Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
58. Obrolan


__ADS_3

°°°


Obrolan mereka berlanjut hingga lebih saling mengenal. Setidaknya saat menikah nanti mereka tidak seperti menikah dengan orang asing. Masih ada waktu untuk saling mengenal lebih dekat. Tidak perlu buru-buru, pelan-pelan saja karena butuh waktu untuk saling memahami dan menerima.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu, mungkin ini sedikit privasi. Tapi karena kita akan menikah jadi lebih baik kita saling memberitahu kalau memang ada seseorang yang sedang kau sukai saat ini atau mungkin kau sedang berpacaran dengan seseorang."


"Tidak ada, aku tidak sedang menyukai siapapun dan sedang tidak punya hubungan dengan siapapun," jawab Mia apa adanya. Karna memang seperti itu adanya.


Daniel justru tertawa renyah, tidak menyangka kalau Mia akan menjawab secepat itu. Ia kira wanita perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaannya.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau menertawakan ku karena tidak mempunyai kekasih?" tanya Mia. Aahh dia memang sudah biasa ditertawakan bukan, tapi rasanya mengesalkan saat laki-laki itu yang menertawakannya.


"Bukan itu, maaf maaf aku sedang menertawakan diri ku sendiri. Aku kira kau tak akan menjawab atau perlu waktu yang lama untuk menjawab," ujar Daniel, dia menyeka sudut matanya yang berair.


"Mungkin karena pekerjaan ku jadi aku selalu menjawab dengan praktis." Sedikit mengedipkan bahunya dan kembali menengadahkan.


Kau unik Mia... tak seperti para wanita yang pernah aku temui sebelumnya.


"Bagaimana denganmu? Begitu banyak wanita yang mau menjadi kekasih mu, adakah yang kau sukai di antara mereka?" tanya Mia, mata coklatnya menatap Daniel dengan berani. Terbiasa berhadapan dengan saringan bisnis tuan Alex membuatnya terlihat tangguh.


"Tidak ada, aku pun sama tidak sedang menjalin hubungan dengan wanita manapun. Aku bahkan sudah lama tidak berpacaran," ujar Daniel mengalihkan pandangannya, menatap mata Mia terlalu lama membuatnya merasa kalah.


"Apa kau tipe orang yang susah move on, kau masih mencintai masa lalumu?" tanya Mia yang penasaran. Ternyata mengetahui lebih banyak tentang Daniel membuat nya tertarik.


Daniel menggeleng, "Mungkin awalnya iya, aku tidak bisa melupakan cinta pertama ku sekaligus orang pertama yang berhasil mematahkan hatiku. Aku kira kemarin masih mengharapkannya kembali tapi setelah melihatnya lagi bukan itu yang aku rasakan." Berhenti sejenak, beralih menatap Mia yang sedang memperhatikannya.


"Ternyata lukaku itu sudah cukup lama aku biarkan, aku ingin berdamai dan menghilangkan lukaku. Aku sudah tidak terlalu marah saat melihat nya dengan pasangannya sekarang, saat kamu hadir bahkan aku sudah tidak memikirkannya lagi."

__ADS_1


Entah ucapan Daniel benar atau tidak dia berhasil membuat Mia tersanjung. Tapi buru-buru Mia menepis perasaan itu, dia tidak ingin berharap terlalu banyak lagi pada seseorang. Kalau pun nanti saat sudah menikah Daniel jatuh cinta pada wanita lain, lebih baik ia mengalah bukan karena memang seharusnya begitu.


"Seperti perjanjian kita kemarin, jika ada yang jatuh cinta pada orang lain maka bicaralah. Jangan berselingkuh di belakang," ujar Mia.


"Iya aku tau tapi aku harap itu tidak terjadi." Ya ia harap pernikahan mereka hanya sekali, tidak untuk main-main atau berkelana dalam pencarian lagi. Bukannya lebih bagus belajar mencintai pasangan kita dari pada mencari yang tidak ada.


