
°°°
Di rumah sakit.
Kehebohan terjadi, semua perawat dan dokter dikumpulkan di sebuah aula. Mereka semua berbisik-bisik menebak apa yang akan dibicarakan oleh kepala rumah sakit.
Daniel juga sudah ada di sana, dia berbaris dengan para dokter lainnya. Sejak tadi dia juga sudah mendengar desas desus yang terjadi di sana.
"Selamat siang semuanya...," Paman Sam selalu kepala rumah sakit sudah berdiri di hadapan mereka semua.
"Kalian sudah mendengar bukan tentang bencana gempa bumi yang baru saja terjadi di kota A." Menjeda sejenak ucapannya lalu melihat para dokter dan perawat yang mulai menebak-nebak.
"Jadi kami meminta bantuan kalian semua, baru saja pemerintah mengeluarkan surat perintah untuk beberapa rumah sakit besar. Jadi kami harus mengirimkan beberapa relawan medis untuk membantu para korban yang berjatuhan akibat gempa."
"Saya tau kalau lokasi itu masih sangat berbahaya karena gempa susulan masih terus terjadi jadi saya tidak akan memaksa kalian. Hanya yang mau saja yang akan pergi, jika kalian mau silahkan menawarkan diri kalian tapi jika tidak pun tidak masalah." Paman Sam juga terlihat khawatir, bagaimana pun ini berhubungan dengan nyawa manusia. Dia tidak mau mengambil resiko kalau terjadi hal buruk pada bawahannya.
"Saya bersedia pak..."
"Saya juga."
__ADS_1
Beberapa perawat sudah mendaftarkan diri untuk menjadi relawan. Namun jumlahnya masih sangat sedikit, jauh dari yang dibutuhkan. Mereka masih berbisik dan menimbang. Ada juga yang mau meminta ijin keluarganya lebih dulu katanya. Ya benar juga karena itu hal yang berbahaya, kalau Keluarga tidak tau dan terjadi sesuatu akan merepotkan pihak rumah sakit.
"Baiklah, kalian pikirkan lebih dulu dan segera mendaftar jika bersedia. Lalu bersiap karena besok pagi sekali kita akan langsung berangkat ke lokasi." Paman Sam pun keluar dari aula, membiarkan para bawahannya menentukan sendiri, beliau tidak mau menunjuk seseorang karena tempat itu terlalu berbahaya.
Selepas kepergian para petinggi rumah sakit, para dokter, perawat dan juga tenaga medis lainnya mulai berkumpul dan berunding. Ada yang langsung mundur dengan berbagai alasan, ada yang mau bertanya dulu dengan keluarganya. Apalagi yang jadi tulang punggung keluarga pasti banyak pertimbangan.
Sementara Daniel, dia tidak berbincang dengan rekan-rekannya. Dia punya pertimbangan nya sendiri. Jiwa sosial nya begitu tinggi seperti mendiang kakeknya. Dari aula dia langsung menuju ke panitia yang mengatur berbagai bantuan rumah sakit yang akan di bawa ke tempat terjadinya bencana alam.
Daniel melangkahkan kakinya ke bagian pendataan tenaga medis yang akan ikut jadi relawan. Para petugas menunduk hormat saat melihat Daniel datang.
"Tolong catat namaku, aku akan ikut pergi besok."
"Dokter anda..."
"Tolong catat namaku, apa sudah?" tanya Daniel lagi.
"Itu Dok, anda tidak perlu pergi. Sudah banyak petugas yang ikut kesana." Alasan, itu hanya alasan. Bagaimana kalau dia mencatat nama Daniel lalu ada apa-apa dengan pria penting itu. Bisa habis riwayat nya.
"Tidak apa-apa, aku akan tetap ikut. Jangan khawatir, aku tidak akan menyusahkan kalian. Perlakuan aku sama seperti yang lainnya, tidak usah membedakan apapun nanti. Kita bukan mau piknik tapi mau menjadi relawan, mereka sedang membutuhkan kita sekarang."
__ADS_1
Petugas itu langsung mencatat nama Daniel, urusan yang lain nanti ia bisa tanyakan pada pemimpin rumah sakit itu. Biar mereka yang menentukan Daniel ikut atau tidak, dia hanya petugas yang tidak bisa mengubah apapun keputusan Daniel.
"Bagus, lanjutkan pekerjaan kalian. Aku juga akan bersiap. Oh iya, katakan jika ada yang kurang, pastikan kita datang kesana dengan perlengkapan dan obat-obatan yang lengkap." Daniel menepuk pundak petugas tadi lalu pergi dari sana.
Keikutsertaan Daniel untuk menjadi relawan, dalam hitungan detik sudah menyebar di seluruh penjuru rumah sakit. Para dokter dan perawat serta petugas lainnya yang tadi enggan jadi relawan pun merasa malu. Daniel saja yang notabene putra dari pemilik rumah sakit dan pengusaha ternama mau turun tangan membantu sesama. Tapi mereka yang bukan siapa-siapa malah tidak mau ikut serta dan mencemaskan banyak hal.
Dari sebagian orang yang sadar, mereka pun berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi relawan. Para petugas yang mengurusi bencana pun merasa senang.
Sam dan Daren yang mendengar Daniel ikut jadi relawan pun segera mendatangi pria itu di ruangannya.
Tok tok tok.
"Masuk," kata Daniel yang sedang mengemasi barang-barangnya.
"Daniel, paman dengar kau mendaftarkan diri untuk jadi relawan. Apa itu benar?"
"Niel, di sana sangat berbahaya. Apa kau mau istri mu jadi janda dalam waktu singkat." Daren bicara asal, yang langsung mendapat pukulan keras di pundaknya oleh sang ayah.
PLAK!!!
__ADS_1
°°°