubungan, bahkan aku tidak bisa mengingatnya. Jadi tidak usah mengarang bebas disini." Mia mengelak karena memang mereka tidak pernah punya hubungan seperti itu.


Tapi siapa sangka kalau Daniel kembali mengembalikan keadaan.


"Maafkan aku sayang... Aku tau kau ingin menyembunyikan hubungan kita dari keluarga mu tapi aku tidak bisa sembunyi-sembunyi lagi , aku ingin kita segera menikah." Daniel memasang wajah memelas seolah Mia telah berlaku jahat.


Ingin rasanya Mia mendaratkan kepalan tangannya pada wajah tampan itu. Tidak ini bukan waktu nya untuk mengagumi wajah pria itu Mia. Geram rasanya, tanpa membicarakan apa-apa seenaknya pria itu membuat pengakuan seperti itu.


"Kau... cepat anda pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran. Dan saya tegaskan sekali lagi, kita sama sekali tidak ada hubungan apapun. Jangan mengganggu keluarga saya lagi, jalankan saja tugas anda layaknya dokter pada umumnya. Saya akan segera mengembalikan uang anda."

__ADS_1


Mia tidak habis pikir dengan pria itu.


"Sayang... kenapa kau berbicara seperti itu. Apa kau lupa kalau malam itu... Awww!!" Daniel mengaduh saat tiba-tiba Mia menginjak kakinya dengan sepenuh tenaga. Tatapan tajam pun ia terima.


"Sudah sudah kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini. Mia kau tidak boleh kasar seperti itu." Emma melerai mereka berdua yang berdebat tiada akhir.


"Maaf Tuan saya tidak sengaja tadi," ujar Mia bohong karena ia sengaja melakukan hal itu agar Daniel tak meneruskan ucapannya.


"Tidak apa-apa, aku tau kau tidak sengaja melakukan itu." Daniel melirik sengit, kalau bisa digambarkan mereka berdua itu sudah keluar tanduknya.


"Nak, apa benar yang dokter Daniel katakan kalau kalian adalah kekasih. Kenapa tidak memberi tau sejak awal, tidak usah menunggu sampai mamah sembuh untuk memberi tau hal yang membahagiakan ini." Sepertinya Emma sudah termakan omongan Daniel sepenuhnya.


"Mah tidak seperti itu, mamah salah paham. Kita tidak dalam hubungan yang seperti mamah kira." Aarrggghhh!! Mengesalkan sekali kenapa Emma harus mempercayai bualan Daniel.


"Lalu seperti apa nak? Coba ceritakan versi kamu biar kami tau. Dan bagaimana kalian saling kenal sampai akhirnya jatuh cinta."


Sontak Mia gelagapan, bagaimana dia menceritakan awal pertemuan mereka.


"Mah... bagaimana kalau tak usah membahasnya karena di antara kami memang tidak ada hubungan seperti itu. Dia hanya mengada-ada, lihatlah umurnya saja lebih muda dariku, mana mungkin dia menyukai ku dan kita jadi kekasih," elak Mia.


Ya Emma pun merasakan hal yang sama dengan yang diucapkan putrinya. Dimana dokter Daniel tampan dan mapan pasti banyak yang menyukainya dan kemungkinannya kecil untuk menyukai putrinya yang jauh lebih tua. Walaupun sebenarnya Mia sangat cantik jika tidak berdandan seperti itu.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2