Biar waktu yang menjawab apakah pernikahan ini akan selama atau hanya sementara saat mereka saling membutuhkan saja. Tapi dibalik itu semua banyak doa dan harapan dari orang-orang terdekat mereka.


Dari orang asing yang tak saling mengenal, dipertemukan oleh takdir. Mungkin pertemuan mereka memang takdir atau mungkin juga hanya kebetulan.


Jika kau percaya takdir maka semua yang terjadi termasuk pertemuan mereka adalah takdir, tapi jika kau tidak percaya takdir maka pertemuan mereka hanya sebuah kebetulan.


,,,


Hari pernikahan semakin dekat. Semua orang pun semakin sibuk. Walaupun semua bisa di serahkan pada pihak wedding organizer tapi nyonya Tania tetap ikut serta dalam memilah segala hal. Dia ingin pernikahan putra satu-satunya tidak sembarang. Harus yang terbaik dari segala hal.


"Tidak bisa begitu dong Dad, ini pernikahan putraku satu-satunya. Aku ingin terlibat mengurus semuanya, memastikan semuanya berjalan dengan baik." Tania melanjutkan lagi memilih yang tepat.


"Tapi aku tidak ingin kamu kelelahan dan melupakan ku." Alex bermanja-manja pada istrinya, laki-laki itu memang masih sangat suka melakukan hal itu. Mungkin itu juga yang membuat hubungan mereka terlihat harmonis.


"Tidak mungkin aku melupakan mu, Dad. Aku sudah menyiapkan sarapan di bawah, ayo kita sarapan," ajak Tania.


"Ayo." Mereka bergandengan tangan turun ke bawah, tidak terasa sebentar lagi putra mereka akan menikah.


Mommy Tania bahkan masih mengingat bagaimana dulu saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah ini. Saat baru menikah dengan suaminya, dan semua kenangan indah masa muda mereka dulu. Masa-masa manisnya mengecap madu.


Sekarang bukan lagi giliran mereka karena akan ada Daniel yang akan membawa istrinya ke rumah itu.

__ADS_1


"Terimakasih karena sudah mau menerima Mia, mom." Dad Alex menatap istrinya yang masih terlihat cantik di usia yang tak lagi muda.


"Aku tidak terima pun, kau pasti akan tetap membuat mereka menikah. Ya apa salahnya menerimanya, mungkin memang dia yang ditakdirkan untuk jadi pendamping hidup putra kita." Mom Tania mengambilkan makanan untuk suaminya barulah ia sendiri yang makan.


"Oh iya, nanti siang aku akan mengajak Mia dan Daniel untuk fitting baju pengantin mereka di butik langganan ku. Boleh kan Dad?" tanya mom Tania.


"Tentu saja, nanti aku akan memberitahu Mia di kantor," ujar dad Alex.


"Kenapa kau tidak memberinya libur dad, biarkan Mia membantu ku memilih untuk pernikahan mereka. Pilihannya pasti bagus, dia pasti sudah biasa mengurus pesta di perusahaan kan." Ide mom Tania cukup bagus sepertinya dan dad Alex juga setuju. Mungkin hanya hari ini saja Mia bekerja, besoknya Alex akan menyuruhnya libur.


"Aku berangkat dulu, nanti mommy ke kantor atau kalian ketemu di butik?" tanya Alex seraya mengambil tas yang istrinya bawa.


"Nanti aku akan menjemput Mia ke kantor," ujar Tania.


"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu." Alex mendekatkan wajahnya dan mencium kening istrinya sebelum masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati Dad."


Siapapun yang melihat pasangan itu pasti iri, bagaimana mereka yang sudah melewati bahtera rumah tangga begitu lama masih semesra itu sampai sekarang. Bersyukur Tania punya suami yang begitu mencintai nya apa adanya.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍


Gomawo 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2