
°°°
Semuanya sudah selesai diperiksa, keadaan Zoro sudah yang semakin baik dan hari ini resmi sudah diperbolehkan pulang. Seharusnya ini adalah hal yang paling menyenangkan bagi siapa saja yang sakit, mereka pasti rindu rumah dan ingin segera pulang. Namun, hal itu tidak berlaku untuk bocah kecil itu yang malah terlihat murung setelah dokter mengatakan kalau dia boleh pulang.
"Mah, aku mau ke ruangan suamiku dulu sebelum pulang," pamit Mia pada mamahnya.
"Iya nak, apa perlu mamah temani?"
"Tidak perlu Mah, disini saja temani Zoro. Nanti aku kembali lagi," ujarnya seraya bangun, lalu menghampiri Lucy. "Sepertinya ada sesuatu yang membuat Zoro tidak senang, coba kau tanyakan. Oh iya aku pergi dulu."
"Eh iya nona." Lucy pun merasakan hal yang sama. Sejak tadi putranya diam saja, tidak seperti biasanya yang antusias setiap kali ada Mia atau pun yang lain.
"Bicaralah pada putramu, aku akan keluar sebentar." Mamah Emma memberikan mereka ruang untuk berbicara berdua.
Lucy yang hampir selesai berkemas pun menghampiri putranya yang sejak tadi memandang ke luar jendela.
"Sayang... apa anak mami senang karena kita mau pulang? Oma nenek pasti sudah sangat merindukan mu," ujar Lucy seraya membelai kepala putranya.
"Iya Mi, Zo mau lang... mau acih tau nenek nan Zo yang anyak." Bocah itu tersenyum sesaat tapi kemudian meredup lagi.
"Zoro kenapa, sayang?" tanya Lucy, hatinya ikut sakit melihat sang putra bersedih.
__ADS_1
"Mi... apa Zo Ndak bisha betemu angkel dotel lagi?" tanya Zoro dengan wajah polosnya yang penuh harap.
Inilah yang Lucy takutkan jika putranya terlalu dekat dengan seseorang. Apa yang harus dia jelaskan pada bocah sekecil itu. Hanya pelukan yang bisa beri sebagai jawaban.
"Sayang... maafin mami. Maafin mami karena tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan." Batin Lucy ingin menjerit. Putranya yang tidak bersalah dan tidak berdosa kenapa harus mengalami semua ini. Laki-laki itu mengapa begitu keterlaluan, tidak bisakah dia sekedar memperlihatkan batang hidungnya agar sang putra senang. Sungguh Lucy tidak ingin apapun, ia hanya ingin mantan suaminya suatu saat datang dan memeluk Zoro agar sang putra bisa merasakan sebentar saja rasanya punya ayah.
Lalu kenapa Lucy tidak menikah lagi saja. Tentu saja dia mau dan memberikan putranya keluarga yang lengkap. Namun sayangnya, kebanyakan dari mereka yang coba mendekat merasa keberatan atas keberadaan Zoro, apalagi saat tau putranya sakit-sakitan dan otomatis harus membiayai pengobatan putranya.
'Maafin mami nak...' Lucy hanya bisa menghujani putranya dengan ciuman tanpa berucap.
"Mi... Napa mami sedih? Apa Zo nakal?" Jari jemari mungil itu mengusap pipi Lucy yang basah.
"Tidak sayang, Zo anak yang baik. Mami tidak sedih, ini mami senyum." Berusaha melengkungkan bibirnya agar sang putra tidak merasa bersalah.
Mamah Emma yang melihat dari dekat pintu hanya bisa melihat tanpa bisa membantu. Pemandangan itu sungguh membuat siapa saja yang melihat pasti akan ikut merasakan bagaimana kepedihan mereka. Peliknya hidup harus dirasakan oleh Zoro sejak ia lahir. Berharap mempunyai ibu dan ayah yang menyayangi dan mencintai nya tapi nyatanya semua itu hanya angannya saja.
Coba saja mamah Emma punya anak laki-laki pasti ia sudah menjadikan Lucy sebagai menantu.
Mia yang hendak ke ruangan suaminya tak sengaja bertemu dengan Daren. Dia tau seberapa dekat pria itu dengan Zoro karena beberapa kali melihat mereka saat ia datang. Kata Felice juga, Zoro kerap kali mencari Daren kalau pria itu tidak datang berkunjung.
Didekati nya pria itu yang tampak termenung sendiri sambil duduk di salah satu bangku yang ada di lorong rumah sakit. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Mia saat sudah ada tepat di hadapan Daren.
__ADS_1
"Kakak ipar, kau disini? Apa kau mencari suami mu, dia ada di ruangan nya." Cukup terkejut tapi kemudian duduk lemas lagi.
"Ya aku mencarinya tapi aku juga ingin bicara dengan mu." Bernada serius.
Daren menoleh, dia pikir Mia akan menyuruhnya apa karena biasanya memang seperti itu. "Ada apa kakak ipar, aku sedang malas sebaiknya kau suruh yang lain saja."
Plak. Mia menepuk lengan Daren cukup kencang.
"Apa kau pikir aku mencari mu hanya untuk itu!" Mengerutkan keningnya. "Aku mau bicara soal Lucy dan putranya," ujar Mia.
Pria itu cukup tertarik sepertinya, dilihat dari ekspresi wajah nya tapi kemudian pura-pura tak peduli lagi.
"Ohh, kenapa dengan mereka. Bukankah hari ini mereka pulang?"
"Iya benar, lalu kenapa kau masih diam saja disini? Bukannya seharusnya kau melakukan sesuatu." Mia gemas.
"Melakukan apa? Aku ikut senang kalau bocah itu sudah sehat."
"Bukannya kau harus menemui nya sebelum mereka pergi. Apa kau tidak kasihan pada Zoro, dia sepertinya sangat dekat dengan mu."
Daren menggeleng, mencoba menyangkal apa yang ia rasakan. "Tidak terlalu dekat juga, sama seperti pasien yang lain. Atau mungkin karena darahku mengalir dalam darah nya jadi dia merasa seperti itu."
__ADS_1
"Terserah kau saja, jangan menyesal lagi nantinya." Mia menepuk bahu Daren mengingatkan. Bahwasanya pria itu kemarin sudah kehilangan Felice, apa kali ini juga akan kehilanganmu Lucy.